Prisma

Neraca Pembayaran Luar Negeri

Sektor luar negeri dalam perekonomian kita sampai saat ini masih menunjukkan peranannya yangsangat penting. Hal ini ditunjukkan dengan indikator-indikator berikut.

-Semenjak dahulu ekspor merupakan komponen pendapatan nasional yang relatif besar. Angka banding atau rasio antara nilai ekspor dengan nilai PDB (= pendapatan domestik bruto) untuk perekonomian kita menunjukkan nilai yang relatif tinggi dan mempunyai tendensi untuk meningkat. Untuk tahun 1971, misalnya, angka banding tersebut menunjukkan angka setinggi 0,16 apabila dipergunakan data dengan harga konstan tahun 1973. Untuk tahun 1976 angka tersebut telah meningkat menjadi 0,18. Tingginya komponen ekspor dalam pembentukan GDP pada umumnya dianggap membawa sifat sensitifnya perekonomian terhadap kegoncangan-kegoncangan yang terjadi di pasar dunia. -Sensitifnya perekonomian kita terhadap kegoncangan-kegoncangan yang terjadi di pasar dunia memiliki tendensi untuk diperhebat oleh kenyataan bahwa ekspor kita sampai sekarang masih terpusat hanya kepada beberapa komoditi saja. Untuk tahun 1976/1977 misalnya, dari seluruh nilai ekspor yang berjumlah US$9.213 juta, lebih dari 88%-nya berupa minyak bumi dan hasil-hasilnya, kayu, karet dan kopi. -Sektor perdagangan luar negeri kita sangat besar peranannya dalam usaha stabilisasi harga dalam negeri. Angka-angka statistik tahun 1976 misalnya, menunjukkan bahwa 29,6% dari jumlah impor berupa barang-barang konsumsi, di mana 29,5%-nya berupa beras. -Sektor luar negeri perekonomian Indonesia juga besar peranannya terhadap penerimaan pemerintah. Untuk tahun anggaran 1976/1977 misalnya, realisasi penerimaan pemerintah hanya dari pajak penjualan impor, bea masuk dan pajak ekspor sudah merupakan 14,5% dari seluruh penerimaan pemerintah dari sumber-sumber dalam negeri.

Peranan sektor luar negeri dalam perekonomian kita dapat pula dilihat dari Repelita kita. Dari Repelita II, misalnya, dapat kita saksikan bahwa dari investasi yang direncanakan berjumlah antara 19,1% dan 22,9% dari pendapatan nasional kita, alat-alat modal yang perlu diimpor meliputi jumlah antara 35,4% dan 48,7% dari seluruh investasi nasional tersebut. Kalau bahan baku dan bahan penolong kita masukkan ke dalam perhitungan, maka angka persentase tersebut adalah antara 78,2% dan 92,4%. Lebih lanjut dapat ditambahkan bahwa dari segi pembiayaan, meskipun peranan sektor luar negeri telah banyak berkurang, belum dapat dikatakan bahwa anggaran pembangunan kita sudah terlepas sama sekali dari ketergantungannya pada sumber-sumber modal luar negeri. Kalau dalam Repelita I dari nilai anggaran pembangunan negara sebesar Rp 1.163,9 milyar diharapkan 60% dibiayai dari dana bantuan luar negeri, untuk Repelita II dengan anggaran pembangunan negara sebesar Rp 5.249,2 milyar hanya kira-kira 20% dibiayai dari dana bantuan luar negeri. Untuk Repelita III nanti dapatlah diramalkan bahwa indikator ketergantungan kepada sumber dana bantuan luar negeri akan terus mengecil, meskipun mengecilnya tidak akan secepat pada Repelita I dan Repelita II.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan