Prisma

Menembus Blok Dagang

Format tata perekonomian dunia kini diwarnai oleh munculnya blok-blok perdagangan, baik yang beranggotakan negara kuat, sedang maupun lemah dan kecil. Pengelompokan di bidang perdagangan, Pasar Tunggal Eropa, NAFTA dan AFTA, merupakan kecenderungan baru pada akhir abad XX dan akan terus berlanjut pada awal abad XXI mendatang. Era blok-blok pertahanan militer setelah Perang Dunia II mulai susut dengan ambruknya negara USSR dan ambrolnya ideologi komunisme di sebagian besar negara-negara Eropa Timur. Situasi dan lingkungan politik dunia seperti inilah yang melingkupi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya.

Selain runtuhnya negara-negara berpaham ideologi komunisme, dunia juga mencatat perkembangan baru, seperti lahirnya negara-negara industri baru di Asia Timur dan Pasifik. Jepang, misalnya, dari negara yang kalah perang pada tahun 1945, kini telah lahir menjadi negara maju, yang mampu bersaing bahkan menandingi negara donornya – AS. Di Asia Timur kini muncul kekuatan ekonomi baru, selain Jepang, yaitu Korea Selatan, Taiwan dan Hongkong. Sedangkan di Asia Tenggara negara yang kuat ekonominya adalah Singapura. Di Asia Timur pun muncul ikatan ekonomi regional yang makin kuat.

Bagi Indonesia lingkungan ekonomi/perdagangan seperti itu merupakan suatu hal yang mesti dihadapi. Banyak rintangan baik tarif maupun nontarif yang menghadang produk ekspor Indonesia ke kawasan blok perdagangan tersebut. Pengenaan bea masuk terhadap produk ekspor Indonesia juga akan diterima oleh negara pesaing kita. Dalam hal ini kiat menembus blok perdagangan bisa berupa peningkatan daya saing yang lebih solid. Sedangkan rintangan nontarif yang tertuju pada produk ekspor Indonesia perlu dicarikan jalan keluarnya sehingga kita tidak akan mengalami nasib buruk.

Beberapa komoditi ekspor andalan Indonesia kini memang mendapat tekanan dari berbagai negara. Terhadap produk kayu lapis dari luar, negara-negara Eropa menerapkan kebijakan ecolabelling, sebagai hasil kesepakatan KTT Bumi, guna menjaga kelestarian hutan tropis dan lingkungan hidup. Selain cerdik menghadapi tekanan mereka, dalam hal ini kita perlu lincah dan gesit mencari pasar baru untuk komoditi kayu lapis Indonesia. Ancaman pencabutan fasilitas GSP (Generalized System of Preferences) oleh AS terhadap produk ekspor kita, karena kaitan persoalan perburuhan di Indonesia, juga perlu dicarikan solusi. Lobbi agar AS mau memperpanjang GSP untuk Indonesia perlu dilakukan terus, selain mencari pasar baru untuk mengkompensasikan hal buruk yang mungkin bakal terjadi

Mencari peluang pasar baru merupakan langkah yang patut ditingkatkan, mengiringi langkah mempertahankan dan meningkatkan kemampuan menembus pasar lama yang kini cenderung lebih proteksionis. Persoalan ini perlu menjadi perhatian kita bersama.

____________________________________________________________________

Pemimpin Umum: Arselan Harahap; Pemimpin Redaksi: Ismid Hadad; Dewan Redaksi: Daniel Dhakidae (Ketua), Taufik Abdullah, Ismid Hadad, Dawam Rahardjo, Aswab Mahasin, Rizal Ramli, Didik J. Rachbini, Vedi R. Hadiz, Paulus Widiyanto; Redaktur Pelaksana: Paulus Widiyanto; Staf Redaksi: E. Dwi Arya Wisesa, Harry Wibowo; Sekretaris Redaksi: Eriko Sustia; Pemimpin Perusahaan: Maruto MD; Wakil Pemimpin Perusahaan: Arys Sutarman; Pemasaran/Distribusi: Anda Z. Noerzy, M. Sholeh; Iklan: Arys Sutarman; Produksi: Bambang Soetedjo, Awan Dewangga, Yahya Sukaria, Idjas Saham, Teguh Supriyanto

Penerbit: PT Pustaka LP3ES Indonesia, Anggota SPS. ISSN 0301-6269. SIUPP: No. 072/SK/MENPEN/ SIUPP/D.I/1986, 4 Maret 1986. Alamat: Jl. S. Parman 81, Jakarta 11420; Telepon Redaksi: 5663525; Pemasaran/Iklan: 5663527; Umum: 5667139, 5667141, 5674211; Fax: (021) 5683785; Kotak Pos 6275/11062, Jakarta 11420. Bank: BUKOPIN, Cabang S. Parman, Jakarta; Nomor Rekening: 14.0010.2.003; Pencetak: PT. Temprint.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan