Sistem pendidikan di Indonesia dewasa ini oleh semakin banyak orang dianggap usang dan tidak sesuai lagi dengan tujuan dan kebutuhan pembangunan. Suatu perubahan fundamental dalam konsep, tujuan, prioritas, susunan, kurikulum dan cara penyampaian dipandang perlu, sebagaimana nampak dalam pembentukan “Komisi Pembaharuan Pendidikan”. Kemelut yang membayangi dunia pendidikan di Indonesia ini, terasa pula di banyak negara berkembang lain.
Dalam menanggapi dan menyelidiki masalah ini, para politisi dan ahli pada umumnya sepakat bahwa pendidikan harus menunjang proses pembangunan. Namun anehnya, pengintegrasian itu sering disempitkan pada segi ekonomi saja. Padahal keberhasilan pembangunan dan apalagi pendidikan sangat tergantung dari faktor-faktor kemasyarakatan seperti terutama struktur, lembaga dan sikap sosial. Menginsyafi itu, tesis saya membahas masalah pengintegrasian itu dari sudut sosiologi pendidikan dan pembangunan.
Langkah-langkah metodis dan pembagian
Sesuai dengan tema dan tujuan ganda itu, yaitu menyoroti politik dan perencanaan pendidikan di Indonesia dari sudut kebutuhan-kebutuhan pembangunan masyarakat, maka tesis saya dikembangkan lewat empat langkah metodis yang juga tercermin dalam pembagiannya.
Dalam langkah pertama diuraikan dan dipertanggungjawabkan kebutuhan-kebutuhan pembangunan masyarakat di Indonesia serta premis-premis nilai yang diandalkan dalam memastikan kebutuhan tersebut. Suatu persoalan yang cukup rumit dan menentukan, karena arah pembangunan masyarakat itu harus sesuai dengan wajah khas kebudayaan Indonesia kalau bahaya etnosentrisme hendak dibatasi. Namun suatu penyelidikan mengenai relevansi kemasyarakatan pendidikan di Indonesia tanpa dasar itu melayang-layang saja dan sebenarnya bahkan mustahil. Mengingat justeru segi ini sering diabaikan, hal mana sebenarnya bertentangan dengan tuntutan obyektivitas dan keilmuan .1 maka diberi perhatian khusus dalam tesis saya, yang dalam tiga bab pertama membahas masalah premis nilai, kebutuhan pembangunan masyarakat serta segi perencanaan, baik secara umum maupun hubungannya dengan Indonesia (bagian I).2
Langkah metodis kedua menyoroti secara teoritis hubungan dan integrasi antara pendidikan dan pembangunan masyarakat. Berpijak pada suatu konsep umum, kebutuhan pembangunan masyarakat dijabarkan ke dalam suatu model sistem pendidikan dengan sejumlah faktor strategis. Konsep dan model itu, yang berlatarbelakang kerangka pikiran Gunnar Myrdal mengenai masalah pendidikan di Asia Selatan.3 diuraikan dalam bagian pertama dari baik bab 4 tentang pendidikan pada umumnya maupun bab 5 tentang persekolahan pada khususnya.
* Karangan ini merupakan sekedar ringkasan dari tesis saya, Integration von Bildung und gesellschaftlicher Entwicklung in Indonesien. Kritische Überlegungen zum Problem der Wertprämissen in Bildungspolitik und Bildungsplanung, Frankfurt/M.—Bern: Lang Verlag, 1977.
1 Bandingkan terutama: G. Myrdal, Objektivität in der Sozialforschung, Frankfurt/M. 1971; id.: Asian Drama. An Inquiry into the Poverty of Nations, London, 1968, vol. I, hal. 24-34; C.W. Mills, The Sociological Imagination, Harmondsworth 1970.
2 Tesis saya banyak mengikuti “pendekatan institusional” dari G. Myrdal sekalipun kurang sepaham dengan “cita-cita modernisasi”-nya. Bandingkan: Asian Drama, op.cit., vol. I, hal. 5-125, vol. III, hal. 1843-1940; id.: The Challenge of World Poverty. A World Anti-Poverty Programme in Outline, Harmondsworth 1971, hal. 21-45.
3 Bandingkan G. Myrdal, Asian Drama, op.cit., vol. III, hal. 1531-1551, 1621-1828; id.: The Challenge of World Poverty, op.cit., hal. 170-210.