Tokoh Pembangunan dan Pembaruan Politik
Ali Moertopo, seorang intelijen militer, memiliki peranan menonjol dalam perintisan dan konsolidasi politik Orde Baru. Dia telah membantu Jenderal Soeharto sejak di KODAM Diponegoro sampai menjadi Aspri bidang politik. Ali Moertopo, seorang kepercayaan Pak Harto, mampu menerjemahkan pikiran-pikiran atasannya. Di tengah lawan dan kawan politiknya, dia ternyata mampu mewarnai kehidupan politik Orde Baru.
BERBICARA mengenai Orde Baru, kita tidak mungkin melepaskan diri dari sosok seorang pejuang, yang sebagian besar hidupnya diabdikan untuk Orde Baru. Pejuang itu bernama Ali Moertopo. Dia lahir di Blora, Jawa Tengah 23 September 1924. Dari kehidupannya, yang terpancar antara lain dalam ide, konsep dan karyanya, kita dapat merekonstruksi siapa Ali Moertopo itu.
Banyak orang mengagumi ide-idenya, meskipun ada pula yang tidak suka padanya. Banyak orang setuju dengan pemikirannya tetapi ada pula yang menentangnya. Namun demikian, tetap diakui bahwa kehadiran Ali Moertopo dalam panggung Orde Baru telah membawa warna tersendiri dalam sejarah bangsa Indonesia. Dia bersama dengan kolega-koleganya dalam Orde Baru telah meletakkan kembali dasar-dasar pembangunan nasional yang didasarkan pada kemurnian Pancasila dan UUD 1945. Inti-intinya terangkum dalam karya-karyanya yang berjudul “Akselerasi Modernisasi Pembangunan 25 Tahun”, “Strategi Politik Nasional” dan “Strategi Kebudayaan”. Ali Moertopo juga dikenal sebagai salah seorang kepercayaan terdekat Soeharto (Presiden RI) untuk memikirkan dan merakit tata kehidupan politik Indonesia sesuai dengan semangat dan jiwa Pancasila dan UUD 1945.
Dia juga dikenal sebagai seorang tokoh Orde Baru yang memiliki daya pikir yang kuat, terutama mengenai wawasan masa depan. Visinya mengenai masa depan menjadi sebuah ciri utama dalam setiap pemikirannya. Ide-idenya menyegarkan dan yang dilaksanakannya secara konsekuen itu mampu menerobos penyekat-penyekat yang orang lain anggap sulit dilaksanakan. Bahkan di kala orang lain masih berpikir dan berdebat tentang suatu masalah, Ali Moertopo justeru telah dapat melaksanakannya. Sebuah penegasannya yang sangat menarik untuk direnungkan adalah Saya bisa mati, tetapi ide jalan terus.
Ali Moertopo dikenal sebagai seorang militer yang banyak bergerak di bidang intelijen. Dititinya karir kemiliteran dari pangkat yang terendah sampai akhirnya menjadi seorang Perwira Tinggi, Letnan Jenderal TNI-AD. Dalam dinas kemiliterannya itulah, dia telah menempatkan dirinya sebagai seorang tokoh yang sangat berperanan dalam Pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) di Irian Barat (Irian Jaya), normalisasi hubungan RI-Malaysia dan Operasi Seroja di Timor Timur. Di dalam keduanya inilah, Ali Moertopo mencoba mengabdikan “dwifungsi” untuk kepentingan bangsanya.
Di dalam penataan kehidupan politik di Indonesia, Ali Moertopo dikenal sebagai salah seorang yang ikut menata format politik di dalam negeri. Digalangnya orang-orang yang seide dengannya, didekatinya orang-orang atau kelompok-kelompok yang belum mengerti jalan pikirannya, untuk diajak menata kehidupan politik Indonesia agar terhindar dari praktek-praktek politik lama yang mengganggu jalannya pembangunan nasional. Profesionalisme dan fungsionalisme dilontarkannya sebagai pengganti pengelompokan yang didasarkan atas perbedaan-perbedaan primordialisme yang telah menghambat peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa. Meskipun demikian tidak berarti bahwa segala sesuatu berjalan mulus; juga muncul banyak hambatan yang antara lain tampak dalam sikap kelompok-kelompok yang tidak seide atau merasa dirugikan. Sementara itu, praktek-praktek kehidupan politik sia-sia lama tidak jarang juga menghambatnya.




