Prisma

Pengembangan Masyarakat, Padat Karya dan Sumberdaya Manusia

Di antara berbagai pendekatan untuk menilai tingkat kemajuan ekonomi suatu bangsa, pendekatan Akhtar Hameed Khan memiliki keistimewaan karena sifatnya yang komprehensif.1Dia tidak membatasi penilaian kemajuan ekonomi pada suatu kriteria tunggal seperti pendapatan nasional per kapita atau kriteria-kriteria lainnya. Sebaliknya, dia mengemukakan bahwa tingkat kemajuan perekonomian suatu bangsa harus diukur dengan suatu sistem kriteria rangkap. Kriteria rangkap yang dikemukakannya berwujud penilaian suatu ekonomi dengan 4 indeks: indeks tersedianya modal, indeks penggunaan sumber-sumber, indeks partisipasi penduduk dalam usaha-usaha pembangunan, dan indeks efektivitas organisasi-organisasi publik. Indeks-indeks ini walaupun berdiri sendiri, tetapi dalam kenyataannya saling mempengaruhi.

Tulisan ini bertujuan mengetengahkan aspek khusus pembangunan ekonomi dari segi sumberdaya manusia yang dihubungkan dengan proyek pengembangan masyarakat. Pertama-tama ditinjau pendekatan teoritis, setelah itu diberikan ilustrasi empiris dengan penekanan pada konsep-konsep evaluasi.

Penyeimbangan jumlah faktor-faktor produksi

Faktor-faktor produksi yang dimiliki suatu masyarakat akan terpakai optimal apabila perbandingan jumlah antara faktor-faktor tersebut tepat menurut persyaratan teknologi yang tersedia. Setiap teknologi produksi memiliki pola perbandingan tertentu. Dari pola tersebut kita kenal teknologi padat-modal dan teknologi padat-manusia. Selanjutnya, teknologi juga beragam menurut kemungkinan pertukaran satu sama lain (substitutability).

Umumnya negara berkembang memiliki sumberdaya manusia yang melimpah dalam suatu kaitan dengan faktor produksi modal yang langka. Ketimpangan ini menyebutkan kesempatan-kesempatan ekonomis pengolahan sumber-sumber ekonomi tidak sepenuhnya disadap atau disadap dengan biaya yang mahal. Kerugian dalam analisa ekonomi aggregasi juga diiringi dengan akibat-akibat sosial negatif yang mendasar yaitu proses berlanjut dari pembagian pendapatan yang tidak merata.

Dalam perkembangan teknologi mutakhir, di samping keseimbangan kwantitas juga disyaratkan kwalitas tertentu dari sumber manusia. Kwalifikasi tenagakerja yang dibutuhkan makin menaik sehingga jumlah tenagakerja yang tidak terisap dalam proses produksi makin menaik.

Untuk mengatasi ketidakseimbangan ini, berbagai implikasi teori dapat dipilih dari khasanah ilmu ekonomi untuk dijadikan perangkat kebijaksanaan negara-negara berkembang. Pada pendekatan yang fundamental, ilmu ekonomi telah menganjurkan kepada kita bahwa perubahan struktural suatu ekonomi dari struktur pertanian ke struktur industri akan banyak menolong masalah ketidakseimbangan ini. Lewis dengan teori economic development with unlimited supplies of labor telah menjelaskan bagaimana perubahan permulaan barang-barang industri mengakibatkan sektor industri menarik tenaga yang tadinya bekerja dengan produktivitas rendah di sektor pertanian.2 Di samping itu sektor industri juga akan lebih banyak menyerap hasil-hasil pertanian yang mengakibatkan kebutuhan riil tenaga di sektor tersebut juga meningkat.

Tak ada keraguan bahwa negara-negara berkembang harus mengarahkan kebijaksanaan secara fundamental ke arah perubahan struktural. Karena perubahan struktural akan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka dibutuhkan kebijaksanaan-kebijaksanaan-antara, baik untuk peningkatan tersedianya modal ataupun peningkatan daya-guna sumberdaya manusia.


1 Khan, Bagaimana penduduk desa menciptakan modal, Akademi Pembangunan Pedesaan Pakistan, 1963.

2 A.H. Khan, Bagaimana penduduk desa menciptakan modal, Akademi Pembangunan Pedesaan Pakistan, 1963.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan