Prisma

Mendamba Hoegeng Baru

“Ada tiga polisi jujur di Indonesia, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng”

Berdasarkan Harian Kompas, 1 September 2006, kelakar Gus Dur yang disampaikan dalam sebuah diskusi di Bentara Budaya Jakarta (Kamis, 31/8/2006) itu kembali terasa ketika publik menyaksikan berbagai kasus yang melibatkan aparat kepolisian beberapa waktu terakhir.1 Di balik tawa yang ditimbulkannya, tersimpan kritik tajam terhadap masalah mendasar institusi kepolisian, yakni krisis integritas. Kasus kematian AT (14) di Tual, Maluku, akibat penganiayaan yang dilakukan anggota Brimob pada Februari 2026 kembali membuka luka lama dalam hubungan antara polisi dan masyarakat. Peristiwa tersebut tidak hanya menghadirkan duka bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan pertanyaan serius mengenai arah reformasi kepolisian yang selama ini digadang-gadang pemerintah. Bahkan, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menegaskan bahwa ukuran keberhasilan reformasi Polri seharusnya terletak pada kemampuan menghapus kultur kekerasan yang masih bertahan di tubuh institusi tersebut.2


1 Lihat, Dian Erika Nugraheny dan Kristian Erdianto, “Cerita Jenderal Hoegeng Lolos dari Fitnah Berkat Catatan Harian” dalam Kompas.com atau https://nasional. kompas.com/read/2020/07/14/15491541/cerita-jenderal- hoegeng-lolos-dari-fitnah-berkat-catatan-harian?page= all (diakses 15 Mei 2026).

2 Lihat, Norbertus Arya Dwiangga Martiar, “Warga Tewas di Tangan Polisi Terjadi Lagi, Reformasi Polri Dipertanyakan” dalam Kompas.id atau https://www. kompas.id/artikel/warga-tewas-di-tangan-polisi-reformasi- polri-dipertanyakan (diakses 15 Mei 2026).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan