Prisma

Badjo atau Bukan Badjo: Itu Soalnya*

Menampilkan suku Badjo/Sama adalah tugas yang tidak mudah, karena kita butuh berpuluh-puluh halaman berisi pertanyaan. Ini disebabkan karena pengetahuan kita tentang sejarah dan kebudayaan mereka masih baru dan terbatas. Kesulitan lainnya adalah bahwa suku Badjo terlalu tersebar luas di seluruh Indonesia (Sulawesi, Kalimantan, Maluku, Sumatera, Flores), di sekitar Filipina dan Malaysia, bahkan juga di daerah-daerah lainnya. Setiap keluarga Badjo biasa hidup di atas perahu yang disebut bido atau soppe dan menurut pendapat mereka, bido ini ada hubungannya dengan mandar. Mereka dulunya suku pengembara yang mengarungi lautan dalam kelompok-kelompok 20 sampai 30 bido untuk mencari ikan.1

Walaupun hampir seluruh suku bangsa Badjo sudah menetap di desa-desa sekarang, masih ada beberapa keluarga yang hidup di leppa (biduk). Hal ini menciptakan suatu dunia khusus: sikap badan tertentu (duduk bersila hingga otot-otot kaki tidak berkembang dengan baik), cara hidup (penyimpanan air tawar dan beras), pandangan mata yang terbatas pada atap (sapow) perahu, gerakan tubuh yang terbatas. Pengetahuan tentang bagaimana membuat bido telah dilupakan dan ditinggalkan, kata mereka. Di kepulauan T,ogian pembuatan bido masih dilakukan tapi khusus untuk permintaan orang luar.

Pada tingkat desa, perairan tidak menjadi halangan untuk mengadakan hubungan-hubungan sosial. Intensnya gerak manusia dari satu rumah ke rumah lain untuk kebutuhan-kebutuhan domestik dan kunjung-mengunjung, memperkuat kenyataan bahwa rumah tangga (dapparanakan) adalah ruang di mana tiga kelompok keluarga hidup, sementara desa adalah ruang di mana seluruh keluarga besar (dambarisan) hidup. Tidak ada ketentuan-ketentuan khusus atau sistem kekeluargaan tertentu yang membentuk struktur masyarakat Badjo. Di Torosiaje, suatu dewan yang terdiri dari 7 orang berhak mengesahkan pertunangan, perkawinan dan mengadili tindak-tanduk masyarakat. Kehidupan ekonomi orang Badjo berpusat pada penangkapan ikan. Ikan adalah satu-satunya barang yang bisa dipertukarkan. Kalau pedagang-pedagang beras atau sayuran dari desa pedalaman tidak membutuhkan ikan untuk dipertukarkan, maka orang Badjo akan berperan sebagai konsumen semata. Kehidupan keluarga bergantung pada kegiatan kaum pria di tengah laut. Kalau tidak ada ikan atau makanan lain untuk dimakan kecuali nasi, maka orang Badjo akan berkata: missa lao, artinya kira-kira: “tidak ada yang bisa dimakan kecuali nasi.” Ini berbeda dengan missa daya, “tak ada ikan.” Tidak semua orang memiliki jala (ringgi atau rua), tapi semua orang punya kail (missi). Orang Badjo beragama Islam, tapi mereka masih mempraktekkan sebagian dari kepercayaan animisme dan shamanisme (kepercayaan pada dukun). Selama berkelana di laut, orang Badjo berhubungan dan menyesuaikan diri dengan kebudayaan serta bahasa-bahasa lainnya. Pergaulan wajib dengan suku-suku lain adalah syarat bagi ketahanan hidup mereka. Tapi masalah yang menyangkut ketahanan hidup ini masih terus berlangsung. Bagaimana mungkin mereka bisa bertahan sebagai suatu suku kalau jumlahnya begitu kecil dan kondisi hidup begitu sukar dibandingkan dengan suku-suku lainnya? Suku Badjo telah dan masih menolak untuk hidup di daratan (alasan-alasan yang menyangkut kebiasaan ekonomis serta kepercayaan mereka ini, menimbulkan suatu masalah tersendiri lagi).


* Kertas kerja ini hanya mengenai orang Badjo di pulau Nain, yang letaknya di sebelah utara Manado di Minahasa, Sulawesi Utara. Kerja Lapangan: lebih dari dua bulan. Dengan orang-orang Badjo dari desa Torosiaje yang letaknya 200 kilometer dari Gorontalo, di sebelah barat daya daerah Gorontalo; kerja lapangan adalah: satu tahun. Desa ini dibangun di atas laut, kira-kira 200 meter dari pantai hingga seluruh gerakan di dalam desa dilakukan dengan perahu. Banyak survei telah dilakukan di desa-desa Badjo lainnya yang letaknya di antara kedua desa ini, sehingga persamaan-persamaan dengan kelompok-kelompok sama lainnya masih perlu dibuktikan.

1 Sebenarnya istilah nomadisme tidak tepat lagi kebiasaan Badjo, karena orang Badjo bergerak di daerah yang mereka pilih sendiri. Pengertian nomadisme di sini perlu dibahas lebih dalam.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan