Prisma

Dilema Ketergantungan, Pengalihan Teknologi dan Disiplin Nasional Dunia Ketiga

Lebih tiga dasawarsa setelah negara-negara Dunia Ketiga memperoleh kedaulatan dan kemerdekaannya, maka pembangunan nasional yang dihadapinya untuk mencapai masyarakat yang lebih adil sejahtera dan lebih baik daripada periode sebelumnya masih terus-menerus merupakan dilema yang tak berkeputusan.

Melepaskan belenggu penjajahan politik dari negara-negara Barat bekas penjajahnya, pada umumnya dapat dicapai dalam waktu relatif singkat untuk hampir seluruh negara-negara Asia Afrika, kecuali Vietnam. Tetapi ternyata tidak mudah dan tidak ada jalan singkat untuk memajukan pembangunan ekonomi, terutama dalam mengejar ketinggalan dalam bidang industri dan teknologi. Sungguh sangat ironis, bahwa negara-negara yang termasuk kategori penjajah, Eropa Barat, Amerika Serikat maupun Jepang, justeru merupakan negara-negara industri maju. Semakin mendalam disadari oleh negara-negara Dunia Ketiga, bahwa kemerdekaan politik saja tidak ada artinya tanpa diiringi kemerdekaan untuk menentukan pilihan dalam bidang ekonomi.

Keadaan ini semakin dipersulit dengan kenyataan bahwa negara-negara Dunia Ketiga memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap negara-negara industri maju. Bukan saja dalam memperoleh informasi teknologi, tetapi juga dalam bidang-bidang bahan baku industri, bahkan juga untuk pemasaran hasil produksi industri maupun bahan-bahan komoditi tradisional.

Jika negara-negara industri maju pada umumnya atau melalui tahap-tahap periode yang relatif stabil selama tiga dasawarsa setelah Perang Dunia II selesai, sehingga mereka dapat memusatkan perhatian pada pembangunan ekonomi mereka, maka keadaan sebaliknya terjadi di Dunia Ketiga.

Ketidakstabilan yang berpokokpangkal pada bidang politik di kebanyakan Dunia Ketiga telah menghambat proses kemajuan dalam bidang-bidang ekonomi, sosial dan teknologi. Belum lagi efek yang merugikan karena adanya salah pengelolaan (mismanagement), sehingga juga mengakibatkan kebocoran pada anggaran, tidak ada supervisi ketat dan hal-hal yang negatif lainnya.

Situasi yang demikian ternyata berakibat lebih luas pula, karena cendekiawan di negara-negara berkembang tidak mendapat kesempatan untuk mengembangkan ilmu dan kecakapannya. Apabila mereka mendapat kesempatan ke luar negeri, maka terjadilah brain-drain, yang sudah tentu merupakan kerugian bagi negara berkembang tersebut. Seandainya mereka tetap berada di dalam negeri, keahlian mereka kadang-kadang tidak berkembang, dan tidak jarang terjadi mereka harus melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat keahliannya, demi untuk menambah penghasilan.

Di dalam perlombaan mengejar apa yang dinamakan kemajuan industri teknologi, atau laju pertumbuhan ekonomi, atau kenaikan pendapatan per kapita, nampaklah jarak antara negara-negara Dunia Ketiga dan negara-negara industri maju tidak semakin dekat, karena semakin dikejar, semakin jauh tertinggal. Apakah yang pernah dicetuskan para peserta Club of Rome bahwa tidak mungkin negara-negara Dunia Ketiga mengejar kemajuan negara-negara industri maju akan menjadi kenyataan betul-betul, masih terlalu dini kiranya untuk dibuktikan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan