Sritua Arief, Pola Konsumsi di Indonesia; Studi Ekonometri. (Jakarta: Sritua Arief Associates, 1978), ix + 231 halaman.
“Tujuan dari kaji ini adalah untuk meneliti perubahan-perubahan dalam tingkat dan pembagian konsumsi secara antar-daerah maupun antar-perorangan yang disebabkan oleh kenaikan pendapatan yang cukup berarti”. Demikian dituliskan dalam halaman dua dari buku berkulit luar putih yang keren ini. Ada dua hal yang dikaji: perubahan tingkat konsumsi serta perubahan pembagian konsumsi. Terdapat dua subjek yang diamati: perubahan secara antar-daerah maupun antar-perorangan. Satu asumsi telah diletakkan: pola konsumsi tersebut diukur sebagai akibat dari adanya kenaikan pendapatan saja. Jadi, masalah-masalah lain; seperti misalnya pertambahan dan komposisi umur penduduk, serta variabel-variabel bebas lainnya dianggap ceteris paribus. Kajian ekonomi memang selalu didasarkan pada suatu asumsi yang harus diyakini terlebih dahulu. Oleh sebab itu, masalah ini akan dikupas lagi belakangan.
Peralatan Analisa
Dengan menggunakan elastisitas Engel dan concentration ratio, data pengeluaran untuk konsumsi menurut kelompok pendapatan rumah tangga dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 1976, Januari-April, di analisa. Kesulitan memakai elastisitas Engel ini adalah bahwa seringkali terasa kurang sesuai pemakaiannya secara umum. Hal ini diakui penulis dalam uraiannya pada halaman 116 yang berbunyi: “Suatu pelajaran yang bisa ditarik dari analisa ini adalah adanya suatu kenyataan bahwa bentuk fungsi Engel yang sama mungkin sekali kurang sesuai untuk diterapkan bagi seluruh barang-barang konsumsi dan semua daerah yang diteliti”. Ini sebabnya analisa menggunakan concentration ratio juga dicoba.
Dari teknik analisa yang dipakai, ternyata $R^2$, koeffisien korelasi antara variabel bebas dan variabel tidak bebas, berdasar pada data yang dikelompokkan bukan merupakan ukuran yang memuaskan guna menunjukkan korelasi dalam kelompok penduduk yang diteliti. Itulah sebabnya penulis juga enggan mencantumkan nilai F dalam analisanya. Sedangkan dengan dinyatakannya nilai statistik yang satu ini, kita mungkin bisa mengetahui “kekuatan” dari model yang dipakainya. Apalagi kalau model tersebut hanya memiliki satu variabel bebas. Untuk menghindari kelemahan ini dipergunakanlah fungsi jarak (distance function) yang menurut penulis cukup bermanfaat dan telah pernah dicoba untuk India (hal. 53).
Dari berbagai bentuk persamaan yang dipergunakan untuk menganalisa pola konsumsi di Indonesia, beberapa bentuk fungsi yang terasa cocok sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai menurut Sritua adalah: double-log, log-inverse, semilog inverse dan double-log inverse (hal. 75). Terutama sekali double-log inverse yang dianggap penulis cukup kuat menggambarkan hubungan yang terdapat di antara pola konsumsi dengan peningkatan pendapatan penduduk Indonesia, baik yang tinggal di daerah perkotaan maupun pedesaan.