Salah satu aspek yang sangat menarik kalau kita melihat kebudayaan Indonesia secara keseluruhan adalah, bahwa di samping kebudayaan nasional, yang terutama timbul sesudah kemerdekaan, tetap terdapat aneka kebudayaan daerah, yang memberi pengaruh atas sosialisasi, tingkalakku dan pendirian hampir setiap orang Indonesia sekarang. Perbedaan antar daerah tersebut khusus dapat diketemukan dalam bahasa, struktur ekonomis, struktur sosial, agama, norma-norma, gaya interaksi dan pemikiran serta sejarah lokal.
Dengan demikian salah satu pertanyaan yang pokok dalam penelitian saya adalah bagaimana perbedaan antar daerah atau antar etnis tersebut dilihat dan dinilai oleh masyarakat setempat. Oleh karena pertanyaan ini hampir tidak dapat dijawab dalam rangka sesuatu penelitian yang amat terbatas, saya mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut mengenai salah satu kalangan masyarakat tertentu, yang saya anggap lama-lama cukup banyak memiliki pengaruh atas keadaan di Indonesia seterusnya, yaitu mahasiswa universitas.
Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta menjadi “lapangan” untuk penelitian saya, karena universitas itu yang betul-betul didirikan sebagai universitas nasional di Indonesia. Di sana kita temui pelajar dari hampir semua daerah di Indonesia yang memiliki latarbelakang kebudayaan yang berbeda-beda. Dengan asumsi bahwa pendapat-pendapat antar etnis menunjukkan diri dalam ciri-ciri yang dianggap khas pada outgroup dan dalam jarak sosial yang terdapat antara grup etnis, mahasiswa dari tiga daerah, yaitu Jawa Tengah, Sumatera Utara (Batak) dan Sulawesi Selatan (Bugis-Makassar) dipilih untuk diteliti.
Dalam karangan ini akan digambarkan dengan singkat fokus yang pertama dari penelitian saya, yaitu bagaimana mahasiswa Jawa Tengah, Batak, dan Bugis-Makassar di UGM saling menganggap dan menilai, dengan juga memberi keterangan sedikit atas jarak sosial antara ketiga grup itu. Fokus yang kedua, yaitu perbandingan data dari penelitian ini dengan hipotesa-hipotesa yang telah ada dalam literatur antropologis tentang hubungan antar etnis, dalam karangan ini terpaksa tidak dapat diterapkan, demikian juga perbandingan dengan hasil penelitian satu tema yang pernah dilaksanakan di daerah-daerah lain.1
Metode penelitian
Sampel dari penelitian ini terdiri dari 150 mahasiswa, yang meliputi 50 mahasiswa Jawa Tengah, 50 mahasiswa Batak dan 50 mahasiswa Bugis-Makassar. Mahasiswa dari Jawa ini baik mewakili mayoritas mahasiswa dari UGM (sekitar 70%) maupun mayoritas nasional, sedangkan mahasiswa Batak dan Bugis-Makassar adalah anggota dari dua minoritas di Indonesia yang sangat menonjol dan juga jumlahnya antara mahasiswa UGM cukup tinggi pada waktu penelitian tahun 1976 itu. Grup mahasiswa Jawa Tengah, grup mahasiswa Batak dan grup mahasiswa Bugis-Makassar masing-masing menjadi satu strata dalam sampel penelitian. Persoalan memilih responden untuk tiap-tiap strata itu timbul dari perbedaan jumlah anggota untuk setiap strata pada populasi mahasiswa UGM seluruhnya. Di UGM pada waktu itu terdapat 10.000 mahasiswa Jawa Tengah (termasuk orang dari Yogyakarta sendiri), tetapi hanya sekitar 250 mahasiswa Batak dan 60 mahasiswa Bugis-Makassar. Ini berarti, bahwa dalam penelitian yang agak mendetail tidak mungkin untuk mengambil sampel secara random yang proporsional, karena apabila demikian, dengan adanya 167 responden Jawa Tengah, baru akan terdapat 1 orang responden Bugis-Makassar.
* Ringkasan disertasi: Interethnische Meinungen bei Studenten in Yogyakarta/Mitteljava, (Universitaet zu Koeln, Jerman Barat, 1978).
1 Antara lain: R. A. Le Vine, dan D. T. Campbell, Ethnocentrism, (New York: 1972); M. B. Brewer, “Penentu Jarak Sosial di antara Kelompok Suku Afrika Timur,” Jurnal Kepribadian dan Psikologi Sosial, 10, 1968, hal. 279-289.