Prisma

Tenaga Matahari: Kini atau Tak Akan Pernah

Perkembangan teknologi tenaga matahari dalam arti kata seluas-luasnya selalu dibahas dari titik tolak keadaan dan kemampuan teknologi kontemporer. Proyeksi ke tahun-tahun depan selalu berkesimpulan bahwa teknologi tenaga matahari belum dewasa dan belum dapat dipakai untuk mengganti sumber-sumber tenaga dalam orde besaran berjuta-juta kilowatt.

Tulisan ini akan mengupas beberapa aspek dari keadaan tenaga matahari di Indonesia dan di luar Indonesia sekarang, dan kemungkinan untuk langsung digantinya dengan tenaga matahari.

Kesimpulan pokok ialah bahwa teknologi penerapan tenaga matahari kini sudah dewasa. Masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, tidak dapat menerimanya karena tidak dapat “banting stir”, tidak dapat mengganti filsafah hidup maupun life-style nya.

Kelanjutan sebagai bangsa dan negara hanya terjamin jika basis tenaga industri dialihkan ke penerapan tenaga matahari. Generasi akan datang hanya dapat langsung hidupnya atau survive jika dapat memadukan hidupnya dengan alam sekitarnya.

Keadaan tenaga matahari di Indonesia

Keadaan di Indonesia tidak dapat dibahas secara tersendiri. Hal ini disebabkan karena letak geografis dan kedudukan geopolitis. Geografis, Indonesia terletak sepanjang katulistiwa dari garis lintang 95° sebelah barat sampai garis lintang 140° sebelah timur, garis bujur timur 6° sebelah utara dan garis bujur 11° sebelah selatan. Daerah ini merupakan daerah tropis yang tidak mengalami musim dingin dan panas melainkan hanya musim hujan dan kemarau. Suhu naik turun sekitar kurang lebih 27°C-30°C sepanjang tahun. Indonesia merupakan titik persilangan garis hubungan Eropa-Australia dan garis hubungan antara Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik. Pernah kepulauan Indonesia disamakan dengan gordel van smaragd atau “rentetan jamrud.”

Lebih tajam dapat digambarkan pentingnya geopolitis Indonesia jika rangkaian pulau-pulau yang mewujudkan kepulauan Indonesia diumpamakan sebagai rantai kapal perang yang tidak dapat tenggelam. Jumlah pulau-pulau ialah 13.600 di mana antaranya 6.000 dihuni. Lima pulau terbesar ialah Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Jumlah penduduknya kira-kira 142 juta di mana 89 juta berada di Jawa. Pada masa yang lampau, kekayaan alam dan kekayaan bahan bakar konvensional, menjadi faktor dalam penilaian potensi sesuatu negara. Kini harus dinilai sesuatu faktor tambahan yaitu apakah tenaga yang diproduksi dapat terus menerus diperbaharui.

Indonesia memiliki minyak tetapi lebih baik kekayaan minyak dipakai untuk persiapan penerapan tenaga matahari di Indonesia sendiri.

Konfrontasi politik Timur-Barat akan menjadi konfrontasi negara-negara bertenaga matahari versus negara-negara non-tenaga matahari. Jalan keluarnya hanya terdapat jika pemakaian tenaga matahari diterapkan secara global, yaitu dengan kerjasama antara negara yang berteknologi tinggi tetapi tidak memiliki penyinaran matahari yang mencukupi dengan negara berteknologi lemah tetapi yang memiliki penyinaran matahari yang berkelebihan.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan