Pendahuluan
Pelita II telah memasuki tahun terakhirnya dan Pelita III berada di ambang pintu. Suatu kebiasaan, dalam suatu peralihan periode kerja, orang ingin mengevaluir hasil kerja masa lalu untuk dijadikan dasar pengalaman pada tindakan di masa datang. Tulisan ini dimaksudkan untuk menengok hasil kerja masa lalu, dan akan mencoba menerawang apa kiranya yang akan dilaksanakan pada periode kerja yang akan datang dengan menggunakan beberapa data yang ada pada saat ini. Dalam usaha menerawang kondisi industri untuk Pelita III, digunakan pendekatan kwalitatif dan akan lebih banyak ditekankan pada penyorotan aspek kebijaksanaan daripada angka-angka hasil produksi dalam Pelita III.
Guna mendapatkan kesimpulan-kesimpulan kondisi industri pada masa lalu, akan dicoba dikemukakan beberapa data dan pendapat dari penulis-penulis lain yang telah mengulas dan mengupas persoalan-persoalan yang terdapat dalam dunia industri kita; sedangkan untuk menerawang apa kiranya yang akan terjadi pada Pelita III akan disoroti berbagai kebijaksanaan yang diambil pemerintah menjelang Pelita III dimulai.
Beberapa persoalan
Memetik pengalaman pembangunan industri selama Pelita yang lalu, ada beberapa persoalan yang sering diungkapkan dan menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Persoalan laju pertumbuhan sektor industri dalam kaitannya dengan produk domestik bruto mencirikan adanya persoalan sektor industri yang patut untuk diperhatikan guna diberi tindakan-tindakan penyesuaian yang tepat pada Pelita III. Hubungan sektor industri dan sektor pertanian merupakan masalah yang patut diulas karena keserasian dua sektor ini selalu didambakan dalam suatu pembangunan ekonomi. Ketimpangan dalam laju pertumbuhan untuk berbagai cabang industri merupakan problema intern dalam bidang industri karena hal tersebut akan menyangkut persoalan pertumbuhan sektor industri secara keseluruhan. Hubungan antar skala industri, yaitu industri besar, sedang dan kecil, merupakan penyebab berhasil atau tidaknya perataan hasil pembangunan industri itu sendiri. Motivasi berinvestasi – sehingga dalam masyarakat dikenal adanya penyakit “latah” dalam menanamkan modal – merupakan penyebab timbulnya persaingan yang tidak sehat dalam tubuh pembangunan industri. Kurangnya unsur pendukung oleh industri-industri kaitan belakang (backward linkage) menyebabkan industri kita tidak mampu bermandiri dan menerima adanya fluktuasi harga di luar negeri sebagai penyebab macetnya pengembangan industri tersebut.
Demikian juga dengan persoalan-persoalan lain yang terikat dalam pembangunan industri merupakan indikator dari kebijaksanaan-kebijaksanaan di bidang industri pada masa lalu. Ini semua patut disoroti agar secara sadar dan tepat dicarikan jalan keluarnya untuk memantapkan pembangunan industri selama Pelita III nanti.