Prisma

Tesis | Analisa Moneter dalam Suatu Ekonomi Terbuka: Kasus Indonesia 1968 – 1978*

Perekonomian Indonesia bersifat terbuka dalam arti peranan sektor luar negeri penting dan mempengaruhi situasi moneter nasional. Dengan memakai pendekatan moneter, J. Soedradjad Djiwandono mengemukakan beberapa hipotesa antara lain adanya korelasi negatif dari perkembangan kredit dalam negeri dengan neraca pembayaran dan devaluasi mempunyai pengaruh positif terhadap neraca pembayaran untuk sementara tetapi tidak untuk jangka panjang. Studi ini menganalisa penggunaan kredit perbankan untuk sarana kebijaksanaan moneter dalam hubungan usaha mengendalikan inflasi lewat pengendalian uang beredar.

I

Studi ini merupakan suatu analisa moneter terhadap suatu ekonomi terbuka, dengan menggunakan data Indonesia yang mencakup kurun waktu 1968-1978. Sebagai pendekatan moneter, pokok analisanya berkisar pada permintaan dan penawaran uang atau likuiditas. Akan tetapi, karena penerapannya untuk ekonomi terbuka sektor perdagangan luar negeri, khususnya neraca pembayaran internasional, maka ia juga merupakan salah satu unsur yang sangat penting di dalam analisanya.

Sesuai dengan analisa moneter terhadap ekonomi terbuka, neraca pembayaran dilihat sebagai sarana penyesuaian dari pada ketimpangan (distorsi) yang terjadi di dalam sektor moneter. Dalam hal ini surplus neraca pembayaran dilihat sebagai tanda adanya kelebihan permintaan uang dibandingkan dengan jumlah yang tersedia di dalam masyarakat, dan sebaliknya defisit neraca pembayaran.

Disertasi ini terdiri dari 6 bab dengan 6 appendiks dan suatu bibliografi. Bab I menguraikan masalah pokok pembahasan serta perspektif dari disertasi. Bab II berisi suatu gambaran deskriptif-analitis dari sektor moneter dan perdagangan luar negeri Indonesia. Bab III berisi suatu survai mengenai teori dalam pendekatan moneter, yang menguraikan konsepsi teoritis dan masalah yang dibahas dalam pendekatan moneter. Bab IV dan bab V merupakan pokok disertasi yang berisi diskusi mengenai model moneter yang dipakai, spesifikasi dari model serta metode dan hasil perkiraan dari parameter-parameter dalam model ini Dan akhirnya di dalam bab VI dikemukakan analisa lebih lanjut serta konklusi.

II

Pendekatan moneter mendasarkan diri pada teori keseimbangan umum (general equilibrium) yang beranggapan bahwa adanya suatu ketimpangan pada suatu sektor di dalam perekonomian merupakan suatu pertanda adanya ketimpangan di sektor lain di dalam perekonomian tersebut, dan keseimbangan dari suatu sektor mencerminkan keseimbangan di sektor lain. Ini merupakan formulasi secara sederhana dari apa yang dikenal sebagai Walras Law. Kalau suatu perekonomian kita bagi dalam dua sektor: sektor barang dan jasa atau sektor riil di satu pihak, dan sektor moneter di pihak lain, maka implikasi dari penggunaan prinsip di atas adalah bahwa sektor moneter merupakan bayangan cermin dari sektor riil. Adanya suatu permintaan lebih (excess demand) di dalam sektor riil merupakan tanda adanya penawaran lebih (excess suply) dari sektor moneter. Dengan demikian, maka analisa yang dipusatkan pada sektor moneter telah mempunyai implikasi sebagai analisa terhadap sektor barang dan jasa. Lebih lanjut, analisa moneter yang melihat neraca pembayaran sebagai sarana penyesuaian dari ketimpangan yang terjadi di sektor moneter sekaligus merupakan analisa terhadap ketimpangan yang terjadi karena adanya ketidakseimbangan dari permintaan dan penawaran barang dan jasa.


* Tulisan ini merupakan ringkasan dari disertasi Ph.D berjudul A Monetary Analysis of An Open Economy: The Case of Indonesia, 1968-1978, yang dipertahankan pada Boston University, tahun 1980.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan