Kekurangan konsumsi bahan makanan sangat ditentukan oleh kemiskinan atau tingkat pendapatan yang rendah. Bagaimanakah gambaran konsumsi bahan makanan rakyat Indonesia pada tahun 1990? Pos M. Hutabarat mencoba memproyeksikan tingkat pendapatan per kapita tahun tersebut. Apabila diinginkan semua penduduk sudah menikmati kalori di atas tingkat rekomendasi pada tahun itu, maka diperlukan tingkat pertumbuhan pendapatan per kapita golongan penduduk terendah sebesar 5,9 persen setahun.
Pendahuluan
Kemiskinan penduduk merupakan salah satu penyebab kekurangan konsumsi bahan makanan di negara-negara sedang berkembang. Ketidakcukupan konsumsi bahan makanan akan mengurangi daya tahan tubuh terhadap serangan berbagai penyakit. Berkurangnya ketahanan tubuh sangat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja yang mengakibatkan rendahnya tingkat pendapatan. Tingkat pendapatan yang rendah selanjutnya akan menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk membeli bahan makanan. Akhirnya masalah kemiskinan dan kekurangan konsumsi bahan makanan seolah-olah menjadi lingkaran setan yang tidak jelas ujung pangkalnya.
Penelitian mengenai konsumsi bahan makanan yang dilakukan oleh Reutlinger dan Selowsky di sembilan puluh dua negara sedang berkembang menyimpulkan bahwa jumlah penduduk yang kekurangan konsumsi bahan makanan akan bertambah secara absolut walaupun secara relatif akan berkurang. Dalam tahun 1965 terdapat 1,1 milyar (74 persen) penduduk di negara-negara sedang berkembang menderita kekurangan kalori dan bertambah menjadi 1,2–1,3 milyar (66 persen) pada tahun 1975. Diperkirakan bahwa pada tahun 1990, jumlah penduduk yang kekurangan kalori bertambah menjadi 1,7 milyar (64 persen).1
Di Asia saja, Herdt memperkirakan sebanyak 84 persen penduduk menderita kekurangan bahan makanan yang dihitung menurut satuan kalori. Penduduk yang kekurangan kalori ini berpendapatan sangat rendah yaitu kurang dari US$200,– per kapita setahun pada tahun 1976.2
Memang masalah kekurangan konsumsi bahan makanan sangat erat hubungannya dengan kemiskinan dan distribusi pendapatan. Kekurangan konsumsi bahan makanan yang parah terjadi di banyak negara yang berpendapatan per kapita sangat rendah yang terkonsentrir di Asia dan Sub Sahara.
* Tulisan ini merupakan ringkasan dari tesis berjudul Proyeksi Distribusi Konsumsi Kalori Menurut Kelompok-Kelompok Pendapatan di Indonesia Tahun 1990, yang diajukan untuk mendapatkan gelar Magister Sains pada Sekolah Pasca Sarjana, Jurusan Ekonomi Pertanian, Institut Pertanian Bogor, 1979.
Ucapan terimakasih disampaikan kepada Dr. R. Sinaga, Prof. Dr. Sajogyo, Dr. John Dixon dan Dr. Roger Montgomery atas bimbingan mereka sehingga penulis dapat menyelesaikan tulisan ini.
1 Sholomo Reutlinger, dan Marcelo Selowsky, Di Bawah Gizi dan Kemiskinan. (The John Hopkins University Press, 1976), diterbitkan untuk Bank Dunia.
2 Robert Herdt, Amanda dan Barker, Prospek Produksi Beras Asia. Dipresentasikan pada Konferensi Penelitian Beras Internasional, IRRI, Filipina, 1977.