Prisma

Dinamika 45: Paduan Pikiran dan Semangat

Dr. A. H. Nasution. Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia. Tujuh jilid. Bandung: Penerbit Angkasa, 1978, cetakan ke-2. Direncanakan sebelas jilid.

Orang pandai belajar dari pengalaman orang lain, tetapi orang yang bijaksana belajar dari pengalaman-pengalamannya sendiri, adalah ungkapan yang sudah dikenal orang. Tetapi tidak banyak orang yang sanggup menuangkan kebenaran ungkapan tua ini dalam bentuk kisah sejarah yang kebenaran datanya bisa dipertanggungjawabkan. Hal ini tidak saja memerlukan ketekunan bekerja, tetapi juga kemampuan intelektual, dan sudah barang tentu, motivasi yang jujur pula.

Ketujuh jilid dari Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia dari Dr. A. H. Nasution (ketika menulis berpangkat Kolonel TNI-AD) timbul karena keinginan mempelajari pengalaman bangsa Indonesia di masa revolusi yang berkecamuk antara tahun 1945 sampai 1949. Dalam sebuah ceramahnya kepada MSI (Masyarakat Sejarawan Indonesia) di Gedung Kebangkitan Nasional di Jakarta (Oktober 1976), penulis pernah memaparkan latarbelakang dan cara bekerja yang menghasilkan buku-buku tersebut (Proses Menyusun Naskah Sekitar Perang Kemerdekaan, Bandung, 1978). Dorongan untuk menulis selama masa “cuti” di tahun-tahun 1952-1955 dalam periode epilog “Peristiwa 17 Oktober 1952” adalah suasana yang pada masa itu sering dinamakan suasana “panca krisis” atau pun suasana peralihan. Mempelajari sejarah terutama sejarah revolusi dianggap oleh penulis sebagai suatu cara yang paling baik untuk mengetahui sebab-sebab timbulnya keadaan yang tidak menggembirakan itu. Sejarah yang menggugah imajinasi bukanlah hal yang aneh baginya. Sejarah sebagai pengalaman berharga yang bisa memberi pelajaran-pelajaran praktis juga sudah dibuktikannya dalam masa perang kemerdekaan. Di antara “Agresi Militer Belanda I” dan “Agresi Militer Belanda II”, kedudukannya ditingkatkan dari Panglima Divisi Siliwangi yang bergerak di Jawa Barat, menjadi Wakil Panglima Besar dengan tugas menyusun strategi pokok bagi TNI dalam menghadapi Belanda. Strategi Pokok yang kemudian dikenal dengan nama “Perintah Siasat No. I” itu didasarkan pada pengalaman-pengalamannya selama “Perang Rakyat Semesta I” di Jawa Barat. Inti pokoknya adalah: mengelak peperangan linear dan memusatkan kegiatan gerilya pada serangan-serangan mendadak dengan satuan-satuan yang kecil. Bertahannya pasukan-pasukan TNI selama “Agresi Belanda II” adalah berkat strategi pokok ini.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan