Sebuah Tinjauan Ulang*
Bertentangan dengan tesis Hayami dan Kikuchi yang menyatakan bahwa sebagai akibat tekanan penduduk atas sumber-sumber lahan pertanian, perubahan hubungan sosial produksi dan upah nyata akan menyesuaikan diri dalam keseimbangan pasar tenaga kerja pedesaan. Penelitian pada dua wilayah pedesaan di Jawa Barat ini justru menunjukkan bahwa perubahan tersebut sangat dipengaruhi oleh kekuatan tawar menawar relatif dari buruh tani terhadap petani atau pemilik sawah. Tentu, hasil perjuangan tidak ditentukan oleh satu faktor ekonomi belaka, melainkan oleh berbagai faktor historis yang khas.
Salah satu buku paling berpengaruh tentang perubahan perubahan pertanian di Asia, yang muncul kira-kira satu dasawarsa yang lalu ialah karya Yujiro Hayami dan Masao Kikuchi, Asian Village Economy at the Crossroads (1981).1^$1^n$^ Berdasarkan penelitian lapangan di Filipina dan dua desa di kabupaten Subang, Jawa Barat, buku tersebut menyatakan bahwa tekanan penduduk atas sumber lahan yang terbatas merupakan penentu utama perubahan hubungan produksi dan karenanya juga penentu distribusi pendapatan pertanian di pedesaan Asia.
Sebelas tahun setelah Hayami dan Kikuchi menyelesaikan penelitian lapangannya di pedesaan Subang, saya kembali ke lokasi yang sama untuk melakukan suatu survai baru*. Motivasi awal menempatkan wilayah pedesaan ini dalam satu kajian baru bukanlah untuk menguji hipotesa utama dalam Asian Village Economy, tapi justru diharapkan data yang berhasil dikumpulkan Hayami dan Kikuchi dapat menjadi dasar informasi yang berguna bagi analisis longitudinal terhadap proses perubahan agraria. Tapi ternyata setelah pengamatan beberapa bulan di Subang Utara dan Selatan,2^$2^n$^ semakin nyata bahwa pendekatan yang dipakai dalam Asian Village Economy merupakan penyederhanaan berlebihan atas proses perubahan agraria di pedesaan tersebut.
* Diterjemahkan oleh I Gusti Agung Putri dan diperiksa ulang oleh penulisnya serta disunting oleh Harry Wibowo.
1 Yujiro Hayami dan Masao Kikuchi, Asian Village Economy at the Crossroads (Tokyo: University of Tokyo Press, 1981).
2 Subang Utara dan Subang Selatan merupakan nama yang diberikan Hayami dan Kikuchi. Sebutan ini tetap dipergunakan dalam esai ini untuk memudahkan perbandingan hasil-hasil yang dimuat dalam Asian Village Economy dengan hasil-hasil yang dimuat dalam esai ini. Sedangkan nama-nama petaninya disamarkan.