Joel S. Migdal. Petani, Politik, dan Revolusi: Tekanan terhadap Perubahan Politik dan Sosial di Dunia Ketiga. Princeton, New Jersey: Princeton University Press, 1977.
Sudah cukup banyak studi yang bersifat komprehensif, dari berbagai disiplin, yang membuktikan betapa proses perkembangan ekonomi—baik dalam artian sempit industrialisasi maupun artian luas modernisasi—yang terjadi sejak Revolusi Industri dimulai di Inggeris, telah menimbulkan kemerosotan peranan masyarakat tradisionil yang makin bertambah cepat. Sebagai akibatnya: peranan golongan petani, di mana saja terjadi pertumbuhan ekonomi, juga makin menciut. Sebagai gantinya, peranan masyarakat moderen makin meningkat; dan sejajar dengannya, meningkat pula peranan golongan buruh industri, pedagang, pengusaha—pokoknya, golongan masyarakat kota.1¹
Begitu meyakinkan hasil-hasil penemuan studi-studi tersebut sehingga, secara formil dalam model-model yang abstrak, para latecomers di Dunia Ketiga menerima saja hipotesa bahwa proses-proses tersebut bersifat “one-way,” menurut sebuah perspektif waktu jangka panjang yang linear, yang bertahap, dan berkaitan secara konsisten satu sama lainnya. Penggambaran Rostow tentang “stages of economic growth,” misalnya, meyakinkan banyak para perencana di Dunia Ketiga tentang pola dan sifat yang deterministis daripada proses pertumbuhan itu.2²
Implisit dalam penggambaran semacam ini adalah asumsi bahwa masyarakat tradisionil, atau golongan petani di pedesaan, akan mengambil posisi pasif; sedangkan masyarakat moderen mengambil posisi aktif, malah agresif, selama pertumbuhan itu berjalan. Begitu tertanamnya pandangan teoritis ini dalam berbagai disiplin, juga para perencana di Dunia Ketiga, sehingga dengan mudahnya pandangan terfokuskan kepada pihak yang berposisi aktif. Lebih logis, memang, dan lebih strategis pula bila di muka situasi yang serba terbatas di Dunia Ketiga—terbatas sumber ekonomi, terbatas waktu dan tenaga, dan sebagainya—fokus perhatian ditujukan kepada aktor-aktor yang secara aktif berusaha mengubah keadaan, juga kepada “primum mobile” yang menjadi penggerak perubahan tersebut.
1 Lihat: Simon S. Kuznets, Menuju Teori Pertumbuhan Ekonomi dengan Refleksi tentang Pertumbuhan Ekonomi Negara-negara Modern, (New York: W.W. Norton, 1968); atau, David E. Apter, Politik Modernisasi, (Chicago: University of Chicago Press, 1965).
2 Lihat: Walt W. Rostow, The Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto, (London: Cambridge University Press, 1960).