Prisma

Kritik terhadap Teori Evolusi dan Atheisme

H.A. Benimo Omar. The Paragon of Human Perfection. London: Regency Press, 1979, 85 halaman.

Penulis buku Books that Changed the World, Robert Downs, ketika sampai pada pembahasan buku Charles Darwin: Origin of Species, menyatakan bahwa di antara nama-nama yang jaya, di antara berjuta-juta manusia yang dilahirkan dalam abad ke-19, mungkin terkecuali Karl Marx, dalam kenyataannya tidak ada yang telah memberikan sumbangan begitu banyak dalam mengubah jalan pikiran utama dan menghasilkan pandangan baru dalam soal-soal manusia, seperti Darwin. “Darwinisme” adalah suatu konsep yang pasti kedudukannya dalam pikiran orang banyak, seperti Marxisme, Malthusianisme dan Machiavelisme.1

Dan sebagaimana dengan Marxisme, Malthusianisme, maka Darwinisme atau teori evolusi itu pun lahir dalam suasana pertentangan yang terus berlangsung hingga kini. Hampir selama satu abad berlangsung pertentangan baik yang pro maupun kontra terhadap buku tersebut, walaupun kini prinsip-prinsip teori evolusi itu telah diterima hampir secara universal dalam dunia ilmu pengetahuan. Pergulatan fundamental-modernis dari abad ke-19, yang memuncak dalam “pemeriksaan monyet” dari Scope di Tennese, adalah salah satu dari contoh pergulatan yang dimulai dalam tahun 1859 yang paling banyak dibicarakan. Hanya saja sekarang ini ada tanda-tanda perdamaian dari permusuhan ini.

Kritik-kritik yang paling keras terhadap Darwin dan teori evolusinya itu datang dari pihak Gereja yang menganggap bahwa tesis Darwin itu telah menyangkal eksistensi Tuhan dan penciptaannya atas dunia dan manusia.

Muncul ungkapan bahwa “sekiranya teori baru yang revolusioner itu berlaku, maka cerita Injil tentang penciptaan tidaklah lagi dapat diterima”. Tetapi kritik terhadap Darwin ini tidak saja datang dari kaum agama (gereja) melainkan juga dari kaum cendekiawan sendiri. Owen di Inggeris dan Agassiz di Amerika adalah dua tokoh cendekiawan pada waktu itu yang menganggap bahwa pikiran-pikiran Darwin adalah kemurtadan ilmu dan akan segera dilupakan orang. Bahkan di Alma Mater Darwin sendiri di Trinity College di Cambridge, tidak satupun copy dari buku tersebut boleh disimpan di perpustakaannya.

Namun bagaimanapun derasnya kritik-kritik terhadap Darwin, ternyata teori evolusinya itu tetap bertahan hingga kini bahkan menjadi sumber yang berharga bagi serentetan penyelidikan ilmiah tentang perkembangan biologis manusia, terutama di kalangan sarjana-sarjana biologi, antropologi-ragawi dan kedokteran. Penemuan-penemuan baru dalam bidang-bidang ilmu tersebut nampaknya membuat orang enggan untuk mempersoalkan lagi teori tersebut. Sejak saat itu kritik terhadap teori evolusi ini makin berkurang bahkan nyaris lenyap. Dalam suasana seperti ini, cukup “mengejutkan” terbitnya sebuah buku yang mencoba membantah dalil-dalil dari teori evolusi tersebut, yang ditulis oleh seorang Indonesia dan diterbitkan di London.


1 Robert B. Downs, Books that Changed the World, (Chicago: American Library Association, 1956). Terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia oleh Asrul Sani, Buku-buku yang Merubah Dunia, (Seri Pustaka Sarjana No. 27). (Jakarta: PT Pembangunan, 1961).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan