Persilangan pendapat tentang kemiskinan akhir-akhir ini sebenarnya hanyalah pengulangan polemik lagu lama “kemiskinan”. Nyanyian ini bergema di mana-mana, disenandungkan oleh banyak orang dalam berbagai kesempatan, setelah BAPPENAS mengedarkan “lagu sedih” kemiskinan dalam versi baru. Menggunakan data Susenas 1990, disusun peta kantung kemiskinan di Indonesia. Wujudnya adalah penetapan 1.236 kecamatan miskin di seluruh provinsi. Peringkat teratas sampai terbawah dalam jumlah kecamatan miskin diberikan. Alhasil polemik dan pertentangan pendapat tentang kemiskinan mengudara dengan nada tinggi pada awal masa bakti Kabinet Pembangunan VI.
Sebagai persoalan lama namun senantiasa relevan dengan situasi sekarang, kemiskinan tetap menjadi perhatian kita. Orang bisa berbeda pendapat dengan orang lain bila melihat kemiskinan karena menggunakan alat ukur dan kriteria yang berlainan. Penentuan desa miskin atau tidak, misalnya, berbeda jumlah variabelnya untuk desa di pedesaan dan desa di perkotaan. Batas garis kemiskinan antara desa dan kota pun berlainan, karena perbedaan nilai pengeluaran untuk mencukupi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan. Secara kuantitatif upaya pengentasan kemiskinan, menurut data Susenas 1990, dapat dinilai sebagai menunjukkan kemajuan. Bila tahun 1976 terdapat 40,08 persen penduduk miskin maka tahun 1990 tinggal 15,08 persen, atau dari 54,2 juta menjadi 27,2 juta penduduk miskin.
Batas kemiskinan yang dipatok untuk memilah-milah penduduk Indonesia ke dalam kategori miskin dan tidak miskin senantiasa direvisi setiap 3 tahun. Dengan dasar pengalaman perubahan tahun-tahun sebelumnya, maka mungkin saja batas garis kemiskinan tahun 1993 dapat ditingkatkan menjadi Rp 24.000/kapita/bulan (kota) dan Rp 16.000/kapita/bulan (desa), sesuai dengan perkembangan harga barang-barang konsumsi. Namun apa artinya rata-rata pengeluaran setiap hari Rp 800 penduduk kota dan Rp 500 penduduk desa? Kualitas gizi makanan seperti apa yang dapat disantap dengan pengeluaran di bawah Rp 1.000 setiap hari? Kondisi perumahan, bahan bakar, sandang, pendidikan, kesehatan dan transpor seperti apa lagi yang dapat dibiayai dengan pengeluaran sekecil itu? Sungguh, kualitas kehidupan yang memilukan hati. Barangkali kondisinya sangat tidak manusiawi atau di bawah standar kemanusiaan.
Memang sebagian terbesar penduduk miskin hidup di sektor pertanian. Pilihan Prisma untuk mengangkat kemiskinan dan upaya penanggulangannya ini dikaitkan dengan program Departemen Pertanian yang tidak terlepas dari keberadaan penduduk miskin di pedesaan. Pengentasan kemiskinan sebenarnya tidak berhenti pada pemikiran konsepsional, melainkan harus terwujud dalam program nyata. Untuk itu perlu didengar ratapan si miskin: “Saya lapar dan Anda membentuk panitia yang meneliti kelaparan; saya tak punya rumah dan Anda menyimpan laporan tentang keadaan buruk saya; saya sakit dan Anda menyelenggarakan seminar tentang situasi kurangmampuan saya; Anda meneliti seluruh aspek keadaan buruk saya, tetapi saya tetap lapar, tak punya rumah dan sakit.”
Ini suara si miskin yang terus bersenandung sampai kapan pun. Rintihan mereka patut didengar.
________________________________________________________________________________________________________________
Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Pemasaran/Distribusi: Anda Z. Noerzy, M. Sholeh; Iklan: Arys Sutarman; Produksi: Bambang Soetedjo, Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto
Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon: 5663525, 5663527 (direct), 5667139, 5667141, 56674211; Fax: 5683785; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11420. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Cabang S. Parman, Nomor Rekening 14.00210.2.003, Pencetak: PT. Temprint.