Prisma

Dunia Ketiga Yang Penuh Paradoks

J.E. Goldthorpe, Sosiologi Dunia Ketiga; Kesenjangan dan Pembangunan (Alih Bahasa: Sukadijo), Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, 1992, xii + 532.

Adanya orang kaya dan orang miskin, dalam artian ekonomi, mulai muncul dalam kehidupan manusia bersamaan dengan timbulnya sistem hak milik atas sumber-sumber daya ekonomi. Namun demikian, perbedaan kaya miskin dalam permulaan peradaban tersebut tidak begitu senjang seperti pada zaman “moderen” ini. Pada permulaan peradaban itu, pertama, sebagian besar orang masih memiliki akses dan kontrol pada sumber-sumber daya ekonomi, karena pertumbuhan penduduk belum begitu tinggi, sehingga ratio antara jumlah penduduk dengan sumber-sumber daya ekonomi, karena pertumbuhan penduduk dengan sumber-sumber daya ekonomi yang tersedia pada lingkungan alam boleh dikatakan masih seimbang. Kedua, belum terciptanya teknologi mekanik yang memiliki daya dan kapasitas besar untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi sumber-sumber daya ekonomi menjadi komoditi yang dapat diperjualbelikan; dengan kata lain, cara produksi untuk menghasilkan barang-barang ekonomi pada permulaan peradaban itu sebagian besar dipergunakan langsung untuk keperluan konsumsi (production-for-use economy) ketimbang diprioritaskan untuk keperluan pertukaran dalam pasar ekonomi (production-for-exchange economy).

Pendekatan Gerhard Lenski dalam bukunya Power and Privelege: A Theory of Social Stratification (Ne York: McGraw-Hill, 1966), mungkin dapat menjelaskan timbulnya perbedaan antara orang kaya dengan orang miskin ini. Menurut Lenski, kemajuan teknologi telah mendorong peningkatan produktivitas ekonomi. Pada gilirannya peningkatan produktivitas ini mengakibatkan terjadinya surplus ekonomi. Sementara itu, menurut Lenski, manusia adalah makhluk yang mementingkan diri sendiri dan selalu berusaha untuk mensejahterakan dirinya. Individu akan berperilaku menurut kepentingan pribadi dan akan bekerja sama dengan sesamanya apabila terkait dengan kepentingannya. Sebaliknya juga, individu akan saling berebut dengan sesamanya jika melihat kesempatan yang terbuka untuk mewujudkan kepentingannya. Akibat terjadinya surplus, maka kondisi tersebut kemudian membuka peluang dan kesempatan pada individu-individu yang dalam dirinya melekat (inherent) kehendak untuk memiliki sesuatu yang lebih daripada yang lain, untuk saling berebut menguasai surplus. Disebutkan oleh Lenski, bahwa manusia mempunyai kemampuan yang tidak sama dalam mencapai keinginannya; dalam konteks ketidaksamaan kemampuan inilah, maka siapa yang memiliki kemampuan lebih akan lebih banyak menguasai, sementara yang kemampuannya tidak begitu besar akan mendapatkan bagian yang lebih sedikit dari surplus ekonomi tersebut.

Dalam teori Lenski surplus produksi ekonomilah yang menyebabkan berkembangnya stratifikasi sosial-ekonomi. Semakin besar surplus, semakin besar pula stratifikasi yang terjadi. Menurut Lenski, besarnya surplus ini ditentukan oleh daya dan kapasitas teknologi yang dimiliki oleh suatu masyarakat. Dengan kata lain, ada hubungan erat antara derajat perkembangan teknologi dan derajat stratifikasi sosial-ekonomi.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan