Joyce C. Lebra. Tentara yang dilatih Jepang di Asia Tenggara. Hongkong/Singapura: Heinemann Educational Books, 1977, App. Bibl. Glos., Indeks, IV, 226.
Sebelum memulai Perang Pasifik, setidaknya Jepang mengetahui dua hal yang elementer tentang Asia Tenggara. Pertama, sejak kemenangannya melawan Rusia tahun 1905, Jepang telah dianggap sebagai contoh dari “kebangkitan Asia” oleh negeri-negeri yang terjajah di Asia Tenggara. Kedua, kekuasaan kolonial Barat makin mendapatkan diri mereka di tengah-tengah naiknya hasrat kemerdekaan dari daerah-daerah yang dikuasai. Bertolak dari pengetahuan elementer ini rezim militeris Jepang mulai menyusun strategi yang juga sederhana yaitu dengan memperkuat hasrat merdeka itu, Jepang dapat berharap menjadikan rakyat di negeri koloni sebagai pembantu utama dalam mengalahkan kekuatan Sekutu. Maka berbagai corak organisasi dan struktur kemiliteran, baik yang bersenjata (seperti Peta), ataupun yang tidak (seperti Seinendan dan sebagainya) pun dibentuk. Namun, setelah usaha itu dimulai dan dilaksanakan, maka timbul pulalah, masalah fundamental: apakah yang sungguhnya diinginkan Jepang di kawasan Asia Tenggara ini? Dalam pemikiran politik Jepang maka yang biasa dimaksud dengan Asia hanyalah terbatas pada Tiongkok, Korea dan Manchuria. Dalam ketidakpastian politik ini terbukalah kemungkinan bagi timbulnya perbedaan persepsi dan pendapat antara berbagai pusat pengambilan putusan, seperti Angkatan Darat dan Angkatan Laut, antara Tokio dan markas-markas mandala perang dan tak kurang pentingnya antara petugas lapangan dengan birokrasi militer. Dalam suasana seperti ini muncul pulalah tokoh-tokoh di lapangan, dengan pembawa pribadi masing-masing, terlarut oleh idealisme yang serba romantik. Ada di antara mereka membayangkan diri sebagai penggerak dan penunjuk jalan bagi terwujudnya cita-cita nasional dari para pejuang yang sedang mereka bina untuk keperluan perang Jepang. Kadang-kadang mereka merasa seakan-akan menjadi “jelmaan” dari “Lawrence of Arabia”.
Hal-hal inilah yang antara lain dengan cukup jelas dan ringkas dibicarakan Lebra dalam karya ilmiah yang bercorak studi perbandingan ini. Dengan mendasarkan dirinya terutama pada sumber-sumber Jepang, pengarang memperlihatkan pula betapa tindakan yang sama-terbentuknya organisasi militer-sering didorong oleh motivasi yang berbeda dari yang membentuk dan menyelenggarakan latihan kemiliteran, Jepang, dengan yang mengikuti latihan ketentaraan itu, yaitu para pemuda setempat. Bahkan makna dan tafsiran yang diberikan terhadap usaha itu juga berbeda. Maka dengan begini bisalah dimengerti mengapa akibat yang dilahirkannya jauh berbeda dari harapan Jepang.
Usaha mendirikan tentara anak negeri paling awal dilaksanakan sebagai bagian dari tugas intelijen. Hal ini terjadi karena salah satu maksud pertama adalah justeru untuk keperluan propaganda perang, di samping untuk menyebarkan bibit pro-Jepang di daerah yang dikuasai negara-negara sekutu. Demikianlah umpamanya yang dilakukan oleh mayor Fujiwara, yang terkenal dengan F. Kikan-nya, ketika ia bertugas di Tanah Semenanjung dan Thailand. Demikian pula halnya dengan kolonel Suzuki dengan Minami kikan-nya di Burma.
Fujiwara, umpamanya, menarik pemuda-pemuda keturunan Aceh di Tanah Semenanjung untuk bergabung dalam F Kikan dan kemudian menyeberangi Selat Malaka. Mereka, pemuda Aceh itu, kemudian berhasil dengan baik mempersiapkan arena yang baik bagi kedatangan Jepang (kisah F Kikan di Aceh diuraikan dengan sangat mengasyikkan dalam tulisan novelis Malaysia, Abdullah Husein dalam bukunya, Terjebak, Kuala Lumpur, 1965).
Usaha Fujiwara yang terpenting ialah mendirikan Indian National Army (INA), yang anggota-anggotanya diambil dari tawanan tentara Inggeris yang telah bertekuk lutut waktu “gerak cepat” tentara Jepang ke Tanah Semenanjung dan Singapura. Dengan tentara yang diambil dari para profesional ini, Jepang mengharapkan suatu kekuatan yang cukup ampuh untuk menjalankan operasi militer ke anak benua India. Tetapi usaha ini baru bisa dilaksanakan dengan memberi konsesi yang besar terhadap hasrat nasionalisme India. Strategi ini menampakkan hasil yang nyata setelah Subhas Chandra Bose, seorang tokoh pergerakan India yang telah kecewa dengan garis perjuangan Gandhi, dapat ditarik dari pelariannya di Berlin. Di bawah Bose corak nasionalis dari INA makin menampakkan dirinya. Bahkan beberapa kali Jepang terpaksa menahan kejengkelannya terhadap tuntutan yang kadang-kadang dirasakan berlebihan. Namun, dengan ini, mereka yang bergabung mendapatkan motivasi perjuangan yang besar. Dan dengan keahlian dan tradisi kemiliteran yang telah dimilikinya, INA ternyata adalah pula satu-satunya tentara yang dilatih Jepang yang diikutsertakan dalam invasi ke India, yang ternyata tanpa perencanaan yang baik.