Prisma

Perusahaan-perusahaan Transnasional di Filipina: Integrasi dengan Kapitalisme Dunia.*

Perubahan dalam konsentrasi modal asing, khususnya modal AS, di Filipina, dan perkembangan yang menyusul dalam struktur-struktur keterbelakangan negeri itu, hanya dapat dilihat dengan tepat dalam konteks tingkat-tingkat internasionalisasi kapitalisme maju. Tingkat-tingkat ini bukan hanya “aksidental”, akan tetapi dituntut oleh sifat kapitalisme itu sendiri.

Tingkat-tingkat internasionalisasi modal

Dengan memperluas kerangka Marx mengenai putaran modal sosial, maka Palloix menerangkan tingkat-tingkat semacam itu sebagai berikut: a. Dalam apa yang dinamakan tingkat atau tahap “kapitalisme komparatif”, proses ekspansi-diri, reproduksi modal, ditunjang oleh internasionalisasi modal komoditi. Kita hanya memerlukan fakta ekonomi, atau membaca Smith, Ricardo atau Marx, untuk menemukan fungsi-fungsi perdagangan asing dalam hubungannya dengan putaran modal komoditi, dan cara-cara pelaksanaan internasionalisasi modal komoditi. . . . Internasionalisasi modal komoditi berhubungan dengan tesis kolonial klasik. b. Dengan tingkat imperialisme yang diuraikan oleh Lenin, maka internasionalisasi itu yang diperpanjang menjadi putaran modal uang; hukum pembagian kerja internasional dan hukum spesialisasi, mengalami modifikasi . . . c. Konsolidasi perusahaan-perusahaan multinasional hanya merupakan hasil akhir-pada tingkat firma-dari gerakan progresif internasionalisasi modal; internasionalisasi produksi adalah tahap yang paling jauh dari gerakan ini.1

Tingkat-tingkat ini dalam internasionalisasi modal dan proses ditimpakannya tiap tingkat ke atas bangsa-bangsa Dunia Ketiga2 terutama menunjang lahirnya dua jenis struktur keterbelakangan yang sekarang menandai bangsa-bangsa ini, termasuk Filipina, yaitu ekonomi kantong-ekspor dan ekonomi substitusi-impor. Jenis ketiga yang dikembangkan mutakhir ini, yaitu industrialisasi yang berorientasi pada ekspor, mencerminkan baik perkembangan-perkembangan yang lebih mutakhir dalam internasionalisasi produksi dari sistem kapitalisme maju, maupun usaha-usaha untuk “menutupi” kontradiksi-kontradiksi dalam kedua jenis ekonomi sebelumnya.

Ekonomi kantong-ekspor di Filipina dimulai oleh kolonialisme Spanyol dan diperluas serta diintensifkan oleh kapitalisme monopoli AS fase “awal”. Ia merupakan jenis ekonomi di mana bagian terbesar dari sektor maju terlibat dalam produksi dan ekspor tanaman-tanaman komersial dan mineral, seperti misalnya produk-produk kopra, gula, serat, gelondongan dan kayu serta biji timah. Seluruh sistem ekonomi didasarkan atas yang dicapai oleh industri-industri ekspor ini dalam pasaran internasional; suatu penurunan kecil dalam pendapatan mereka telah mengakibatkan dislokasi yang luar biasa dalam ekonomi Filipina.


* Tulisan ini merupakan kelanjutan dari penulis yang sama dalam Prisma, No. 5/Mei 1979: “Studi-studi Filipina tentang Perusahaan-perusahaan Transnasional: Sebuah Kritik”.

1 Christian Palloix, “The Self-Expansion of Capital on a World Scale, diterjemahkan dari “L’internationalisation du capital”, dalam Review of Radical Political Economic, vol. 9, no. 2 (Summer), 1975, hal. 11.

2 Alain de Janvry dan Carlos Garramon, “Laws of Motion of Capital in the Center-Pinggiran Structure”, Review of Radical Political Economics, New York, vol. 9, no. 2, 1977; James Petras, “Perspektif Baru tentang Imperialisme dan Kelas Sosial di Pinggiran, Jurnal Asia Kontemporer, 1975; Robin Luckham, “Militerisme: Kekuatan, Kelas dan Konflik Internasional”, Buletin IDS, Vol. 9, no. 1, 1977.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan