PEMIKIRAN Islam di Mesir, atau di mana saja, tidaklah pernah eksis dalam kevakuman. Selalu terdapat hubungan timbal balik antara pemikiran Islam di satu pihak dengan kondisi sosial di pihak lain, antara preskripsi dan sirkumstansi. Karenanya, suatu usaha menggambarkan sejarah intelektual Islam di Mesir yang dilakukan dengan cara yang decontextualized, yakni, yang menganggap para pemikir dan penulis Muslim Mesir semata-mata menghadapi tema filosofis yang tidak terkait dengan situasi sosial dan kebendaan, akan diancam kegagalan. Bahkan, seperti ditulis Skinner, suatu sistem intelektual yang paling abstrak sekalipun tidak dapat dipandang semata-mata sebagai seperangkat proposisi. Sistem intelektual tersebut juga harus dipandang sebagai ungkapan yang harus dicari apa tujuan dan maksud retorisnya.1
Di antara faktor sosial yang dalam masa moderen turut mengkondisikan pemikiran Islam di Mesir ialah berbagai perubahan mendasar dalam dunia politik, ekonomi dan teknologi intelektual di Mesir. Bermula dari dekade terakhir abad XIX, Mesir untuk pertama kali berkenalan dengan teknik militer baru dan akumulasi modal yang menuntut kontrol terhadap pasar dan bahan mentah. Ekspansi kekuasaan dan intervensi negara kolonialis Eropa juga melanda Mesir seperti halnya negara lain di kawasan Timur Tengah. Kemudian, umat Islam dihadapkan dengan sains moderen, yang menurut para penganjurnya tidak saja memiliki peran yang komprehensif dan independen, tetapi juga merupakan otoritas dan sistem nilai tandingan dalam menilai realitas. Selain itu, berbagai teori sosial ilmiah, seperti yang bersumber dari pikiran-pikiran Darwin, Durkheim, Marx dan Freud, mulai masuk ke Mesir bersamaan dengan masuknya pengaruh filsafat-filsafat moderen seperti eksistensialisme, positivisme dan sebagainya.2
Dengan latar transformasi berskala masif ini, terdapat setidaknya dua perkembangan di kalangan kaum terpelajar Mesir. Pertama, munculnya suatu kelas terpelajar baru, yang sebagian besar melewati formasi intelektualnya di lembaga-lembaga pendidikan moderen seperti Darul ‘Ulum di Mesir, atau universitas-universitas di Eropa. Lebih lanjut, kalangan ini, berbeda dengan kelas utama dan tokoh-tokoh sufi dalam masa sebelumnya, memiliki berbagai sarana komunikasi moderen seperti telegraf, mesin cetak, surat kabar, dan majalah. Teknologi intelektual ini memungkinkan mereka menyebarkan dan mewariskan gagasan baru di kalangan masyarakat Muslim Mesir yang tingkat melek hurufnya meningkat pesat. Generasi pertama nasionalis Mesir bersumber dari kalangan ini.3
1 Quentin Skinner, “The Past in the Present,” The New York Review, Vol. XXXVII, No. 6, 12 April 1990, hal. 36.
2 Tentang hal ini lihat, misalnya, Albert Hourani, Pemikiran Arab di Zaman Liberal. 1798-1939, Oxford Univ. Press, Oxford, 1970, bab III; Nadav Safran, Mesir dalam Mencari Komunitas Politik, Harvard Univ. Press, Cambridge, 1961, bab II.
3 Albert Hourani, “Sejarah Islam, Sejarah Timur Tengah, Sejarah Modern,” dalam Malcolm H. Kerr, ed., Studi Islam: Tradisi dan Masalahnya, Undena Publication, Malibu, 1980, hal. 20-21.