Kelompok tentara adalah kelompok yang ahli dalam penggunaan kekerasan. Dalam sejarah perkembangan masyarakat mereka tidak pernah menduduki tempat teratas dalam klasifikasi kelompok-kelompok utama dalam suatu masyarakat. Tetapi dalam masa moderen peranan militer semakin mendapat tempatnya. Perkembangan tentara di Indonesia bermula dari suatu ketentaraan yang sifatnya non-profesional. Namun, menurut Onghokham dalam masa-masa yang akan datang hampir tidak dapat dibayangkan bahwa non-profesionalisme di tingkat militer dapat dipertahankan.
Berbicara mengenai politik, kita tidak dapat melepaskan diri dari persoalan kelas penguasa (golongan yang memerintah), yaitu suatu minoritas yang memegang kekuasaan di tiap-tiap masyarakat dan negara, yang memerintah golongan terbesar, yakni rakyat.1
Di negara manapun juga tidak mungkin setiap warga memiliki pengaruh yang sama atas pemerintahan. Baik di negara kita maupun di negara-negara lain ada segolongan kecil orang yang berpengaruh dan memberikan arah serta jalan pada negara dan masyarakat tersebut. Golongan kecil ini menjalankan semua fungsi politik, memonopolisir kekuasaan dan menikmati keuntungan-keuntungan dari situ. Cara-caranya adalah, kadang-kadang menurut hukum negara tersebut, kadang-kadang secara sewenang-wenang, dan kadang-kadang dengan kekerasan. Kekuasaan ini kadang-kadang dijalankan atas nama Tuhan, kadang-kadang atas nama rakyat, kadang-kadang atas nama revolusi atau tujuan tata masyarakat adil dan seterusnya.
Golongan bersenjata, pemilik kekuatan
Kelas penguasa juga disebut kelas politik (klas politik) dan dengan sendirinya politik menimbulkan persoalan kekuatan (kekuasaan). Lumrahnya yang paling besar kekuatannya dalam suatu masyarakat atau negara adalah golongan yang bersenjata, tentara atau juga disebut golongan militer. Seorang sejarawan dan pengarang Perancis abad XVIII, F.A.M. de Voltaire, malahan mengatakan bahwa raja pertama adalah seorang tentara. Biarpun ucapan Voltaire ini adalah untuk mengritik kekuasaan mutlak raja Perancis atas dasar kurnia Tuhan namun ada inti kebenarannya.
Pada mulanya dan sampai jauh dalam sejarah umat manusia golongan memerintah terdiri dari golongan militer (men of the sword) atau orang yang berpedang. Akan tetapi dia membagi kekuasaan ini atau berpartner dengan men of the pen (para cerdik pandai) yang terdiri dari gerejawan (Katolik), para Brahmana (Hindu), Ulama (Islam), clerks (istilah lain bagi cerdik pandai) literati dan lain-lain.
Dalam tulisan ini saya akan mencoba menunjukkan bahwa dari dua golongan dari mana kelas penguasa tradisional berasal, yang sering ditonjolkan dan menonjol sebagai penguasa justru bukan kaum militer akan tetapi kaum cerdik pandai. Mengapa demikian? Di samping itu tulisan ini akan membicarakan juga militer profesional dalam abad XX ini.
1 Untuk ini lihat: G. Mosca, The Ruling Class, (Elementi di Scienza Politica), MacGraw Hill Book Comp. New York dan London: 1939.