Prisma

Kebangkitan Ekonomi Asia Timur

Satu atau Banyak Keajaiban?

Kejayaan ekonomi Jepang dua dasawarsa yang lalu serta keberhasilan industrialisasi Empat Naga Asia lainnya dalam dasawarsa 80-an merupakan hasil ekspansi struktur organisasi produksi Jepang dengan sistem subkontrakan yang berlapis-lapis. Krisis ekonomi dunia pun mendorong ekspansi modal ke luar perbatasan dan pada gilirannya membuat bentuk ekspansi yang khas Jepang itu jauh lebih unggul daripada bentuk ekspansi kapitalis transnasional lainnya. Tetapi di masa datang, lonjakan penanaman modal asing Jepang dan aliran modal dari para Naga pengikutnya ke negeri-negeri Asia lain belum tentu menghasilkan pola yang sama.

Berbagai Fakta

Membicarakan “keajaiban ekonomi” Asia Timur, baik langsung maupun tidak langsung, kita merujuk pada dua fakta. Pertama, pada kebangkitan beberapa pusat akumulasi modal baru di Asia Timur. Dalam hal penguasaan sumber daya dunia, pusat-pusat akumulasi ini telah berhasil menempatkan diri pada posisi yang dulu cuma dinikmati oleh negeri-negeri yang lebih kaya dalam ekonomi dunia kapitalis ini. Kedua, kita merujuk pada kenyataan bahwa phenomenon Asia Timur ini bersifat luar biasa, bahkan bisa disebut “ajaib” kalau dibandingkan dengan lokasi-lokasi yang berpendapatan rendah dan menengah lainnya dalam perekonomian dunia. Lain dengan nasib beberapa negeri di Asia Timur yang mengalami keajaiban ekonomi, posisi negeri-negeri berpendapatan rendah dan menengah lainnya relatif cenderung merosot dibanding dengan negeri-negeri kaya tradisional.

Untuk mengukur derajat dan hakekat keajaiban ekonomi ini, kami menggunakan indikator yang sangat sederhana: persentase rasio GNP per kapita dari suatu wilayah atau yurisdiksi terhadap GNP per kapita dari organic core (inti organik) dalam perekonomian dunia. Rasio ini mengukur jurang perbedaan pendapatan yang memisahkan wilayah atau yurisdiksi (negara)1n^1n^ tersebut dari inti organik, yang terdiri dari semua negeri yang selama kira-kira setengah abad ini menempati posisi paling atas dalam hirarki global kekayaan ekonomi dunia. Karena posisi tersebut, kekayaan inti organik (baik perorangan maupun kolektif) menjadi patokan yang dikejar oleh negeri-negeri lainnya.

Negeri-negeri yang termasuk dalam inti organik ini tersebar di beberapa wilayah. Yang paling tersegmentasi dari ketiga wilayah tersebut adalah Eropa Barat yang dalam hal ini mencakup Inggris, negara-negara Skandinavia, Benelux, bekas Jerman Barat, Austria, Swiss, dan Perancis. Negeri-negeri yang terletak di pinggiran sebelah barat dan selatan wilayah tersebut (Irlandia, Portugis, Spanyol, Itali, dan Yunani) tidak termasuk dalam kategori inti organik karena selama setengah abad ini mereka tidak menyumbang pada pemapanan standar kekayaan global. Yang mereka lakukan hanyalah mengejar ketinggalan mereka, dan usaha mereka sedikit banyak berhasil. Dua wilayah lainnya yang termasuk dalam kategori inti organik tidak begitu terpilah-pilah secara budaya dan yurisdiksi (negara). Yang satu adalah Amerika Utara (terdiri dari Amerika Serikat dan Kanada) dan wilayah yang satunya lagi jumlah penduduknya kecil tapi kawasannya sangat luas, mencakup Australia dan Selandia Baru.

Rasio persentase GNP per kapita suatu lokasi tertentu terhadap GNP per kapita inti organik menjadi ukuran dari yang kami sebut “penguasaan ekonomi relatif” (relative economic command) yang dimiliki lokasi tersebut. Yang kami maksud ialah penguasaan rata-rata penduduk lokasi tersebut atas berbagai sumber daya manusia dan alam yang dimiliki inti organik dibanding dengan penguasaan rata-rata penduduk inti organik atas berbagai sumber daya manusia dan alam yang dipasarkan oleh lokasi tertentu. Jadi bila kami mengatakan bahwa pada tahun 1938 GNP per kapita Jepang besarnya kira-kira seperlima (20,7%) dari GNP per kapita inti organik (lihat Tabel 1), yang kami maksud adalah rata-rata penguasaan penduduk Jepang atas berbagai sumber daya manusia dan alam inti organik lima kali lebih kecil dibanding dengan rata-rata penguasaan penduduk inti organik atas sumber daya manusia dan alam Jepang.

Rasio tersebut memang tak bisa diandalkan sebagai indikator kesejahteraan atau produktivitas penduduk suatu wilayah atau yurisdiksi (negara) tertentu dibanding dengan kesejahteraan dan produktivitas penduduk inti organik. Tapi yang jelas rasio tersebut merupakan indikator terbaik untuk menunjukkan posisi suatu wilayah atau yurisdiksi dalam hirarki kekayaan ekonomi dunia. Dalam artikel ini kami tidak akan membahas hubungan posisi tersebut dengan tingkat kesejahteraan dan produktivitas penduduk setempat.

Sekarang kita kaji beberapa indikator dalam Tabel 1. Angka-angka tersebut merujuk ke seluruh yurisdiksi Asia Timur dan Asia Tenggara yang memiliki data yang bisa diperbandingkan serta seluruh wilayah Asia Selatan. Hanya Taiwan yang tidak memiliki data yang betul-betul bisa diperbandingkan. Tabel 1 juga memberikan data tentang angka persentase (di dalam kurung) penduduk setempat terhadap jumlah total penduduk inti organik. Jadi indikator utama dalam tabel tersebut mengukur kemampuan relatif penguasaan ekonomi suatu lokasi dan perubahannya dalam jangka waktu tertentu, dan indikator di dalam kurung mengukur besarnya penduduk (secara relatif) dalam lokasi tersebut.

Tabel ini memberikan gambaran yang gamblang tentang hakekat dan jangkauan keajaiban ekonomi Asia Timur. Yang pertama kali harus ditekankan bahwa keajaiban Asia Timur adalah keajaiban Jepang. Indikator utama dalam Tabel 1 menunjukkan besarnya jurang ekonomi yang telah berhasil ditutup oleh Jepang, dan kecepatan Jepang yang luar biasa.


1 Negara (state) di sini dibedakan dengan negeri (country). State adalah sebuah konsep politik yang menekankan pada hubungan kelembagaan dan yurisdiksi (hukum) dalam suatu kawasan tertentu; sedangkan country adalah suatu konsep ruang-sosial (sosio-geografis) yang mengacu pada segi demografis (kependudukan) dan sumber daya alam, (Redaksi).

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan