Prisma

Teknologi

Rasa lapar mendesak manusia bukan saja untuk mencari makan tetapi juga metode mencari makan. Karena membutuhkan perlindungan orang berupaya dan mendapatkan seperangkat metode dan teknik untuk mendirikan rumah. Setiap kali terasa ada kebutuhan terhadap sesuatu, manusia pasti menemukan jalan untuk memperolehnya. Lantas orang berkata bahwa kebutuhan adalah induk semua penemuan. Seluruh perangkat ide, metode, teknik, benda material yang dipergunakan dalam suatu jangka waktu tertentu, dalam suatu tempat tertentu maupun kegiatan untuk merombak perangkat tersebut demi memenuhi kebutuhan masyarakat manusia, kita sebut dengan satu kata teknologi.

Namun ada sebuah kenyataan lain dalam hidup yang telah berulang kali disaksikan. Bukan semua kebutuhan dengan sendirinya membuka jalan menuju penemuan. Atau lebih tepat jika dikatakan bahwa dalam masyarakat senantiasa ada persaingan tingkat kebutuhan dan dalam persaingan tersebut, tingkat kebutuhan yang lebih rendah selalu mengalah. Sofistikasi dunia ekonomi lebih menentukan tindakan dan keputusan manusia. Di sini dibedakan secara sangat halus antara apa yang disebut need dan demand. Dunia ekonomi sangat memahami kenyataan ini. Ekonomi sangat mafhum bahwa masyarakat sering meminta dan mengingini apa yang sebenarnya tidak dibutuhkannya. Sekelompok kecil orang dapat menentukan keinginan masyarakat secara keseluruhan. Dan akibatnya adalah kenyataan pahit bahwa kebutuhan sebagian besar masyarakat bisa dengan sengaja ditekan untuk melayani keinginan golongan lainnya. Dan teknologi adalah alat paling ampuh untuk itu. Perkembangan teknologi telah sampai ke tingkat untuk tidak lagi perduli apakah dia memecahkan masalah kebutuhan dasar manusia tetapi dari saat ke saat semakin mampu untuk menggelitik keinginan untuk meminta sesuatu yang lebih rumit. Yang tadinya adalah keinginan, oleh teknologi dirombak menjadi kebutuhan. Teknologi moderen menciptakan kebutuhan sosial dan kultural baru sedemikian rupa sehingga orang tidak lagi membutuhkan sekedar makanan, akan tetapi orang menginginkan dan membutuhkan sofistikasi makanan. Orang tidak lagi sekedar membutuhkan minuman, akan tetapi sofistikasi minuman. Dalam hubungan itu boleh jadi tidak ada keberhasilan yang lebih besar dari menggantikan air dengan minuman ringan hasil teknologi. Orang dirangsang untuk tidak sekedar membutuhkan transportasi akan tetapi sofistikasi kendaraan yaitu yang lebih cepat, lebih nyaman, lebih aman, dan lebih … ! Dan dari saat ke saat teknologi melayaninya dengan sangat patuh.

Pernah ada saat dalam sejarah Indonesia mutakhir di mana liberalisme dikutuk sampai ke bulu-bulunya. Sebagai bangsa, aib rasanya bertarung bebas merebut kesempatan hidup atau hidup sambil berdiri di atas bahu orang lain. Katanya, karena kita menganut paham berbagi suka dan berbagi duka maka paham survival of the fittest ditolak. Dunia bukan cuma milik makhluk-makhluk paling perkasa dan mahakuat. Akan tetapi kesadaran susila semacam itu tidaklah cukup bilamana tidak diterjemahkan dalam keputusan yang tepat untuk memilih jenis teknologi tepat yaitu yang melayani kebutuhan sebagian besar masyarakat yang sifatnya masih mendasar, dan bukan untuk melayani keinginan sekelompok kecil yang telah melampaui tingkat tersebut. Kita membenci liberalisme. Tetapi teknologi yang dipilih adalah teknologi yang dalam dirinya liberal yang menghancurkan semua yang berada di bawah tingkatnya. Sebagaimana dia mampu merombak keinginan menjadi kebutuhan, dia pun mampu merombak kesadaran. Dan dia buktikan itu. Riwayat kapitalisme dan imperialisme yang kuno atau moderen tidak memberikan penjelasan lain daripada bahwa ternyata manusia juga sangat patuh kepada hukum teknologi pilihannya: menghancurkan semua yang berada di bawahnya. Hampir tak ada cerita di mana teknologi yang lebih rendah mampu bertahan terhadap teknologi yang lebih tinggi. Semua sama tahu bagaimana pabrik lemon di Jawa Tengah hancur di depan mata teknologi soft drink. Dalam pengertian ini tidak ada teknologi desa yang akan mampu bertahan.

Sejak perkawinan antara ilmu dan teknologi menghasilkan pertumbuhan ekonomi, maka ketiga-tiganya hampir tidak lagi pernah terpisahkan. Ketiga-tiganya menyatu dalam siklus yang tak henti-hentinya. Penemuan di bidang ilmu pengetahuan menghasilkan teknologi dan pada gilirannya membuahkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi mempersiapkan lagi kemungkinan dan dana bagi penemuan di bidang ilmu dan teknologi. Dan siklus tersebut hampir-hampir tidak pernah mencapai akhir. Di sana hanya dilayani nafsu yang tak terpuaskan yaitu nafsu ingin lebih. Dan teknologi adalah hamba paling setia untuk melayani nafsu pertumbuhan ekonomi yang tujuannya dengan sangat tepat dilukiskan seorang penulis sebagai nafsu : to be more, to have more, in order to be more, supaya memiliki lebih banyak, agar menjadi lebih … ? Jawabannya adalah ketidakpastian yang hampir tak bertepi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan