Perang Sunggal adalah perjuangan rakyat dalam sebuah kampung kecil yang bernama Sunggal di Sumatera Utara. Ia berlangsung kurang dari dua puluh lima tahun. Biaya ekspedisi besar-besaran dikeluarkan Belanda. Karena itu tidak heran dalam dokumentasi Belanda perang Sunggal dimasukkan ke dalam daftar yang memuat perang-perang terpenting yang dilancarkan di Hindia Belanda. Mungkin halnya terbalik dengan di tanah air sendiri. Siapakah yang mengenal Datuk Kecil, Datuk Badiuzzaman Sri Diraja, pahlawan-pahlawan Perang Sunggal?
Hubungan Aceh – Deli – Sunggal
Berdasarkan Traktat Siak (1858), Sumatera Timur merupakan wilayah Siak yang harus dilindungi Belanda. Pada tanggal 22 Agustus 1862 oleh Sultan Deli, Tuanku Mahmud Perkasa Alam, ditanda-tanganilah pernyataan tunduk kepada Belanda di atas kapal perang Reinier Classen di depan Residen Riau, E. Netscher dan pembesar-pembesar Siak lainnya. Hal ini dibarengi dengan pemberian konsesi tanah yang pertama kepada seorang pengusaha tembakau Belanda, Nienhuys, di tahun 1863 di Tanjung Sepassai.1 Sejak itu mulai terkenal di dunia tembakau Deli yang memperkaya wilayah Sumatera Timur sehingga dijuluki Het Dollar Land.
Dalam tahun 1863 armada Aceh pimpinan Cut Latief dari Mereudu hampir saja menyerang Deli kalau tidak terdapat kapal perang Belanda di kuala Deli, sebab Aceh menganggap wilayah Sumatera Timur taklukannya dan Belanda merongrong kedaulatan itu.
Situasi itu mempercepat penempatan kontelir pertama di Deli, J.A.M. Van Caets Baron de Raet bulan April 1863. Keberhasilan penanaman tembakau yang dijual dengan harga mahal di luar negeri mengundang prospektor asing yang berduyun datang mencari tanah. Akhirnya tanah rakyat di wilayah negeri-negeri jajahan Deli di wilayah Urung 4 suku: Sukapiring, Petumbak, Hamparan Perak (12 kota) dan Sunggal juga dijadikan konsesi perkebunan asing oleh Sultan Deli dengan persetujuan pembesar Belanda tanpa menghiraukan datuk-datuk kepala Urung/rakyat di situ. Hal ini membangkitkan amarah Sunggal, dan ini pun bisa dimengerti bila diperhatikan latarbelakang hubungan Sunggal dan Deli, pada zaman kesultanan Aceh.
Nenek moyang Sultan Deli dan Sultan Serdang bernama Tuanku Sri Paduka Gocah Pahlawan Laksamana Khoja Bintan, salah seorang Panglima dari Sultan Iskandar Muda Aceh di tahun 1612, ditempatkan selaku Wali Negara (Gubernur) Imperium Aceh di wilayah bekas Kerajaan Haru (Sumatera Timur) yang berpusat pemerintahan di Deli karena jasa-jasanya. Deli waktu itu terbagi atas kerajaan-kerajaan kecil suku Karo yang disebut “Urung” dan kemudian di-Islamkan oleh Gocah Pahlawan. Di antara Raja-raja Urung, yang terkuat adalah Sunggal (Serbanyaman) bermarga Surbakti. Sesuai tugasnya untuk membendung pengaruh Portugis ke sini dan mengintensifkan misi Islam kepada suku-suku Batak yang belum beragama (perbegu) adalah logis jika Gocah Pahlawan menjalin hubungan erat dengan Raja Urung yang terkuat, sehingga terjalinlah perkawinan antara dia dengan adik Datuk Hitam (Datuk Sunggal) yang bernama Nang Baluan sekitar tahun 1632. Sesuai adat Karo maka Deli (Sri Paduka Gocah Pahlawan) adalah “Anak Beru” dari Sunggal dan sebagai hadiah kawin diserahkan oleh Raja-raja Urung itu jalur wilayah terletak di tepi pantai antara Kuala Belawan dan Kuala Percut sebagai daerah yang diperintah langsung oleh Deli. Secara ketatanegaraan Deli setaraf dengan wilayah-wilayah Urung tadi, tetapi karena Deli menguasai pantai dan muara-muara sungai yang vital untuk impor-ekspor, ditambah Gocah Pahlawan adalah wakil mutlak Sultan Aceh yang agung dan kuat itu, dengan sendirinya posisinya lebih menonjol (primus inter pares). Terbentuklah semacam konfederasi di Deli.
* Perang 1872 itu oleh orang-orang Karo lebih dikenal dengan nama “Perang Sunggal”. Bandingkan Prof. Dr. P.J. Veth, “Het Landschap Deli” (1977), T.K.A.G.II, halaman 162-165. Lihat juga M. Joustra, “Litt. Overzich der Bataklanden”, Leiden 1907, I, “Karo” halaman 43.
1 Tengku Luckman Sinar, “Sari Sedjarah Serdang” (1970) hal. 139.