Perbedaan-perbedaan etnis terutama antara kelompok etnis Cina dengan kelompok etnis Melayu, merupakan salahsatu masalah besar yang hingga kini masih terus dihadapi oleh Pemerintah Malaysia. Perbedaan-perbedaan ini menimbulkan persaingan dan ketegangan bahkan seringkali muncul dalam bentuk pertentangan secara fisik atau kerusuhan rasial. Terutama di kota-kota besar, perbedaan ini seringkali nampak tercermin pada pengelompokan tempat tinggal di kawasan-kawasan tertentu yang menjurus kepada enclaves yang terpisah antara satu kelompok dengan kelompok etnis yang lain. Menurut Muhd. Razha Rashid, terlepas dari anggapan bahwa enclave sosial dapat menghambat cita-cita integrasi nasional Malaysia, terbentuknya enclave tersebut telah merupakan benteng budaya atau cultural glue yang memberi perlindungan kultural dan psikologis bagi penduduk Melayu yang bermigrasi ke kota yang mengalami transformasi dari ekonomi pertanian kepada ekonomi urban-capitalistic.
Dalam pamflet-pamflet pelancongan yang diedarkan untuk para wisatawan, terdapat kalimat-kalimat sebagai berikut: “a country where diverse religions, cultures and traditions of various people blended into a delightful pot pourri”—sebuah negara anekawarna di mana perbedaan agama, kebudayaan dan tradisi berbagai kelompok bercampur mesra dalam satu pot pourri.
Sesungguhnya gambaran yang diberikan dalam kenyataan ini ada benarnya. Tapi harus disadari juga bahwa kelainan agama, budaya dan tradisi juga pernah menjadi asas mobilisasi politik yang menyebabkan pembagian kelompok etnis yang etnosentris. “bangsa muda dengan rasa sakit yang tumbuh”, begitu julukan yang diberikan kepada Malaysia oleh majalah National Geographic (Mei 1977) apabila isyu etnisitas dipersoalkan. Persaingan di antara kelompok-kelompok etnis (terutama di antara kelompok etnis “Melayu” dan “Cina”) adalah satu hakekat pengidupan di Malaysia dan telah menjadi puncak oposisi konflik yang menyedihkan. Malah koalisi-koalisi komunal yang berasaskan kelainan etnis semakin berlanjut dan akan terus menjadi dasar organisasi sosial yang konsius.1n^$1^n$^ Etnisitas adalah cara hidup di Malaysia dan akan terus terukir sebagai struktur kemasyarakatan bagi semua penduduk Malaysia terutama di kota-kota.
Dari sudut penelitian akademis, masalah etnisitas di Malaysia telah banyak dibicarakan. Kelanjutan paham komunal di antara kelompok-kelompok etnis telah diteliti dari berbagai disiplin. Kebanyakan analisa berakhir dengan kesimpulan bahwa ketegangan antara kelompok etnis (terutama yang berpuncak dengan kerusuhan rasial 13 Mei 1969) adalah berpunca dari sebab-sebab politik. Atau lebih tepat lagi, pengelompokan adalah kesan akhir daripada struktur politik yang etnosentris. Misalnya, Ratnam2n^$2^n$^ dan Milne3n^$3^n$^ menyatakan bahwa perpisahan tegang di antara golongan etnis di Malaysia adalah secara langsung disebabkan oleh ketidaksamaan yang terdapat dalam struktur pembangunan ekonomi dan politik. Rabuska4n^$4^n$^ juga menganggap pluralisme etnis di Malaysia adalah lanjutan daripada struktur ekonomi terpimpin yang hanya mementingkan kesejahteraan satu kelompok saja. Malah pihak kerajaan sendiri mengakui hakekat ini jika dilihat dari Dasar Ekonomi Baru. Fakta yang mendorong pembentukan Dasar ini adalah kepercayaan bahwa konflik antara kelompok-kelompok etnis adalah kesan ketimpangan sejarah yang telah membentuk ketidaksamaan inheren dalam proses distribusi kekayaan ekonomi negara. Sesungguhnya etnisitas adalah satu hambatan bagi negara yang masih muda karena potensinya dalam mengancam harmoni sosial adalah jelas.
1 Hans H. Indorf, Malaysia: “Koalisi-koalisi komunal Berlanjut”, Prisma, 12, Desember, 1979, hal. 73-79.
2 K.J. Ratnam, Komunalisme dan Proses Politik di Malaysia, U of Malaya., Sing., 1965.
3 R.S. Milne, Pemerintahan dan Politik di Malaysia Bostor, Houton Mifflin, 1967.
4 Alvia Rabuska, Ras dan Politik di Perkotaan Malaysia, Hoover Fust Press, 1974.