Prisma

Identitas

Seorang mencapai kepenuhan pribadi bilamana dia mampu mengenal dirinya sendiri. Berdasarkan itu dia memastikan langkah demi langkah dalam hidupnya. Dan setiap langkah memastikan siapa dia sebenarnya. Sebaliknya, krisis akan menghantuinya bilamana sampai seorang tidak lagi tahu siapa dia sebenarnya. Tentang dirinya dia berbicara terlalu besar. Atau dia berbicara terlalu kecil. Tidak kurang tragedi berasal dari sini. Mungkin karena itulah orang Yunani dan Romawi kuna menganggap begitu penting seorang mengenal dirinya. Kebudayaan dan filsafatnya menganjurkan dan bahkan memerintahkan: cognosce te ipsum! Kenallah dirimu sendiri!

Bahasa Indonesia mungkin termasuk salah satu bahasa yang memiliki kosa kata khusus untuk itu dan sekaligus mencerminkan kesadaran moral-sosial yang tinggi. Mereka yang gagal mengenal diri dan karena itu tidak tepat mengumumkan siapa dirinya akan mendapat sanksi masyarakat: dia tidak tahu diri! Ini sepadan artinya dengan tidak memiliki rasa kepantasan, rasa kesantunan. Semuanya hanya punya satu tujuan yaitu setiap orang seharusnya mengumumkan secara tepat siapa dirinya dalam tingkah-laku sosialnya. Pengumuman yang tepat tentang diri sendiri kita sebut identitas.

Yang berlaku bagi orang pribadi berlaku pula bagi sekelompok orang dalam masyarakat. Dan mungkin lebih khusus lagi akan berlaku bagi sekelompok orang yang tergolong dalam kelompok etnis. Kelompok etnis telah memiliki dan mewarisi seluruh perlengkapan yang sudah terbukti mampu mengumumkan siapakah mereka sebenarnya. Semua nilai-nilai sosial dan budayanya telah menggumpal menjadi sarana-sarana yang menentukan apa identitasnya. Mungkin dari sanalah lahir pemeo-pemeo: Ambillah kudanya, dan dia bukan orang Kozak lagi. Yang serupa bisalah diberikan kepada suku bangsa Badjo: Musnahkan perahunya, dan mereka bukan orang Badjo lagi. Kuda dan perahu sudah jadi satu dengan orangnya.

Namun yang menjadi soalnya adalah apakah identitas itu pada hakekatnya tetap, tak berubah, permanen. Ataukah seperti dikatakan oleh seorang penulis identitas itu berubah-ubah menurut citra kepribadian sebagai the journeying self? Diri yang berjalan, beriarah. Sehingga identitasnya adalah hasil dari berbagai pengalaman sosial yang tergantung dari pertemuan dengan unsur yang baru atau tergantung dari apa yang ditinggalkan. Dia menurut berubah tantangan yang ditemui dan jawaban yang diberikan.

Tetapi di sini soalnya. Tantangan jenis manakah yang mampu ditahan? Dan jawaban jenis manakah yang sesuai? Iran bisalah menjadi contoh paling mutakhir. Tragedi Syah Iran adalah karena dia mencoba mengganti identitas rakyat Iran dengan sesuatu yang asing. Sebaliknya, kecemerlangan Jepang tercermin dalam kemampuan mencaplok teknologi Barat tanpa kehilangan identitas putera-puteri Amaterasu.

Tantangan serupa ditemukan kelompok-kelompok budaya kita. Kelompok-kelompok tersebut selama ini mengenal dirinya dan mampu mengumumkan siapa dirinya. Bahkan ratusan tahun membuktikan daya tahannya. Namun dalam perjalanan sebagai the journeying self mereka telah bertemu dengan modernisasi dengan ungkapan paling sempurna dalam kebudayaan kota yang agresif dan berkemampuan melindas identitas kebudayaan lokal.

Lantas timbul keraguan moral: antara mempertahankan “keterbelakangan” atau membawa masuk modernisasi yang memporak porandakan identitas kultural mereka. Keraguan moral ini tampak jelas dalam pandangan G.T. Sargeant tentang suku Badui: “Orang Badui butahuruf, sehingga mereka harus disekolahkan. Mereka animis, sehingga haruslah diperkenalkan agama. Namun memaksakan perubahan bagi mereka yang secara tangguh selama 400 tahun membuktikan kemampuan menentang perubahan adalah salah dan bodoh. Salah, karena, mereka akan musnah sebagai masyarakat. Bodoh, karena Indonesia kehilangan suatu yang paling berharga”. Lagi-lagi dilema!

***

Untuk menyingkap lebih banyak segala sesuatu tentang negeri-negeri berkembang, sejak nomor ini Prisma membuka rubrik baru dengan nama Dunia Ketiga. Perhatian lebih terarah kepada kawasan Asia Tenggara. Selain itu satu rubrik baru lainnya adalah Tesis, yang selalu diisi dengan skripsi sarjana dan disertasi doktor. Laporan Khusus tetap muncul pada nomor 3,6,9,12. Artikel Bebas yang tidak terikat topik dari setiap edisi mendapat tempat yang lebih banyak. Redaksi

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan