Ada banyak hal yang bisa diungkapkan oleh suatu penerbitan yang bertahan selama beberapa saat. Onghokham berpendapat bahwa Prisma bukan saja mengungkapkan masalah sosial ekonomis yang berlangsung selama Orde Baru akan tetapi Prisma merupakan pencerminan dari wajah kaum cendekiawan Indonesia. Dalam hal ini Prisma tidak berdiri sendiri akan tetapi dia merupakan kelanjutan dari suatu proses perkembangan kaum cendekiawan Indonesia dari saat ke saat. Setiap masa menampilkan wajah cendekiawan yang berbeda. Siapa cendekiawan dan bagaimanakah potret kaum cendekiawan Indonesia sekarang?
Pengantar
Setiap majalah adalah anak kandung masanya. Tugas dan tanggungjawabnya adalah menjawab tantangan masanya. Sejak masa penjajahan bisa disaksikan seluruh proses dan romantika sejarah penerbitan-penerbitan tersebut sebagai konsekuensi dari tugas yang diembannya. Dan proses itu sampai kini masih tetap dialami oleh setiap penerbitan, setiap majalah kaum cendekiawan.
Ada banyak majalah kaum cerdik cendekia yang terbit sebelum Prisma. Namun, bagi kepentingan tulisan ini, hanya dipilih beberapa yang bisa dianggap menjadi ciri zaman tertentu. Masa-masa setelah kemerdekaan menampilkan kepada khalayak pembaca Indonesia antara lain majalah kebudayaan umum Basis yang diterbitkan di Yogyakarta pada tahun 1954. Lantas kemudian Konfrontasi yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 1954 dan menghentikan penerbitannya pada bulan Desember 1955. Kita bisa menyebutkan beberapa majalah lain lagi seperti Zenith, Sastra, Horison, majalah sastra yang juga memuat tulisan-tulisan umum di bidang sosial politik dan demikian pula Budaja Djaja, dan lain-lain lagi hanya untuk menyebutkan beberapa nama.
Tantangan dan jawaban cendekiawan dari masa ke masa
Semangat revolusi yang masih tetap melekat setelah kemerdekaan menempatkan majalah Basis mengambil posisi tertentu pula. Atau sebagaimana dikatakan Redaksi dalam kata pengantarnya yang berjudul “Atas dasar yang kokoh, kita membangun”:
Pengalaman setiap hari menunjukkan, bahwa bangsa Indonesia dewasa ini harus selalu menghadapi soal-soal, yang dahulu asing belaka. Terlebih kaum cerdik pandai, kaum intelligentia, dalam hal ini harus memikul pertanggungan jawab yang jauh dari ringan. Merekalah pada hakekatnya yang harus memimpin bangsa, membimbing dan membina massa ke arah kesejahteraan sejati, yang selalu dicita-citakan, diidam-idamkan, ya bahkan dikejarnya dengan mempertaruhkan jiwa dan raga.
Bukankah itu tujuan perjuangan kita???
Untuk semua ini adalah suatu keharusan baginya, menyelami, menyelidiki dan dengan begitu juga menganalisa semua soal-soal atas dasar yang kuat, atas basis yang kokoh, baik untuk hidupnya sendiri maupun untuk hidupnya dalam jabatan pemegang kekuasaan dan pembina bangsa.
Majalah bulanan kebudayaan umum, yang untuk pertama kali mengunjungi para pembaca ini, pada hakekatnya tidak lain kecuali jelmaan hasrat untuk memberikan sumbangsih bagi kepentingan tersebut di atas.1
1 Atas Dasar yang Kokoh Kita Membangun”, dalam Basis, Tahun I, No. 1, Ejaan disesuaikan dengan ejaan baru, cetak miring dari penulis.