Prisma

Dunia Ketiga | Kerjasama Ekonomi antara Negara-negara Dunia Ketiga: Kerangka Kerja Konseptual dan Institusional*

Kebutuhan akan kerjasama ekonomi antara negara-negara Dunia Ketiga, kini semakin dirasakan dan dipandang sebagai tema sentral strategi pembangunan Dunia Ketiga dan sebagai sarana utama bagi terwujudnya Orde Ekonomi Internasional Baru. Kebutuhan akan kerjasama ekonomi ini terdorong oleh kesadaran yang mendalam bahwa pola tradisional hubungan ekonomi antara negara-negara miskin dan kaya yang pada dasarnya merupakan ketergantungan, telah gagal melahirkan suatu proses pembangunan swadaya dalam skala yang cukup tangguh untuk memecahkan masalah kemiskinan. Dalam tulisan ini P.B. Karandawela menguraikan aspek kerangka kerja konseptual dan institusional dari kerjasama ekonomi tersebut.

Faktor-faktor penggerak

Sementara diskusi teoritis mengenai subyek kerjasama antara negara-negara Dunia Ketiga tidak begitu banyak, pendekatan-pendekatan praktis terhadapnya telah meningkat secara progresif dalam dua dasawarsa terakhir. Sejumlah besar lembaga regional mengadakan kerjasama dalam berbagai tingkat dan bentuk dewasa ini, dan hampir tidak ada negara Dunia Ketiga yang tidak terlibat dalam salah satu lembaga demikian.

Selama beberapa tahun terakhir masalah kerjasama ekonomi di antara negara-negara Dunia Ketiga telah mengambil dimensi yang sama sekali baru. Mungkin untuk pertama kali, masalah ini telah dipilih sebagai salah satu bahan diskusi utama dalam suatu konferensi UNCTAD, yang dengan demikian mengajukan suatu acara pokok untuk jadwal konferensi UNCTAD V. Sedangkan di masa lampau kerjasama ekonomi antara negara-negara Dunia Ketiga hanya diberi perhatian yang sedikit sekali-itupun hanya pada tingkat regional-dewasa ini pendekatannya adalah memandangnya sebagai tema sentral strategi pembangunan Dunia Ketiga dan sebagai sarana utama bagi terwujudnya Orde Ekonomi Internasional Baru. Sejauh perwujudan ini dapat tercapai dengan berhasil, kerjasama ekonomi di Dunia Ketiga tidak hanya akan berarti suatu perubahan fundamental dalam keseluruhan strategi negara-negara tersebut menghadapi problem-problem pembangunan, tetapi juga akan mendatangkan perubahan fundamental dalam antar-hubungan mereka, dan hubungannya dengan negara-negara industri.

Apakah faktor-faktor yang telah mendukkan kerjasama ekonomi antara negara-negara Dunia Ketiga di tempat baru yang penting dan utama? Pertama-tama kesadaran yang mendalam dan tumbuh, bahwa pola tradisional hubungan ekonomi antara negara-negara miskin dan kaya, yang pada dasarnya merupakan ketergantungan, telah gagal melahirkan suatu proses pembangunan swadaya dalam skala yang cukup tangguh untuk memecahkan masalah kemiskinan. Strategi besar UNCTAD I diarahkan untuk menyusun jalinan hubungan antara kedua golongan negara ini, berdasarkan suatu arus bantuan luar negeri besar-besaran dari negara kaya pada yang miskin, dan pada ekspor yang semakin meningkat kemajuannya, kedua-duanya dalam pengertian volume dan nilai hasil pabrik, dan hasil-hasil bahan mentah yang diproses menurut arah yang berlawanan dengan arah yang mendatangkan penghapusan kemiskinan, pertumbuhan harmonis dalam kesejahteraan ekonomi negara-negara miskin, dan penyempitan jurang perbedaan antara negara-negara kaya dan miskin. Namun ternyata, negara kaya telah semakin bertambah kaya dan yang miskin bertambah miskin-dengan sedikit kekecualian-dan jurang antara keduanya telah melebar. Gagalnya strategi ini tidak disebabkan oleh kurang cukupnya arus bantuan luar negeri, atau ketidakmampuan pasaran barang-barang pabrik negara Dunia Ketiga, tetapi kesalahan terutama terletak pada sifat asimetris atau sifat ketergantungan dalam hubungan yang ada antara kedua jenis negara. Hubungan asimetris ini dalam analisa terakhir pada dasarnya merupakan kelanjutan bentuk hubungan kolonial. Dalam bentuk klasiknya, hubungan kolonial memperlihatkan integrasi yang menyeluruh antara ekonomi dan politik yang bersifat vertikal, dan nampak di dalamnya, di satu pihak semua hubungan ekonomi antara metropolis sentral dan wilayah kolonialnya dijuruskan ke arah keuntungan dan manfaat pihak yang berkuasa, di pihak lain sifat dan aktivitas ekonomi dalam wilayah jajahan ditentukan oleh kehendak hati yang dicetuskan di pusat. Dalam situasi neo-kolonial, meskipun bentuk-bentuk lahiriah telah berubah dan ada kemerdekaan politis serta terdapat program-program pembangunan nasional-ekonomis, namun sifat ketergantungan yang fundamental dalam hubungan antara negara-negara telah berkembang dan sedang berkembang masih tetap tidak berubah. Bahkan sesungguhnya, strategi besar UNCTAD I walaupun didasarkan atas meningkatnya arus bantuan luar negeri serta terbukanya pintu-pintu pasaran, dalam kenyataannya telah berusaha ke arah pengembangan hubungan ketergantungan. Kecepatan pertumbuhan Dunia Ketiga tergantung pada volume bantuan luar negeri, kepada persyaratan-persyaratan yang dikaitkan pada bantuan luar negeri demikian, serta tingkat dan sifat penerimaan ke dalam kalangan pasaran-pasaran mereka yang ditentukan oleh negara-negara industri. Ketergantungan yang ekslusif kepada bantuan luar negeri dan penerimaan pasaran ke dalam negara kaya yang bertindak sebagai pencetus utama pembangunan, telah menjurus ke arah pengembalian ketergantungan Dunia Ketiga di bidang kebudayaan dan teknologi. Inflasi struktural di negara-negara industri dan akibatnya berupa memburuknya persyaratan perdagangan bagi negara-negara Dunia Ketiga, hanyalah merupakan bentuk lahiriah dan sarana yang memberi bentuk nyata kepada hubungan ketergantungan. Hal ini adalah realisasi, bahwa hubungan ketergantungan tradisional yang mewujudkan diri dalam segala kategori hubungan dengan negara industri-baik dalam bidang komoditi primer, hasil pabrik, keuangan, perbankan atau asuransi, dalam perkapalan, penerbangan atau pariwisata, dalam bantuan pembangunan atau pengalihan teknologi-telah menjadi akar penyebab keterbelakangan Dunia Ketiga, yang telah mendorong pencarian strategi pembangunan yang memandang ke dalam, yang didasarkan atas kerjasama ekonomi antara negara-negara Dunia Ketiga.


* Artikel ini diterjemahkan oleh Ny. Dian Bambang Supeno dari IFDA DOSSIER, 9, Juli 1979.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan