Kemiskinan yang membelenggu mayoritas masyarakat kita bukanlah merupakan masalah baru. Ironisnya tingkat pengetahuan kita tentang keanekaragaman wajah kemiskinan, struktur-struktur sosial dan kebudayaan kemiskinan di tanah air kita, sangatlah terbatas. Diantara berbagai sebab, kemiskinan itu juga terjadi karena adanya ketimpangan-ketimpangan struktural dalam masyarakat. Ketimpangan-ketimpangan struktural ini kemudian ternyata tidak hanya menghalangi tumbuhnya suatu ekonomi nasional, tetapi juga memantapkan struktur ketidakadilan sosial. Di sini Dr. Soedjatmoko menguraikan dimensi-dimensi struktural yang menimbulkan kemiskinan dan apa dinamik proses pemelaratan yang demikian lama menghinggapi masyarakat kita.
Di dalam bukunya, Kalangwan, suatu survai sastra Jawa Kuno, Profesor P. J. Zoetmulder membahas serat kakawin serta artinya bagi kita sekarang. Pada umumnya puisi itu mencerminkan kehidupan di dalam keraton, atau menggambarkan sang raja sedang beranjangsana mengitari wilayahnya. Namun secara sepintas lalu kadang-kadang muncul juga suatu gambaran tentang kehidupan di daerah pedesaan, termasuk gambaran tentang kemiskinan, khususnya di daerah pegunungan, di mana lumbung-lumbung padi kecil-kecil saja dan sapi hanya sebesar domba. Gambaran ini saya kemukakan di sini untuk menunjukkan bahwa kemiskinan bukan merupakan suatu gejala yang baru, melainkan sudah lama menghinggapi masyarakat di Pulau Jawa. Juga Profesor Burger dalam bukunya tentang sejarah ekonomi sosial Indonesia menggambarkan bahwa lebih 100 tahun yang lalu, yaitu kira-kira sejak tahun 1850-an, Belanda mulai meresahkan kemiskinan yang makin menjadi di Pulau Jawa. Mereka melihatnya terutama sebagai akibat pesatnya penambahan jumlah penduduk. Mereka tidak menghubungkannya dengan pola tanam an paksa (cultuur stelsel), apalagi dengan politik liberal kemudian, yang memungkinkan masuknya barang-barang buatan industri yang murah ke daerah pedesaan. Baik di Indonesia, maupun di Cina dan di India kita melihat hancurnya keterampilan-keterampilan non-pertanian di daerah pedesaan dan bertambah lajunya proses pemelaratan di Asia. Desa hanya tinggal kemampuannya untuk menanam padi.
Perlu juga kita sadari bahwa gerakan nasional diantaranya timbul dari kesadaran bahwa di dalam rangka sistem kolonial masalah kemiskinan itu tidak dapat diatasi. Selama kita hidup di dalam suatu ekonomi kolonial, maka kemiskinan itu makin akan menjadi. Apapun yang dilakukan untuk meringankannya. Boleh dikatakan bahwa kesadaran mengenai sifat struktural kemiskinan di Indonesia dari semula sudah menyertai dan menghayati gerakan kebangsaan kita.
Sekarang kita berada di masa pembangunan yang menunjukkan kemajuan-kemajuan tertentu yang sangat menyolok. Sebaliknya kemiskinan tetap pada pada kita, dan ternyata bahwa biarpun arus sumber-sumber daya ke daerah pedesaan belum pernah sebesar seperti dalam 10 tahun yang lalu ini, namun kemiskinan itu tidak berkurang.
* Artikel ini adalah kertas kerja yang telah disempurnakan untuk Kongres III Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-ilmu Sosial (HIPIS) yang bertemakan: “Jalur Pemerataan dan Kemiskinan Struktural,” di Malang, tanggal 13-17 November 1979.