Prisma

Feminisme Pascamoderenis

Feminisme menawarkan kritik radikal terhadap patriarki, genderisme dan seksisme; pascamoderenisme menentang narasi besar, universalisme, pensisteman, dan pentotalan masyarakat. Walaupun basis epistemologi keduanya berbeda tapi dalam praktek feminisme mutakhir, beberapa metoda dan pendirian utama pascamoderenis bisa berguna demi ‘studi perbandingan’ yang mampu menangani masalah perempuan melalui teknik dekonstruksi serta penyusunan strategi kuasa yang menekankan pada kelokalan, kemajemukan serta keunikan historis setiap masyarakat.

KATA ‘pascamoderen’ telah dipakai dalam banyak fenomena kebudayaan seperti sastra, seni, arsitektur, fotografi, film, dan lain-lain. Dalam bidang arsitektur, Charles Jencks, seorang arsitek pascamoderenis, menyatakan bahwa arsitektur moderen telah mati pada tanggal 15 Juli 1972, ketika beberapa blok perumahan St. Louis Pruitt-Igoe (yang dibangun Minoru Yamasaki, 1950) diledakkan. Peristiwa itu disiarkan dalam berita televisi dan mendapat perhatian besar masyarakat. Jencks mengusulkan agar arsitektur dilihat dari dua arah sekaligus: “arah tradisional dengan makna etnis tertentu dan arah perubahan pesat mode dan profesionalisme.”1 Dia menekankan kodifikasi plural, perpaduan antara gaya bangunan tradisional dengan moderen. Dalam film, Fredric Jameson menunjuk Star Wars sebagai salah satu film pascamoderen, yang merupakan cerita lama (nostalgia) dengan tema masa depan yang diungkapkan lewat kondisi kekinian, memperlihatkan ketaktetapan waktu sejarah.

Karya-karya film dan arsitektur tersebut memang memperlihatkan adanya disorientasi waktu, pencampuradukan identitas. Seni pascamoderen banyak mengungkapkan ketakberaturan (disform). Dalam musik rock ada semacam pembongkaran dan mempertanyakannya kembali hal-hal mapan. Ini berbeda dengan seni moderen yang sarat keseragaman bentuk dan identitas. Dalam karya sastra yang amat dikenal antara lain Umberto Eco, The Name of The Rose.2 dan John Fowles, A Maggot.3 Eco menyajikan suatu ‘teks terbuka’ (an open text), di mana penafsiran atas novelnya dapat beragam. Strukturnya pun memperlihatkan, di satu sisi, menonjolkan alur cerita yang kuat, cerita ditektif; di sisi lain, menampilkan semiologi yang kuat. Fowles lebih menekankan masalah ‘sentralisme’ (centrisms). Dengan menonjolkan konfrontasi perempuan terhadap laki-laki, Fowles menempatkan perdebatan genderisme sebagai jantung novelnya. Rebecca, tokoh novelnya, harus mengalami betapa dia tidak dapat dimengerti hanya karena tidak menggunakan bahasa laki-laki yang diterima masyarakat: “Hanya karena alfabet saya berbeda, saya tidak dipentingkan untuk didengar.”4

Karya-karya seni pascamoderen mempertanyakan segala sesuatu yang dianggap struktur sentral, entah soal agama yang dianggap sebagai kebenaran mutlak (seperti di dalam novel Eco) ataupun laki-laki yang menganggap diri sebagai patokan manusia (seperti dalam novel Fowles). Kodifikasi plural menjadi penting, karena memang tidak ada pemikiran yang berdasarkan homologi (sistem pemikiran tunggal), ataupun grand narrative, (‘cerita besar,’ apakah itu agama, laki-laki, ideologi, dan lain-lain) yang menganggap diri mampu secara menyeluruh menjelaskan segala aspek kehidupan masyarakat. Pentotalan sistem berpikir adalah musuh pascamoderenisme. Pascamoderen, sebaliknya, lebih berpaling pada marjinalitas, eks-sentralisme dan perbedaan.n^5n^

Bagi kaum feminis, eks-sentralisme semacam ini memungkinkan perempuan mengungkapkan logikanya sendiri, perspektifnya sendiri dan mengkonstitusikan wacananya (discourse) sendiri. Manakala dipertanyakan homogenitas dan homologi, pada saat itu pun diragukan sistem berpikir yang ada dan yang selama ini dianggap kebenaran, termasuk sistem berpikir patriarkhal.

Feminisme dan pascamoderenisme pada akhir abad ini, terutama di Barat, dapat dikatakan merupakan aliran penting politik-budaya. Keduanya mengajukan kritik terhadap berbagai paradigma mapan. Keduanya telah menjabarkan perspektif kritis dalam bidang-bidang yang lebih luas, seperti filsafat dan kebudayaan. Namun, di satu pihak, para teoritisi pascamoderen lebih memfokuskan diri pada permasalahan filsafat. Kritik mereka terhadap perspektif metafisis dimulai dengan mengelaborasi paham anti-fondasi, yang pada gilirannya sampai pada kesimpulan tentang bentuk dan watak kritisisme sosial. Sedangkan bagi feminisme, di lain pihak, berbagai pertanyaan filosofis merupakan masalah sekunder dibandingkan kepentingan kritisisme sosial. Mereka memulai dengan mengembangkan perspektif kritis politis, yang pada gilirannya sampai pada kesimpulan status filsafat.

Tentu saja, kedua aliran tersebut mempunyai kelemahan maupun kekuatannya masing-masing. Dalam mengkritik fondasionalisme dan esensialisme metafisis, pascamoderenisme menawarkan alat canggih dan sangat persuasif, namun kritisisme sosialnya tidak bertenaga. Sebaliknya, feminisme menawarkan konsep kritisisme sosial yang kuat, tetapi mereka seringkali jatuh pada fondasionalisme dan esensialisme.

Interaksi feminisme dengan pascamoderenisme, menurut saya, akan saling menghasilkan kritik yang bermanfaat. Refleksi pascamoderenis terhadap teori-teori feminisme dapat menelanjangi bagian-bagian yang mengandung fondasionalisme dan esensialisme. Di sini, saya coba memakai perangkat pascamoderenisme ke dalam teori feminis, sambil menjelajahi kemungkinan perspektif feminisme pascamoderenis.


1 Charles A. Jencks, The Language of Postmodern Architecture (New York: Rizzoli, 1977), hal. 97.

2 Umberto Eco, The name of The Rose (Great Britain: Picador, 1984).

3 John Fowles, A Maggot (London: Routledge, 1986).

4 Ibid., hal. 313, 379. n^5n^ Linda Hutcheon “The Post-moderen Excentric,” dalam Linda Kauffman (ed.), Feminism & Institutions (London: Basil Blackwell), hal. 149.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan