Sudah sejak tahun 1937 terjadi perpindahan penduduk dari pulau Jawa ke tanah-tanah berawa di Kalimantan melalui transmigrasi pemerintah maupun swasta, setelah melihat tanah-tanah itu memiliki potensi pertanian. Dalam waktu 10 tahun terakhir ini, usaha pemerintah dalam pengembangan tanah-tanah berawa semakin bertambah. Diperkirakan ada 43,5 juta hektar tanah berawa di Indonesia: 10,5 juta diantaranya mempunyai potensi pertanian. Dalam tulisan ini William L. Collier menguraikan tentang transmigran spontan dan transmigrasi pemerintah di tanah-tanah berawa di Kalimantan dan potensinya bagi perluasan kesempatan kerja dan produksi makanan.
Karena tekanan penduduk bertambah terus menerus di tanah-tanah pertanian di Indonesia, di manakah tenaga buruh yang makin melimpah ini mendapatkan kesempatan kerja? Dalam suatu karangan yang belum lama ini dibuat, penulis telah mencoba menunjukkan bahwa penggunaan tenagakerja pada produksi padi di Jawa mungkin merosot.1 Walaupun belum ada hasil-hasil penelitian, ada kecenderungan yang kuat bahwa pertanian di Jawa telah mencapai batas penyerapan tenagakerja dan tidak akan dapat lagi memberikan pekerjaan kepada pertambahan buruh. Faktor utama dalam kemungkinan pemberian pekerjaan ialah perbaikan pengaturan air di sawah agar para petani dapat menanam padi dua atau tiga kali setahun. Sebagian besar jaringan pengairan di Jawa telah direhabilitasi. Tetapi jalan untuk memperbaiki pengairan ini juga mungkin telah mencapai batas puncaknya, sehingga tidak dapat lagi diharapkan untuk menambah kemungkinan kerja secara besar-besaran di masa depan. Oleh karena itu, kalau sektor pertanian di Jawa tidak dapat lagi diperluas kemungkinan penyediaan kesempatan kerjanya, maka tiga kemungkinan lain ialah memperluas kesempatan kerja di luar pertanian (off-farm employment) di daerah pedesaan, pekerjaan di pabrik-pabrik di daerah perkotaan, dan memperluas kesempatan kerja di luar Pulau Jawa. Dari tiga kemungkinan ini yang manakah yang akan memberikan harapan paling besar untuk masa depan? Pemberian kesempatan kerja di luar tanah pertanian (off-farm employment) di daerah pedesaan kelihatannya tidak begitu mudah. Dalam beberapa tahun terakhir ini, industri di kota-kota besar menghasilkan barang-barang yang dahulu dibuat oleh para pengrajin di pedesaan. Hasil produksi industri yang dibuat di kota-kota ini dibuat secara besar-besaran, dengan kualitas yang lebih baik dan harga yang lebih murah, telah mendesak barang-barang yang dihasilkan oleh para pengrajin di pasaran kota maupun di pedesaan. Dengan demikian, barang-barang hasil industri kota telah menggantikan hasil produksi tertentu yang dahulu dibuat di daerah pedesaan. Suatu contoh dari hasil produksi demikian ialah pembuatan ember (tin buckets). Dahulu ember dibuat di pedesaan dan dijual di kota. Sekarang ember plastik dibuat di kota-kota dan dijual di daerah pedesaan. Beberapa penelitian yang dilakukan oleh Survey Agro Ekonomi telah didapat pula hal yang sama pada tali dan batu bata. Meskipun belum dapat dibuktikan, ada kemungkinan bahwa kesempatan kerja di luar pertanian di daerah pedesaan belum meningkat, bahkan mungkin telah menurun. Tanpa adanya dorongan yang besar dari pemerintah, kemungkinan kesempatan kerja di luar pertanian tidak dapat menambah penyerapan tenaga kerja secara besar-besaran di daerah pedesaan. Industrialisasi di daerah perkotaan jelas akan memperluas kesempatan kerja, akan tetapi ada kemungkinan bahwa sebagian besar kesempatan kerja tersebut telah diisi oleh orang-orang yang bertempat tinggal di kota. Dalam waktu 10 sampai 20 tahun yang akan datang, mungkin tidak akan banyak lagi kesempatan kerja bagi pekerja dari pedesaan (dalam jumlah yang besar) untuk bekerja di daerah perkotaan. Dengan demikian salah satu pilihan yang masih ada ialah pulau-pulau lain yang dapat memberikan kesempatan perluasan pekerjaan secara besar-besaran dalam bidang pertanian, kehutanan, industri dan perkebunan. Sebagian besar dari daerah-daerah yang belum diusahakan di bidang pertanian ialah tanah-tanah marginal di daerah rawa-rawa dan daerah alang-alang di dataran berbukit-bukit dan dataran tinggi di Kalimantan dan Sumatera.
1 William L. Collier, “Penurunan Penyerapan Tenaga Kerja (1878 – 1980) dalam Produksi Beras Jawa”, Survei Agro Ekonomi, Makalah Okcassional No. 2, Maret 1980, 120 halaman.