Prisma

Hutang Luar Negeri Indonesia

Kontraksi dan Beban Ekonomi

Persoalan ekonomi Indonesia di masa mendatang akan dihadapkan pada trade off antara kewajiban membayar hutang dengan tekanan untuk membatasi pengeluaran dalam negeri. Rizal Ramli menulis, bahwa langkah-langkah penyesuaian ekonomi diperlukan apabila defisit neraca pembayaran merupakan gejala kronis. Penyesuaian ekonomi model ini didasarkan strategi pengetatan (kontraksi) permintaan di dalam negeri dan peningkatan ekspor.

SEJAK dua dekade terakhir, hutang luar negeri merupakan dana tambahan untuk mempercepat laju pembangunan Indonesia. Selama itu, pembayaran hutang luar negeri belum merupakan beban ekonomi nasional karena sebagian besar cicilan hutang masih terdiri dari pembayaran bunga pinjaman. Tetapi sejak beberapa tahun terakhir, cicilan pokok pinjaman harus mulai dibayar sehingga total cicilan jauh lebih besar daripada pinjaman baru setiap tahunnya. Dengan kata lain, transfer netto modal keluar (Net Resource Transfer) semakin besar. Transfer modal keluar tersebut ‘dibiayai’ dengan hasil dari pengetatan konsumsi dalam negeri dan pengeluaran pemerintah sehingga kemampuan keuangan pemerintah untuk membiayai infrastruktur dan investasi sosial akan semakin terbatas. Persoalan Trade-off antara kewajiban membayar hutang dengan tekanan untuk membatasi pengeluaran dalam negeri, dan impaknya terhadap pertumbuhan ekonomi dan distribusi pendapatan, akan merupakan persoalan ekonomi yang penting untuk tahun-tahun yang akan datang.

Indonesia: Peminjam yang Baik

Indonesia sampai saat ini dinilai banyak kalangan akademis dan internasional sebagai peminjam yang baik (“good borrowers“). Prestasi itu diraih Indonesia karena Indonesia selalu memenuhi kewajiban membayar hutang dengan baik dan tepat-waktu. Tidak seperti negara peminjam lainnya, Indonesia juga belum pernah meminta penjadwalan kembali (reschedulling) pembayaran hutang kecuali pada awal Orde Baru. Disamping itu, beban pembayaran hutang Indonesia masih dinilai dalam batas-batas yang dianggap manageable. Oleh sebab itu, prestasi Indonesia sering diperbandingkan dan dinilai sebagai jauh lebih baik dibanding dengan negara-negara peminjam besar lainnya seperti negara-negara M.B.A. (Mexico, Brazil dan Argentina).

Perbandingan itu sendiri sebetulnya kurang tepat dan kurang relevan terutama karena struktur pinjaman negara MBA tersebut jauh berbeda dengan struktur pinjaman Indonesia. Negara-negara MBA meminjam secara besar-besaran pada pertengahan tahun 1970-an, dan pinjaman mereka mencapai puncaknya pada awal tahun 1980-an. Akibat global credit crunch dan resesi dunia yang berkaitan dengan krisis minyak yang kedua pada awal tahun 1980-an, ekonomi mereka mengalami shock ekonomi yang sifatnya eksternal dalam bentuk kenaikan tingkat bunga internasional. Sebagai akibatnya, cicilan hutang mereka membengkak sehingga mereka tidak mampu lagi memenuhi kewajiban pembayaran hutangnya. Sejak itu mulailah serangkaian krisis utang yang dimulai oleh Mexico pada tahun 1982, kemudian Brazil dan Argentina.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan