Bagi setiap suku bangsa, daerahnya sendiri adalah pusat kosmos. Sedangkan semua daerah lain di luarnya berkiblat ke sana. Demikian pun dengan sejarah. Sejarah daerah tertentu dianggap sebagai pusat dari seluruh sejarah. Lantas dari mana seharusnya sejarah ditulis? A.B. Lapian menganggap bahwa sejarah sebagaimana yang kita kenal sekarang terlalu banyak membuat generalisasi yang harus diuji kebenarannya. Sejarah Indonesia sebenarnya bisa ditulis dari beberapa titik pusat pandangan. Dan bila ditulis berdasarkan titik pusat tersebut maka sejarah nasional akan tampil dalam suatu wajah yang berbeda dari yang kita kenal.
Dari kota Aix-en-Provence (atau kota Perancis lainnya di luar daerah inti Ile-de-France) sejarah Prancis nampaknya lain dari apa yang kita pernah belajar di sekolah. Seperti diketahui, biasanya sejarah Perancis mulai dengan masa ketika tanah Gaule diduduki orang Romawi antara 59-51 sebelum masehi, kemudian menyusul berturut-turut zaman dinasti Merovingian, Carolingian, Capet (termasuk keluarga Valois dan Bourbon) sampai pecah revolusi yang terkenal itu pada tahun 1789, dan seterusnya. Sedangkan bagi orang Provence sejarahnya bisa dilacak sampai kira-kira 600 sebelum masehi ketika orang Yunani mendirikan pelabuhan Massilia (Marseille). Kota Aix sudah dikenal pada tahun 123 sebelum masehi sebagai Aquae Sextiae, tempat pemandian pada zaman Romawi yang memiliki mata air panas yang sekarang ini pun masih bersuhu 34° celcius. Di bawah pemerintahan keluarga Anjou, terutama di bawah le bon roi René (abad ke-15) kota Aix menjadi pusat kebudayaan dan kesenian. Ketika Rene d’Anjou tersebut wafat pada tahun 1480 barulah wilayah ini berada langsung di bawah raja-raja Perancis. Sekarang ini setiap tahun pada musim panas Aix-en-Provence menyelenggarakan festival internasional untuk kesenian lirik dan musik, sementara para pelukis pun berdatangan ke kota ini yang merupakan tempat kelahiran Cezanne, tempat kedudukan yayasan Vasarely, dan tak jauh dari tempat pemakaman Picasso.
Begitu pula dengan sejarah Jepang. Biasanya diajarkan bahwa sejarah Jepang mulai dengan zaman legendaris dengan munculnya kaisar Jimmu pada 660 sebelum masehi. Pusat kekuasaan berpindah dari pulau Kyusyu ke daerah Yamato di pulau Honsyu dan setelah ibukota berpindah-pindah, antara lain ke Nara, Heian, dan Kyoto, akhirnya menetap di Edo yang sejak restorasi Meiji disebut Tokyo, dan seterusnya. Akan tetapi bagi, misalnya, penduduk Okinawa peristiwa-peristiwa tersebut di atas agak kurang bercerita mengenai sejarah nenek moyangnya sendiri. Bagi mereka sejarah lokal akan lebih relevan, mulai dengan mitos-mitos tentang bagaimana pulau-pulau Ryukyu ini diciptakan, ke zaman tiga kerajaan pada abad ke-14 yang kemudian dipersatukan oleh Sho Hashi pada tahun 1429, pembentukan istana Shuri, dan seterusnya. Apabila di Provence keluarga Anjou berperan dalam menggabungkan daerah tersebut dengan Perancis, maka di Okinawa dan pulau-pulau Ryukyu lainnya keluarga Satsuma dari Kyusyu Selatan yang membawa daerah ini ke wilayah kekuasaan Jepang.