Setiap kali bilamana kemelaratan semakin kentara biasanya dibentuk panitia penelitian “ekonomi rakyat”.
Syahdan di tahun 1933 dibentuklah suatu panitia penelitian baru yang bertugas untuk menjalankan wetenschappelijk onderzoek, penelitian ilmiah. Sample penelitian ditentukan, yaitu terdiri dari 5 keluarga pekerja yang diteliti lima bulan berturut-turut, ditambah lagi dengan 15 keluarga petani. Maka pada tanggal 26 Oktober 1933 diumumkanlah hasil penelitian tersebut oleh Direktur Binnenlandsbestuur dalam sebuah laporan kepada Volksraad. Pemeriksaan yang berdasarkan ilmu tentang ihwal makanan bumiputera tengah dilakukan-di Kebumen baru saja dimulai-dan keterangan itu semata-mata berlandaskan kenyataan sehari-hari. Dan inilah kesimpulannya: Gebleken is dat het thans voor volwassenen mogelijk is, zich voor 2½ cent per dag te voeden. Ternyata bahwa kini mungkinlah bagi orang dewasa makan seharga dua setengah sen sehari. Ini sebuah kesimpulan ilmiah, karena itu sah.
Pada galibnya kaum nasionalis baru memberikan reaksi bila ada keputusan politik yang merugikan. Tetapi kini sebuah hasil penelitian ilmiah sempat membangkitkan amarah kaum nasionalis. Hasil penelitian tersebut ditantang keras oleh dua tokoh nasionalis. Bagi Bung Karno, Belanda tidak mampu membedakan antara terpaksa hidup dengan dua setengah sen sehari dan cukup dengan biaya sebesar itu. Dengan mengumumkan hasil tersebut sebenarnya pemerintah Hindia Belanda hanya ingin mengesahkan tindakannya untuk menaikkan pajak rakyat yang sudah mendirikan bulu kuduk, sebab rakyat, katanya, sudah cukup hidup dengan sebenggol sehari. Maka bagi Bung karno terpampang jelas wajah buram pemerintah yang dalam abad kesepanan ini berani berkata rakyat cukup makan dengan sebenggol sehari.
Hatta melihat lebih dalam dari segi tata-tertib permainan pengetahuan. Penelitian ini boleh membikin angkuh birokrasi kolonial karena dia punya peralatan ilmiah, tetapi menggelikan bagi seorang ekonom. Kalau penelitiannya dikatakan ilmiah, maka “ilmunya salah pasang”, dan kalau hanya berdasarkan pengamatan terhadap 20 keluarga untuk mewakili seluruh Nusantara, maka “prakteknya salah ukur”. Kalau mau berhitung sebenarnya bukan saja dengan dua setengah sen, dengan nol sen pun rakyat bisa hidup kalau ia sudah terbiasa hidup dengan memetik buah dari pohon-pohon, dengan umbut atau daun rumput. Karena itu penelitian ini samasekali tak berarti bagi ekonomi. Dalam politik-kemakmuran pertanyaannya bukanlah dengan berapa orang dapat hidup, akan tetapi dengan berapakah orang dapat hidup selayaknya sebagai manusia. Dan Hatta pun meluapkan emosinya dengan berkata lancang: Ai … ai …, wetenschappelijk onderzoek … alangkah dinginnya terasa dalam dada!
Sebuah perdebatan abadi yang sampai kini pun belum selesai tentang ilmu ekonomi dan ekonomi pembangunan diangkat Sukarno dan Hatta ke atas permukaan atas caranya sendiri di tahun 1933. Seberapa jauh suatu penelitian sosial-ekonomis obyektif? Dan seberapa jauh ilmu ekonomi yang menjadi dasarnya, relevan? Ilmu ekonomi lahir dalam suatu alam liberal yang memaksa agar pemakainya menjadi liberal. Pertanyaan lanjutan masih menggoda. Apakah mungkin seorang yang telah terkungkung dalam suatu sistem kepercayaan, sistem nilai tertentu berdiri bebas lepas seperti ahli bedah di depan mayat? Pada akhirnya manusia di balik ilmu dan penelitian tersebut yang memegang peranan menentukan. Pada saat dia merumuskan pertanyaan, sebenarnya dia sudah merumuskan kepentingannya bagi kelas, golongannya. Pada saat Belanda merumuskan pertanyaan apakah pribumi sudah cukup makan, di sana pertanyaan telah berbaur dengan kepentingan kolonial. Karena itu penerapan penelitian sosial ekonomi berdasarkan asumsi ilmu ekonomi senantiasa sarat dengan semacam bias sistematis. Sebab itu boleh jadi ilmu yang dimasukkan adalah ilmu yang “salah pasang”. Bila penyimpangan sistematis adalah demi kepentingan “kaum sana”, para pemilik modal dan pemberi bantuan, kalau begitu dia bukan ilmu tetapi politik.
Satu-satunya cara untuk menghapuskan bias sistematis, kata Gunnar Myrdal, adalah dengan membuka lehar dan mempertunjukkan nilai yang dipegang dan tujuan yang dikejar agar kelihatan kejujurannya. Di sana sebenarnya diadakan pilihan moral dalam ilmu, dan di sana pula letak tanggungjawabnya. Bilamana ilmu tidak terikat terhadap suatu rasa tanggungjawab maka dia akan mengarah kepada suatu scientisme palsu dan akan terjerat dalam netralitas ilmu pengetahuan yang tidak bermoral. Ilmu ekonomi rupanya harus memilih dan pilihannya adalah bagaimana membuat setiap orang bisa hidup layak sebagai manusia. Dia mungkin berpihak, tetapi dia berdiri di atas landasan moral un-neutrality of science.
Tidak bisa dipastikan berapa penelitian dan penemuan ilmiah tentang “ekonomi rakyat”. Tetapi sudah hampir bisa dipastikan bahwa tumpukan laporan penelitian, dan biaya yang dikeluarkan jauh … jauh kaitannya dengan kemakmuran. Dan bilamana hal tersebut masih berlangsung maka sinisme Hatta setengah abad yang lalu terasa masih menyayat hati: Alangkah dinginnya terasa dalam dada!