Menulis dan memilih tulis menulis sebagai suatu kegiatan bahkan sebagai sebuah profesi dari saat ke saat berarti menempatkan diri di dalam sebuah wilayah atau tapal batas. Dia berada di batas antara dua dunia, yaitu dunia cita, gagasan, ide dan dunia kenyataan. Hampir dengan sendirinya dia juga berada dalam tapal batas pernilaian, baik pernilaian orang tentang dirinya maupun pernilaiannya sendiri tentang dirinya.
Dalam pengertian seperti ini seorang penulis dan kelompok penulis adalah para penghuni tapal batas: manusia-manusia marginal. Dia marginal ketika dia dicemooh dengan dalih bahwa seorang tidak melakukan apa-apa dengan menulis. Namun di pihak lain dia ditakuti, dibenci justru karena dia sangka telah melakukan apa-apa. Dalam hubungan ini seorang atau kelompok penulis senantiasa diombang-ambing dari masa ke masa antara tuduhan tidak berbuat dan dikhawatirkan berbuat sesuatu. Dirinya sendiri diombang-ambing dalam upaya mati-matian untuk merumuskan identitas, karena identitas hanya ada bagi mereka yang berbuat sesuatu. Sedangkan identitas sebagai penulis sudah pecah dari dalam: Bilamana benar dia tidak berbuat maka dia adalah sampah, dan kalau benar dia berbuat dia juga masih berjaga-jaga untuk menerima tuduhan baru lagi yaitu sampah jua. Dia dikatakan sampah bila dalam berbuat dia berlaku distortif, merusak, dan karena itu berbahaya. Contoh klasik sejak Socrates sampai Pramudya Anantatur menjadi bukti-bukti sejarah. Bahkan dalam mempertahankan kebenaran dia dituduh merusak, sehingga kalau pun dia mampu berdiri dan meletakkan tapak kakinya di atas jejak Socrates, pikirannya tetap pecah: Apakah mengikuti Socrates dan nasibnya (meminum racun demi kebenaran) adalah berkat atau laknat.
Demikian penulis dan kelompok penulis seolah-olah terkutuk untuk mencari identitas sambil berbuat dan berusaha untuk membuktikan bahwa dia melakukan sesuatu. Proses inilah yang kita sebut perjuangan: yaitu berbuat menuju suatu perubahan sosial, mengilhami suatu perubahan. Hanya atas peri ini penulis sebagai kelompok dapat berperan.
Namun, peran yang dimainkan para penulis hanya bisa dipersoalkan bilamana alat yang dipakai ampuh sifatnya. Adakah peranan bagi suatu kegiatan yang memberikan kepercayaan sepenuh-penuhnya kepada kata-kata? Kepada bahasa? Dengan kata lain apakah bahasa masih mengatakan sesuatu? Bila kata-kata, bahasa masih mampu mengatakan kebenaran, maka sifatnya menguak tabir, dan membuka kenyataan dan para penulis yang berpribadi mampu mengolah kenyataan. Seorang penulis bisa mengatakan ada bantuan ekonomi. Tetapi apakah arti bantuan dalam suatu masa polutif? Bahasa sebenarnya sudah tidak perawan lagi, bahasa sudah cemar. Bantuan ekonomi tidak pernah lagi berarti menolong tetapi eksploitasi. Keamanan sudah tidak lagi berarti rasa aman, ketertiban tidak lagi berarti keteraturan. Keamanan dan ketertiban tidak menunjukkan kebutuhan psikis, sosial dan politik, tetapi suatu keharusan adanya lembaga pengaman dan penertib. Dengan kata lain kata dan bahasa sudah tidak mampu membuka tabir. Bahasa malah menjadi alat kekerasan. Dalam suasana semacam ini identitas dan kepribadian penulis semakin dipertaruhkan. Tanpa sepengetahuannya dia bisa saja ikut memakai kekerasan yang menjadi monopoli kata dan bahasa yaitu memohong.
Kelompok penulis secara keseluruhan dan Prisma sebagai salah satu bagian kecil daripadanya senantiasa berusaha untuk menangkap pikiran-pikiran, memilih serta membiasakan kembali pikiran-pikiran tersebut, dalam suasana semacam ini. Namun bagi suatu kelompok yang tidak memiliki pilihan lain daripada percaya kepada alat satu-satunya yaitu kata dan bahasa, suasana seperti ini bukan berarti nasib tetapi tantangan, karena keyakinan manusia bisa mengolah bahasa untuk mengubah dunia sekitarnya. Penulis dan para cendekiawan hanya bisa mengatakan bahwa mereka berbuat sesuatu kalau sekiranya pemikiran dan penulisannya menguak tabir sosial ekonomi dan politik dan mengilhami suatu perubahan. Bilamana tujuan semacam ini tidak tercapai atau kalau itu bukan tujuannya maka para penulis akan terperangkap berulang kali lagi dalam suatu dunia tapal batas, dunia marginal yang senantiasa membelah identitasnya. Kepribadian penulis dan kelompoknya berada dalam taruhan. Kalau ini yang terjadi maka krisis besar tengah melanda. Dalam kepribadian yang pecah suaranya hampa, dan teriakannya hanya bersarang dalam kehampaan.