Prisma

Kedudukan Politik dalam Olahraga

Pengantar

Enam belas tahun yang lalu ketika di Jakarta diselenggarakan Asian Games IV, Indonesia dicaci maki oleh dunia olahraga internasional karena pemerintah tidak memberikan visa kepada kontingen Israel dan Taiwan. Timbullah peristiwa Sondhi. Bahkan Komite Olympiade Indonesia sebagai Komite Olimpiade Nasional Indonesia langsung dijatuhi schorsing oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) dan Asian Games IV itu tidak diakuinya. Bahkan Asian Games Federation pun nyaris membatalkan pengakuannya terhadap Asian Games IV. Hanya karena solidaritas dan simpati sejumlah “kawan” dalam Asian Games Federation hal itu dapat dihindarkan.

Empat belas tahun kemudian peristiwa yang hampir sama terjadi di Montreal, Kanada, pada saat negara tersebut akan menjadi tuan rumah Olympic Games XXI pada tahun 1976. Taiwan tidak diizinkan masuk Canada karena mereka tidak ingin melepaskan nama Republik Tiongkok. Hanya bedanya caci maki yang dialamatkan kepada Pemerintah Canada tidaklah segencar yang diterima Indonesia pada tahun 1962 dan Asosiasi Olimpiade Kanada pun tidak diskors oleh IOC dan Olimpik Montreal juga tetap diakui sebagai Olympic Games XXI yang sah.

Peristiwa itu disusul dengan protes negara-negara Afrika terhadap IOC karena Selandia Baru tetap diizinkan turut meskipun sudah mereka protes karena negara ini mengizinkan perlawatan tim rugby-nya ke Afrika Selatan yang dikutuk itu. Akibatnya sekitar 24 negara Afrika menarik diri dari Olympiade Montreal dan pulang.

Orang mungkin kemudian bertanya, mengapa terjadi perbedaan perlakuan oleh pihak IOC terhadap Indonesia pada tahun 1962 dan terhadap Canada pada tahun 1976. Apakah karena Indonesia termasuk negara berkembang (baca=miskin) dan Canada adalah negara maju yang kuat ekonominya? Alasannya tidaklah persis demikian, tetapi memang ada pengaruh dari politik “ekonomi” IOC.

Namun, yang ingin kita teropong dari 2 peristiwa tersebut sebenarnya ialah ada tidaknya pengaruh politik pada kedua peristiwa olahraga tersebut dan bagaimanakah kecenderungannya. Apakah pengaruh politik dalam olahraga itu semakin mendalam atau sebaliknya?

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan