Karakteristik guru, seperti pengalaman mengajar, penataran guru, lulusan PGSLP ataupun IKIP dan jenis kelamin, secara keseluruhan sangat berpengaruh pada kenaikan tingkat prestasi murid sekolah dasar di Pulau Jawa. Dari studi yang dilakukan Boediono disimpulkan bahwa kehadiran guru tidak dapat digantikan sebutnya oleh berbagai media pendidikan. Oleh karena itu, strategi untuk meningkatkan kemampuan belajar-mengajar pada tingkat pendidikan dasar harus diorientasikan pada pemecahan persoalan yang menyangkut kompleksitas interaksi antara murid dan guru di dalam kelas.
Trilogi pembangunan pada masa Pelita III, 1979/80-1983/84, ini ditekankan pada upaya mengadakan pemerataan. Upaya pemerataan di bidang pendidikan dirumuskan dalam jalur kedua dari Delapan Jalur Pemerataan yang dinyatakan sebagai pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan dan pelayanan kesehatan. Secara terperinci upaya pemerataan memperoleh kesempatan pendidikan ini dihubungkan dengan usaha untuk meningkatkan angka perbandingan antara jumlah murid sekolah dasar terhadap kelompok usia sekolah dasar yaitu dari 7 hingga 12 tahun. Secara singkat semakin meningkat angka perbandingan ini maka semakin merata kesempatan memperoleh pendidikan. Dengan demikian, pada hakekatnya, usaha pemerataan ini telah didekati dari segi kuantitas yaitu jumlah mereka yang memperoleh kesempatan pendidikan.1n^1^n
Usaha untuk meningkatkan jumlah kesempatan memperoleh pendidikan ini, pada hakekatnya, tidak dapat dilepaskan dari usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan. Dalam usaha untuk meningkatkan harkat hidup manusia, dua segi yaitu kuantitas dan mutu ini saling berkaitan sangat erat sehingga yang satu tidak dapat ditinggalkan dari yang lain. Dalam keterbatasan dana dan dimensi waktu dari pembangunan, hubungan antara kuantitas dan mutu ini menjadi semakin pelik. Dalam usaha merealisir pembangunan, masalah kuantitas dan mutu tersebut bukan hanya merupakan tujuan namun juga merupakan cara untuk mencapai tujuan pemerataan pembangunan.
Tulisan ini membahas salah satu aspek yang menyangkut usaha peningkatan mutu dari hasil pendidikan. Guru sebagai salah satu input, atau secara teknis disebut input instrumental dalam proses pendidikan, merupakan salah satu faktor kunci dalam pendidikan yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Secara singkat; adanya pendapat bahwa guru merupakan salah satu faktor penentu dalam
* Tulisan ini didasarkan pada tulisan penulis yang sama dengan judul “Estimasi Pengaruh Karakteristik Guru Terhadap Prestasi Murid Sekolah Dasar di Jawa”, BP3K, Departemen P dan K, 1979
1 Operasionalisasi konsep pemerataan pendidikan ini menjadi bahan perdebatan yang seru dewasa ini. Henry M. Levin melihatnya dari empat standar; (1) kesetaraan akses pendidikan; (2) kesetaraan partisipasi pendidikan; (3) kesetaraan hasil pendidikan; dan (4) kesetaraan efek pendidikan pada peluang hidup. Lihat Henry M. Levin, Equal Educational Opportunity in Western Europe: A Contradictory Relation, Agustus 1976, draft, disajikan untuk Annual Meetings of the American Political Science Association, Chicago, Illinois, September, 1976.