Tingkat partisipasi Angkatan Kerja Wanita di perkotaan terus meningkat pesat sepanjang dasawarsa 80-an. Tetapi peningkatan ini tidak selalu memperbaiki posisi wanita di pasar tenaga kerja. Proporsi pekerja keluarga dalam seluruh angkatan kerja wanita terus meningkat. Makin banyak wanita berpendidikan menengah bekerja di sektor informal, tetapi proporsi yang bekerja untuk diri sendiri serta pengusaha yang wanita justru terus menurun.
SETELAH merosotnya harga minyak pada awal 80-an, pemerintah mulai beralih strategi pembangunan, dari industrialisasi substitusi impor ke peningkatan ekspor. Perubahan ini, sejak Repelita V (1988-1992), menghasilkan peningkatan tajam di bidang investasi swasta dalam industri manufaktur ringan yang berorientasi ekspor. Tentu saja perubahan strategi industrialisasi tersebut juga menimbulkan pergeseran dalam komposisi angkatan kerja dan penyerapan tenaga kerja. Dalam industri pengolahan, lapangan kerjanya tumbuh sebesar 6,5% pertahun, dengan porsi kesempatan kerjanya meningkat yakni 10,1% dari keseluruhan kesempatan kerja pada tahun 1990 dibandingkan 9,3% pada tahun 1985.1 Pertumbuhan lapangan kerja tahunan sebesar 6,7 persen (1988-93) cukup mendekati sasaran BAPPENAS dalam Repelita V.
Dalam tulisan ini akan dibahas akibat dari perubahan strategi industrialisasi tersebut terhadap pola kesempatan kerja bagi wanita perkotaan di Indonesia dengan acuan khusus pada pekerjaan wanita di sektor informal. Sejauh ini banyak acuan tentang jumlah pekerja wanita dalam berbagai kegiatan di sektor informal mendasarkan pada kajian Hidayat tentang kota-kota besar di Jawa pada tahun 1978.2 Dengan terbitnya data BPS tahun 1990, kiranya tepat saatnya untuk memperbarui taksiran tentang jumlah, peran dan keadaan wanita di sektor informal. Namun karena keterbatasan tertentu dalam analisa makro, studi kasus kualitatif tentang masalah wanita di sektor ini tetap sangat diperlukan, mengingat pentingnya sektor informal bagi strategi bertahan hidup dari kaum wanita dan kelalaian para pembuat kebijakan perencana pembangunan dalam memperhatikan masalah tersebut.3 Setelah membahas kecenderungan proses urbanisasi Indonesia baru-baru ini dan secara singkat menguraikan masalah sektor informal, tulisan ini akan membatasi lingkupnya, yakni posisi wanita dalam pasar tenaga kerja perkotaan. Setelah memberikan gambaran umum tentang angkatan kerja wanita perkotaan dan wanita yang bekerja di sektor informal di sini coba disusun beberapa kecenderungan kesempatan kerja bagi wanita perkotaan di sektor informal. Kecenderungan dan taksiran ini tetap perlu dilihat secara hati-hati.
Transformasi Perkotaan
Keterkaitan antara globalisasi industri dan ekonomi internasional juga mempengaruhi pola perluasan perkotaan. Perluasan dan pengalihan industri dari Negeri-negeri Industri Baru (NIC’S) ke Indonesia menghasilkan pertumbuhan kawasan industri dan ‘kota baru’ di sekitar kota-kota besar. Daerah di pinggir jalan raya mulai memperlihatkan ‘percampuran’ kegiatan sosial ekonomi perkotaan dan pedesaan.4
Dengan menyaring banyak perubahan utama yang terjadi selama beberapa dasawarsa, McGee5 menjelaskan sejarah ekonomi kota-kota Asia Tenggara. Selama 1980-an ke atas ia memprakirakan empat kecenderungan. Pertama, dalam banyak negeri ASEAN tingkat urbanisasinya menjelang tahun 2021 akan mencapai 50 persen. Kedua, munculnya berbagai wilayah urbanisasi yang meluas di luar pusat kota, seperti Jabotabek, Greater Manila dan Greater Bangkok. Ketiga, kecenderungan kegiatan ekonomi dari suatu kota menyebar luas melampaui batas-batas nasional, seperti munculnya ‘segitiga pertumbuhan’ antara Singapura, Johor dan kepulauan Riau. Keempat, suatu pertumbuhan cepat tenaga kerja non-pertanian dan perluasan urbanisasi yang mempengaruhi wilayah-wilayah yang sangat luas. Perluasan ini menjelaskan proses urbanisasi di Asia Tenggara yang lebih berdasarkan wilayah daripada berdasarkan kota.6 Sementara itu menurut Sensus 1990 rata-rata pertumbuhan seluruh penduduk perkotaan lebih dari 5,3% per tahun, dari 33 juta (1980) menjadi 55 juta (1990). Di pihak lain, penduduk pedesaan tumbuh hanya 0,8% per tahun.7
1 Kantor Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup (KLH) bekerjasama dengan Biro Pusat Statistik, Keadaan Pekerja Informal di Indonesia 1980-1985, Jakarta: BPS, tanpa tahun; Biro Pusat Statistik Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia, Sakernas Jakarta: BPS, 1990.
2 Hidayat, “Wanita dan Sektor Informal: Peranan dan Permasalahannya”, makalah yang ditampilkan pada Seminar Industrialisasi dan Masalah Tenaga Kerja Wanita, Jakarta, 20-27 Desember 1982.
3 Beberapa penerbitan terakhir memberikan informasi tentang soal ini termasuk kajian Murray tentang pedagang kaki lima wanita dan pelacur di Jakarta (Alison Murray, No Money No Honey: A Study of Street Traders and Prostitutes in Jakarta, Singapura: Oxford University, 1991); dan kajian Jellinek tentang sejarah salah satu ‘kampung perkotaan’ di Jakarta (Lea Jellinek, The Wheel of Fortune: The History of Poor Community in Jakarta, Hawaii: University of Hawaii Press, 1991).
4 Tommy Firman, “Some Thoughts on Urban Development Policy” Prisma 51, Jakarta: LP3ES, 1991, hal. 17-22.
5 Terrence G. McGee, “Southeast Asian Urbanization: Three Decades of Change”, Prisma 51, Jakarta: LP3ES, 1991, hal. 3-16.
6 Ibid, hal. 14-15.
7 BPS, Penduduk Indonesia: Hasil Sensus Penduduk 1990, Jakarta: 1990, Tabel 1.1. dan 1.2., hal. 12-13.