Subchan ZE adalah politisi muda dari Partai NU yang mati tatkala dia masih berjuang untuk mengubah sosok partainya. Sekalipun tergolong perintis Orde Baru, namun dia tersingkir dari panggung politik Orde Baru pada dekade 1970-an. Sifatnya yang keras dan radikal tampaknya tidak cocok dengan iklim politik pada masa itu. Subchan ZE adalah pribadi yang teguh dalam pendirian politik.
MEMAHAMI peranan Subchan ZE 1, dalam menegakkan Orde Baru bukan merupakan hal yang sulit. Tapi untuk mengenali siapa “dia” yang sebenarnya masih merupakan teka-teki. Dia hanya meninggalkan nama: Subchan ZE. Tak banyak karya tulis yang ditinggalkannya. Padahal menurut kesaksian banyak tokoh terkemuka, dia amat cerdas pada zamannya. Yang memudahkan untuk melacak siapa Subchan adalah karena sifatnya yang pendobrak dan kepribadiannya yang terbuka, juga karena gagasannya yang sering melampaui batasan organisasi dan kemapanan. Sifatnya yang seperti itu menyebabkan dia dikenal banyak orang, dan disegani.2
Sepanjang karir politiknya Subchan banyak menarik perhatian orang, baik kawan maupun lawan. Namun di saat namanya mulai terkenal dan belum mencapai puncak karir, dia keburu dipanggil Tuhan. Subchan meninggal di Saudi Arabia dalam kecelakaan mobil, sekitar 70-100 kilometer di luar kota Mekah sewaktu menunaikan ibadah haji dalam usia 43 tahun. Sebab kematiannya masih merupakan misteri sampai sekarang.3
Tulisan ini masih merupakan gambaran serba selintas mengenai “sang tokoh”; jadi belum bisa memberikan gambaran yang gamblang berdasarkan riset yang sistematis dan mendalam. Tulisan kali ini mencoba melihat posisi Subchan dalam proses perubahan sosial politik sesudah tumbangnya PKI tahun 1965. Dalam hal ini yang akan disusuri adalah obsesi Subchan mengenai tatanan sosial politik yang dicita-citakan serta manuver politiknya untuk mencapai cita-cita tersebut, melalui peran dia sebagai wakil ketua MPRS dan melalui Wakil Ketua Partai NU.
Subchan sebagai Tokoh Nasional
Pada 1 Oktober 1965, Subchan memprakarsai pertemuan dengan tokoh-tokoh partai dan pemuda. Mereka kemudian menghubungi pihak militer di antaranya Jenderal Umar Wirahadikusuma organisasi, dan berani mengambil resiko yang paling buruk pun dalam mempertahankan pendapatnya. Subchan merupakan tokoh muda paling populer di kalangan kesatuan aksi dan parpol waktu itu. Saking populernya seorang tokoh muda, Eki Syachrudin, entah bergurau entah tidak pernah mengatakan “salahnya saja banyak yang ikut apalagi benarnya”.
* Ini adalah tulisan saya yang kedua mengenai Haji Mas Subchan Zaenuri Echsan, selanjutnya ditulis Subchan ZE, setelah tulisan yang pertama dimuat dalam Prisma edisi bulan November 1983 yang lalu.
1 Mengenai tanggal lahirnya, ada yang menyatakan Subchan lahir 1 Januari tahun 1930. Ny. Macsaroh, ibu angkatnya yang ditemui penulis di Kudus mengatakan tidak ingat lagi. Tapi Solichin Salam dalam tulisannya, “H.M. Subchan ZE. Seorang Politikus Yang Berwatak” dalam Berita Buana 25 Januari 1973 menyangsikan tahun-tahun tersebut. Solichin menduga Subchan setidaknya dilahirkan pada tahun 1928.
2 Citra diri Subchan seperti itu disimpulkan penulis setelah berwawancara dengan beberapa tokoh yang dekat dengan almarhum. Mungkin tidak begitu tepat, namun untuk memudahkan melakukan identifikasi diri, gambaran awal ini untuk sementara dipakai. Harry Tjan Silalahi, seorang kawan dekatnya dalam KAP GESTAPU menggambarkan Subchan sebagai “free-willer” yang memiliki pikiran jauh ke depan, cenderung tak mau diikat oleh aturan organisasi, dan berani mengambil resiko yang paling buruk pun dalam mempertahankan pendapatnya. Subchan merupakan tokoh muda paling populer di kalangan kesatuan aksi dan parpol waktu itu. Saking populernya seorang tokoh muda, Eki Syachrudin, entah bergurau entah tidak pernah mengatakan “salahnya saja banyak yang ikut apalagi benarnya”.
3 Kepergiannya sangat mengagetkan. Banyak orang merasa kehilangan termasuk di antaranya Ali Murtopo yang menganggap Subchan sebagai guru dalam beberapa hal terutama dalam keberanian menyatakan dan mempertahankan pendapat. “Dia adalah teman berdialog dalam hal apapun”, kata Ali. Sedangkan Moch. Roem mengatakan, “Itulah cara orang besar meninggal dunia.” (Harian Kami, Rabu 31 Januari 1973). Penuturan H. Faesal Rahlan (adik kandung Subchan) seperti diberitakan dalam Harian Kompas 1 Februari 1973, menyebutkan peristiwa tersebut terjadi pada Minggu siang tanggal 21 Januari 1973 jam 14:00 waktu setempat dan satu jam kemudian Subchan meninggal dan jenazahnya dimakamkan di Tanah Suci Mekah.


