Suatu pembicaraan mengenai dialog antar agama nampaknya hanya bisa dimulai dengan mengandaikan adanya keterbukaan sebuah agama terhadap agama lainnya. Masalahnya mungkin baru timbul, bila kemudian mulai dipersoalkan secara terperinci apa yang dimaksud dengan keterbukaan, segi-segi mana dari suatu agama yang memungkinkannya terbuka terhadap agama lain, pada tingkat mana keterbukaan itu dapat dilaksanakan atau ditolerir, dan juga dalam modus yang bagaimana keterbukaan itu dapat dilaksanakan. Dengan lain perkataan, perlu dirumuskan juga batas-batas kemungkinan keterbukaan tersebut.
Dengan titik tolak seperti itu kita sebetulnya telah mengambil arah untuk berbicara tentang agama dari beberapa sudut tinjauan dengan akibat bahwa perkataan agama pun akan berubah konotasi dan tekanan artinya dari tiap sudut penglihatan tersebut. Saya sama sekali tak bermaksud mengajukan beberapa model teoritis dalam membicarakan agama. Yang dicoba diusahakan adalah mencari kemungkinan bagaimana dengan menerima dan menghayati suatu agama — yang berarti juga menerima dibatasi oleh ketentuan-ketentuan dan sistem nilai agama tertentu — seorang atau sekelompok orang, dalam kualifikasi yang sebagai orang beragama dapat berdialog dengan kelompok orang dari keyakinan agama lainnya. Karena itu yang akan mendapat perhatian dalam tinjauan ini bukanlah bagaimana agama sebagai suatu sistem substansial dengan ajaran, doktrin dan kewajiban-kewajibannya melihat persamaannya dan perbedaannya dengan suatu agama lain, tetapi bagaimana agama menjadi jalan dan sebab seseorang atau sekelompok orang yang berperasaan.
Dikhotomi yang dibuat oleh sementara psikolog agama, antara agama sebagai agama, dan agama sebagai yang dihayati dalam kesadaran para penganutnya, barangkali tidak akan diperhatikan dalam tulisan ini.1 Sebab bagaimana pun agama sebagai suatu entitas abstrak — yaitu yang dilepaskan sama sekali dari kenyataan bagaimana dia dihayati — adalah sangat sulit dibayangkan. Karena, bila agama dilihat sebagai suatu realitas manusia — yang muncul sebagai akibat pergulatan manusia dengan seluruh lingkungannya — yang berarti agama adalah suatu hasil kebudayaan juga.2 — maka pengandaian suatu agama sebagai entitas abstrak, adalah suatu pengandaian yang juga secara metodologis tidak berguna.
1 Ignace Lepp misalnya dalam studiyna mengenai atheisme, mengatakan: “We intend to give but the briefest analyses of the various theories of atheism and then only to the extent that these theories are relevant to the psychic framework of a given category of unbelievers. Our aim is not to study atheism but atheists.” Lihat: Atheism In Our Time: A Psychoanalyst’s Dissection of The Modern Varieties of Unbelief, transl. By Bernard Murchland CSC, Toronto: The MacMillan Company, 1969), hal. 15.
2 Ada ahli yang berbicara tentang “religion and culture” seperti misalnya dibuat oleh Christopher Dawson dalam karyanya: Religion and Culture, (Cleveland: Meridian Books Inc., 1959). Akan tetapi ada pula ahli yang menegaskan bahwa “Religion is culture, sharing some of the same characteristics as the other elements of culture but also containing unique characteristics of its own”. Lihat Glenn M.