Pendahuluan
Perguruan tinggi seperti yang kita kenal sekarang adalah hasil perkembangan di Eropa sejak abad ke 12-13 yang berpusat di daerah yang dikenal sekarang sebagai Italia, Perancis, Jerman dan Cekoslowakia. Pada permulaannya perguruan itu berpusat di biara-biara dan intinya tentulah agama dan filsafat kerohanian. Kebutuhan akan perhitungan hari-hari agama dan pelayanan terhadap jemaat menyebabkan perkembangan yang sejajar pula dari matematika, astronomi dan ilmu kedokteran. Baru pada abad terakhir ini ruang lingkup pendidikan tinggi itu makin meluas dengan makin kompleksnya keadaan lingkungannya. Terutama sesudah Perang Dunia Kedua jumlah disiplin makin bertambah dan batas antar disiplin makin mengabur.
Kalau pada mulanya pendidikan tinggi itu hanya berkisar pada beberapa biarawan sebagai “pengajar” dan calon rohaniwan sebagai “mahasiswa” lambat laun pendidikan itu juga terbuka untuk orang luar dan berkembang menjadi studium generale di mana pengikutnya datang dari seluruh penjuru Eropa. Studium generale ini berkembang mengikuti dua pola dasar. Pola pertama yang berkembang di Italia merupakan universitas studiosorum di mana intinya adalah para mahasiswa (studiosorum) yang berkumpul dan mencari guru yang mereka perlukan. Pola kedua yang berpusat di Perancis ialah pola universitas magistrorum di mana para orang pandai (magister) berkumpul dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk belajar dari mereka. Akhirnya pola kedua, universitas magistrorum, yang berkembang terus, juga di Italia dan negara Eropa lainnya. Lewat negara-negara Eropa inilah tradisi yang sama dibawa ke benua-benua lainnya, juga ke Indonesia kita ini. Dengan demikian sejarah pendidikan tinggi di negara kita ini belum lama. Dengan sengaja dalam uraian ini tidak dibicarakan pendidikan yang bersifat, atau lebih tepat yang bermutu tinggi yang terdapat di masa lalu di daerah yang sekarang dikenal sebagai Sumatera Selatan, Aceh, Sumatera Barat dan Jawa yang lebih mengutamakan pendidikan di bidang agama dan filsafat kerohanian, seperti juga yang terdapat di Eropa pada permulaannya. Alasan terutama ialah bahwa pendidikan ini terputus di tengah jalan dan secara institusionil hilang dari bumi Indonesia sesudah penjajahan Belanda. Dengan demikian, pendidikan tinggi dalam pengertian sekarang dimulai dengan Sekolah Dokter Jawa yang lambat laun menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) dan akhirnya menjelma menjadi Geneeskundige Hogeschool (GHS).
Di zaman penjajahan Belanda, di samping GHS ini masih ada dua perguruan tinggi lagi, yaitu Rechtshogeschool (RHS) juga di Jakarta dan Technische Hogeschool (THS) di Bandung. Baru sesudah negeri Belanda diduduki Jerman, di Indonesia dibuka pula fakultas-fakultas pertanian di Bogor, serta sastra dan filsafat di Jakarta. Kedua perguruan terakhir ini sudah dinamakan fakultas karena direncanakan dalam waktu yang tidak begitu lama akan dibuka suatu Universitas yang akan berintikan tiga perguruan tinggi yang sudah ada dan kedua fakultas yang baru didirikan itu.