Prisma

Prospek Pembangunan Daerah Timor Timur*

Ketika J. Gert Vondra-seorang wartawan Australia-mengunjungi Timor Portugis dalam tahun 1968, ia telah meramalkan Indonesia akan mengambil alih pemerintahan di wilayah itu dengan atau tanpa bantuan Perserikatan Bangsa-bangsa.1 Tujuh tahun kemudian justeru keadaan sebaliknya yang terjadi. Rakyat Timor Timur yang merasa dirinya sebagai bagian dari rakyat Indonesia telah mencetuskan niatnya untuk bergabung dengan Indonesia, sebagaimana terlihat di dalam proklamasi Balibo, 30 November 1975. Keinginan ini kemudian mendapat pengesahan berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 1976 tertanggal 17 Juli 1976. Pengukuhan penyatuan ini dilakukan pula oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dengan Ketetapan No. VI/MPR/1978 tertanggal 22 Maret 1978. Dengan demikian resmilah Timor Timur menjadi bagian wilayah Republik Indonesia, sesuai dengan keinginan rakyat Timor Timur sendiri.2 (Lihat Peta 1).

Sebagai propinsi baru, tentu banyak yang tidak diketahui mengenai daerah tersebut. Kertas karya ini mencoba memberikan gambaran mengenai Timor Timur setelah ditinggalkan Portugis, dan langkah-langkah kebijaksanaan yang ditempuh dalam membangun wilayah tersebut. Di samping itu akan dikemukakan pula beberapa gagasan mengenai kebijaksanaan pembangunan daerah dan prospek Timor Timur di masa depan.

Hasil penjajahan Portugis

Hasil pembangunan yang dilakukan pemerintah Portugis di Timor Timur “mengesankan” sekali. Dalam waktu 450 tahun, tingkat kehidupan rakyat semakin merosot. Bahkan Metzner melihat adanya gejala-gejala ketidakseimbangan antara manusia dan lingkungan alam sekitarnya sebagai akibat merosotnya mutu tanah. Ini berarti tanah tersebut tidak akan mampu lagi memberikan makanan kepada penduduk sekitarnya.3

Teknologi bercocok tanam masih rendah sekali. Sistem perladangan berpindah-pindah masih dilakukan penduduk Timor Timur, terutama sekali di dataran tinggi bagian tengah. Bersamaan dengan pemeliharaan ternak yang kurang teratur telah terjadi perusakan hutan, erosi dan banjir disertai oleh berbagai penyakit menular. Peranan hutan selaku penjaga kelestarian alam menjadi bertambah penting mengingat 85% dari daerah Timor Timur terdiri dari pegunungan dan dataran tinggi. Daerah dataran rendah terdapat di daerah pantai. (Lihat Peta 2).

Perhatian pemerintah Portugis terhadap produksi bahan makanan jauh lebih rendah dibandingkan dengan tanaman perkebunan. Walaupun beras dan jagung merupakan bahan makanan utama bagi penduduk, namun pemerintah lebih memprioritaskan penanaman kopi. Sehingga nilai ekspor kopi telah mencapai 90% dari nilai ekspor Timor Timur. Seluruh ekspor kopi ini ditujukan ke Portugal dan Mozambique. Sebaliknya hampir seluruh kebutuhan sehari-hari diimpor dari Portugal, di samping Hongkong, Singapura, Jepang dan Indonesia.


* Saya berterima kasih kepada saudara-saudara A.B. Lapian dan Hilman Adil atas segala bantuannya dalam memberikan bahan-bahan penelitian dan laporan mengenai Timor Timur. Tanpa bantuan saudara-saudara tersebut tidak akan mungkin kertas karya ini ditulis. Namun demikian segala interpretasi dan konklusi yang dikemukakan semata-mata merupakan tanggungjawab saya.

1 J. Gert Vondra, Timor Journey, (Melbourne: Landsdowne, 1968), hal. 103.

2 Kumpulan dokumen-dokumen mengenai pembentukan Daerah Tingkat I Timor Timur terdapat dalam Machmuddin Noor et.al., Lahirnya Propinsi Timor Timur (Jakarta: Badan Penerbit Almanak Republik Indonesia, 1977).

3 Joachim K. Metzner, Manusia dan Lingkungan di Timor Timur, (Canberra: The Australian National University, 1977), hal. xxiii.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan