Prisma

Suwarto dalam Perjuangan Orde Baru

Militer Pemikir dan Komandan SESKOAD 1966-1967

Orde Baru tidak dapat dipisahkan dari Mayjen Suwarto dan SESKOAD. Sebagai lembaga pendidikan dan “think tank”, SESKOAD menampilkan pamor yang mengesankan, tidak saja dalam penyusunan “blue print” Orde Baru, tetapi juga karena di lembaga inilah terjalin hubungan yang erat antara pimpinan militer dan teknokrat, yang selanjutnya tampil sebagai pemimpin bangsa dan negara Indonesia. Disebutkan bahwa Suwarto adalah seorang “king maker”.

Pada tanggal 28 September 1967 seluruh rakjat Indonesia, ABRI dan TNI-AD chususnja telah kehilangan besar seorang tokoh Orde Baru dan “Brain Trust” TNI-AD jang penuh daja kreatif — Major Djenderal Suwarto — Komandan Lembaga Pendidikan Jang Tertinggi AD — Sekolah Staf Dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD).1

KINI 24 tahun telah berlalu rasanya sulit secara utuh mengias sisa kenangan peristiwa yang terjadi saat itu sebagai awal perjuangan Orde Baru. Namun bagi seorang teman lama, apalagi untuk mengenang kembali masa itu, saya berusaha menulis sosok Mayjen Suwarto.

Awal Karir dalam Profesi Militer

Suwarto memulai karier militernya sebagai seorang anggota Tentara Pelajar (TP) semasa revolusi fisik (1945-49) di Jawa Tengah.2 Waktu itu dia sudah menyandang pangkat Mayor, suatu pangkat yang cukup tinggi. Dibandingkan saya, jabatan, pangkat dan usianya jauh lebih senior.3 Pada tahun 1948, untuk melakukan penyusupan dan pembentukan Wehrkreise dalam rangka pelaksanaan perang gerilya jangka panjang — sesuai dengan perintah Panglima Besar Soedirman tanggal 9 November — pasukan dari Divisi Siliwangi yang berada di Jawa Tengah harus kembali ke Jawa Barat.4 Long march yang berat selama 2 bulan itu ditempuh Suwarto bersama Batalyon Nasuhi. Sejak saat itu, sebagai pelajar pejuang5 sampai akhir hayatnya, dia berada di lingkungan Divisi Siliwangi, lalu memegang Wakil Komandan KRU “W” Teritorium II/Divisi Siliwangi, Komandan Sub Teritorium di Priangan Timur, Kepala Staf Umum Bidang Operasional dan kemudian Komandan Resimen XI di Tasikmalaya.

Dengan pangkat Letkol, Suwarto mulai ditugaskan di Seskoad pada tahun 1954. Mula-mula sebagai guru/dosen, kemudian menjabat Kepala Departemen Perang Gerilya dan Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan.6 Mulai tahun 1960 dia menjabat sebagai Wakil Komandan dengan pangkat Kolonel, naik sebagai Brigadir Jenderal mulai tahun 1963 dan Mayor Jenderal mulai tahun 1966. Sebagai Komandan Seskoad dia menggantikan Mayor Jenderal TNI Soedirman pada tanggal 9 Juli 1966, karena Pak Dirman harus menjalani masa persiapan pensiun. Di samping sebagai Komandan Seskoad, Suwarto juga duduk dalam Panitia Ad Hoc Pembangunan Angkatan Perang, Ketua Umum Afiliasi Antar Sesko, Ketua Tim Operasi Lintas Udara Doktrin Antar Angkatan. Tampaknya penugasan di Seskoad merupakan penugasan terakhir bagi Suwarto.7


1 Seskoad, Karya Wira Jati, Djilid I, Terbitan Khusus No. 25 Tahun Ke-VII. Bandung, 1967, hal. 9.

2 Mengenai latar belakang orang tua dan kehidupan keluarga, hanya sedikit keterangan yang dapat diungkapkan. Dia dilahirkan di Semarang tanggal 5 Desember 1921, sebagai putera ke-14 dari Bapak-Ibu Anwar Kartohardjo. Dia menikah dan dikaruniai 6 orang putera-puteri.

3 Pertemuan saya dengan Suwarto terjadi pada masa ini. Secara akrab penulis memanggilnya “Mas Warto”. Sebaliknya dia memanggil saya dengan sebutan “Bung”, untuk membedakan bahwa yang satu berasal dari Jawa Tengah dan yang lain dari Jawa Timur. Teman seangkatannya, baik yang masih hidup, yang berada di luar peredaran berita, maupun yang sudah tiada di antaranya adalah Mas Isman dari Tentara Genie Pelajar (TGP), Jawa Timur, Achmadi dan Martono dari TP Jawa Tengah, begitu pula Solichin Gautama dari TP Jawa Barat.

4 Sekertariat Negara RI, 30 Tahun Indonesia Merdeka, 1945-1949. Cetakan Kedua, Jakarta, 1978, hal.

5 Setelah demobilisasi TP/TRIP/TGP pada tahun 1950, para eks anggotanya mulai meneruskan jenjang dan kariernya masing-masing. Menurut perhitungan kasar, 50% melanjutkan studi mereka, 30% masuk dalam pendidikan atau melanjutkan profesi militer termasuk Suwarto di dalamnya, dan 20% lainnya memilih profesi pegawai negeri atau menjadi wiraswastawan. Persepsi dan sikap kejuangan TP/TRIP/TGP, yakni persepsi kecendekiawanan yang dipadukan dengan jiwa pengabdian sebagai prajurit, ternyata masih menghayati kehidupan bagi eks pelajar pejuang tersebut, termasuk pula Suwarto.

6 Sama sekali di luar dugaan, bahwa perkenalan saya dengan Mayor Suwarto dalam perang kemerdekaan dahulu, dilanjutkan secara formal ketika sejak tahun 1959 saya diminta menjadi guru/dosen Seskoad dan baru kemudian pada tahun 1966, sebagai Kepala Departemen Litbang Sissos/Sospol secara organik. Ternyata jabatan ini merupakan jabatan pertama dan terakhir yang dipegang oleh seorang pegawai negeri sipil di lingkungan ABRI.

7 Suwarto menyandang sekitar 10 bintang dan tanda jasa, termasuk di antaranya Bintang Dharma yang dianugerahkan oleh Pejabat Presiden R.I., Jenderal Soeharto dan disematkan oleh Pejabat Pangad Jenderal M. Panggabean pada tanggal 14 Agustus 1967, sebelum dia meninggal dalam usia 46 tahun.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan