Prisma

Ideologi

Ketika Revolusi Perancis sedang berkecamuk hanya satu musuh yang berada dalam otak rakyat di masa itu yaitu Istana Versailles. Semua penghuni, ide, aparat yang ada hubungan dengan istana adalah musuh. Sebaliknya semua ide, penghuni di luar istana (rakyat) adalah mereka yang disuntik dengan kesadaran bahwa mereka manusia-manusia bebas, sama dan bersaudara. Bagi sang raja ide serta kesadaran semacam itu berbahaya. Lantas semua yang anti-istana disebut ideologi. Syahdan, berkuasalah Napoleon. Dan yang disebut ideologi saat itu adalah semua ide republiken atau revolusioner yaitu yang bertentangan dengan buah pikiran Napoleon sendiri.

Hampir bisa kita katakan bahwa ideologi bertumbuh pada suatu saat di mana kenyataan tidak sesuai dengan cita-cita. Cita-cita dan kenyataan berbenturan dan bertolak-belakang. Cita-cita memburu langit sedang kenyataan terbenam dalam lumpur kepahitan hidup. Rakyat yang lapar di zaman menjelang Revolusi Prancis mencari dan mendapatkan tempatnya dalam ideologi.

Dalam pengertian itu hampir tidak ada suatu gerakan nasional yang tidak berlandaskan ideologi. Bila setiap gerakan nasional adalah gerakan tantangan maka ideologi yang tumbuh adalah ideologi penantang. Kemerdekaan bertitik tolak dari suatu kesadaran berideologi. Dan bisa dikatakan bahwa asal muasal ideologi nasional sampai tercapai cita-citanya adalah jenis ideologi penantang. Dia bermula perlahan-lahan dalam tingkat kesadaran yang menjadi cikal-bakal ideologi. Dia bermula dengan kesadaran kebangsaan, kesadaran akan kemampuan menentukan nasib sendiri dan akhirnya mengusir penjajah dan merdeka.

Iklim semacam itulah yang melahirkan manusia-manusia kaliber Bung Karno, Tjokroaminoto, Haji Agus Salim, Tan Malaka dan lain-lain. Karena begitu yakinnya terhadap kemampuan ideologi, Bung Karno tidak memiliki kerangka berpikir lain daripada berpikir ideologis. Bung Karno hanya menginginkan satu saja, yaitu terbinanya suatu sistem ideologi yang mampu menghimpun semua kekuatan menjadi satu, atau suatu yang begitu “merasuk” sehingga bisa mengikat seluruh bangsa menjadi: samenbundeling van alle revolutionaire krachten. Sejak muda sampai akhir hayatnya Bung Karno tetap yakin bahwa nasionalisme, Islam, Marxisme bisa ditempa menjadi satu. Bung Karno berenang melawan arus karena menggabungkan sesuatu yang mustahil menurut pandangan umum. Tetapi Bung Karno tetap berkepala batu dan menunjukkan dirinya sebagai contoh karena dia adalah personifikasi idenya. Bagi lawannya dia berkata di tahun 1941: Ada orang mengatakan Sukarno itu nasionalis, ada orang mengatakan Sukarno bukan lagi nasionalis, tetapi Islam, ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis bukan Islam, tetapi Marxis, dan ada lagi yang mengatakan dia bukan nasionalis, bukan Islam, bukan Marxis, tetapi seorang yang berfaham sendiri. Golongan yang tersebut belakangan ini berkata: mau disebut dia nasionalis, dia tidak setuju dengan apa yang biasanya disebut nasionalisme; atau disebut dia Islam, dia mengeluarkan faham-faham yang tidak sesuai dengan fahamnya banyak orang Islam; mau disebut Marxis, dia . . . sembahyang; mau disebut bukan Marxis dia “gila” kepada Marxisme itu! . . . Kini saya tuturkan betapakah Sukarno itu. Sukarno adalah campuran dari semua isme-isme itu.

Bung Karno sebenarnya bukan saja personifikasi ketiga alur ideologi, tetapi juga personifikasi konflik ideologis sepanjang sejarah. Adalah menarik untuk melihat fakta ini. Hampir semua konflik antar-partai dan golongan yang berlangsung di tahun 1960-an berkisar di seputar Bung Karno. Hampir semua pertengkaran partai-partai politik serta kelompok mana pun di saat itu adalah saling tuduh-menuduh bahwa partai tertentu tidak setia kepada Bung Karno. Satu-satunya usaha yang dibuat adalah berlomba-lomba memamerkan kesetiaan kepada Presiden, yaitu Bung Karno, Pemimpin Besar Revolusi. Namun tragedi Bung Karno dan ideologinya adalah bahwa keberhasilan Bung Karno sebagai pribadi keras penantang arus, mesti dibayar dengan menyaksikan sendiri darah orang lain yang tercecer di tahun 1960-an.

Sejarah ideologi Indonesia tiba pada satu titik di mana secara formal hanya satu jenis yang diperkenalkan disebut ideologi yaitu Pancasila. Ketika darah mengering ideologi tersebut tinggal “diamankan dan diamalkan”. Sebuah perlombaan baru lagi muncul yaitu berlomba-lomba mengikrarkan kesetiaan kepada Pancasila. Karena itu yang formal senantiasa dipuja, dipakai untuk menjelaskan segala-galanya. Tetapi ideologi adalah alam pikiran, bukan sanjungan dalam madah puja-pujian. Ideologi adalah sikap dan prinsip hidup. Dan sejarah juga menunjukkan bahwa hampir semua ideologi yang hidup di Nusantara bertumbuh dari jenis ideologi penantang, termasuk Pancasila!

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan