Prisma

Telah Lahir Suatu Angkatan: Sebuah Tinjauan Sastera*

Masalah angkatan dalam sastera Indonesia hingga kini masih tetap diperdebatkan. Perbedaan kriteria atau titik-tolak pandangan dalam membuat penggolongan Angkatan ini, menghasilkan kesimpulan yang berbeda-beda. Masalahnya menjadi semakin sulit, karena kriterianya tidak saja berdasarkan perurutan waktu, tetapi juga berdasarkan “nilai-nilai” tertentu. Bakri Siregar mencoba menjelaskan masalah ini. Dia juga melihat telah lahir suatu Angkatan Baru dalam sastera Indonesia, yang dalam penampilannya ditandai oleh protes sosial yang ditujukan kepada penolakan otoritas total dalam segala bidang. Secara intrinsik hal ini mereka wujudkan dalam penolakan wawasan estetika dari angkatan sebelumnya.

Kurangnya ketelitian dalam menggunakan pengertian kata angkatan dalam sastera mengakibatkan kesimpangsiuran dan kekaburan pengertian yang perlu ditanggapi secara baik. Sudah tiba masanya untuk meninjau masalah angkatan sastera secara lebih obyektif dan konsisten, terlepas dari rasa keki maupun gandrung yang berlebih-lebihan terhadap suatu angkatan, golongan atau kelompok. Sejarah sastera kita jadi lebih certih karenanya.

Kemungkinan pemakaian yang salah mengenai suatu perkataan, tidaklah menanggalkan hak kita, malahan menjadi kewajiban bagi kita untuk memakainya secara betul. Dalam hal ini digunakannya kata angkatan dalam bahasa Indonesia dalam beberapa pengertian yang berbeda, untuk mana bahasa asing menggunakan lebih dari satu kata, merupakan salahsatu sebab timbulnya kekacauan pengertian.1

Concise Oxford Dictionary (1950) menyatakan bahwa generasi adalah “semua orang yang lahir sekitar suatu waktu, masa waktu rata-rata dalam mana anak-anak siap menggantikan orang-orang tua”. Diperkirakan sepertiga abad atau 33 tahun sebagai periode antara orangtua dan anak. Webster’s Third New International Dictionary (1963) menambahkan: “sesuatu dengan kondisi-kondisi budaya serta lain-lain, dan bahwa di antara bangsa-bangsa primitif jarak waktunya adalah 20 tahun.

Bilangan tahun ini juga diterima oleh Nugroho Notosusanto sebagai masa waktu satu generasi, periode yang lazim untuk pergantian suatu generasi ke generasi berikutnya.2 Kiranya pengertian pergantian secara periodik ini yang menjadi pegangan H.B. Jassin, tetapi dalam bilangan tahun yang berbeda, dengan menyatakan: “Tiap 15 atau 25 tahun timbul suatu generasi baru yang dalam pandangan hidup dan sikap hidup berbeda dari generasi sebelumnya, yang telah pula membeku dalam perkembangannya.”3


* Karangan ini merupakan ikhtisar dari buku yang sedang dipersiapkan, berjudul Angkatan-angkatan dalam Sastera Indonesia.

1 angkatan = generasi. Di samping itu angkatan dipakai dalam angkatan bersenjata, angkatan darat dan sebagainya = angkatan bersenjata, landforce dan sebagainya. Juga angkatan kerja = angkatan kerja. Ada juga sinonim dengan kata Belanda lichting, seperti: siswa angkatan (lichting) 1970, latihan angkatan (lichting) ke-7.

2 Nugroho Notosusanto, “Soal Periodisasi dalam Sastra Indonesia”, Basis, April 1963, hal. 199-210.

3 H.B. Jassin, “Bangkitnya suatu Generasi”, kata pengantar Angkatan 66 (I), Balai Pustaka, 1976, hal. 18.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan