Dalam kapitalisme mutakhir kini wajah dunia tak lebih dari sebuah parodi di mana logosentrisme dijungkirbalikkan melalui representasi estetisnya. Semua hal, manusia dan seni semakin menjadi komoditi. Yang normal disubversi oleh abnormalitas, dan yang abnormal dinormalisasikan. Tak terbedakan lagi antara kenyataan dan penampakan. Keduanya bersimulasi dalam apa yang disebut estetika penyimpangan.
Dunia tak lebih dari sebuah parodi. Segala sesuatu yang tampak di dunia ini, pada hakekatnya tak lebih dari ‘parodi’ atau sindiran sesuatu terhadap lainnya. Demikian kata George Bataille — seorang pemikir Perancis — di dalam artikelnya Solar Anus.1 Bataille, lebih lanjut, menjelaskan secara puitis.
Setiap orang menyadari bahwa hidup tak lebih dari parodi dan karena miskinnya akan interpretasi Perunggu parodi dari emas Udara parodi dari air Otak parodi dari katulistiwa Koitus parodi dari kejahatan.2
Bataille memang suka membuat banyak parodi dan analogi di dalam berbagai tulisannya. Ia menganalogikan bumi sebagai tubuh, seperti halnya gunung berapi sebagai anus. Gunung berapi, sebagaimana halnya anus selalu mengeluarkan benda-benda yang tak sedap, yang dapat menyuburkan tanaman, meskipun tak pernah ‘makan’ apapun. Pernyataan Bataille, sebenarnya tidaklah sekedar pernyataan retorika, namun merupakan sebuah pernyataan filosofis.
Mulalui berbagai bentuk parodi dan analogi tersebut, seolah-olah Bataille ingin mengatakan, bahwa segala sesuatu di dunia ini — terutama dalam sistem bahasa — eksis disebabkan semata-mata oleh prinsip ‘pembedaan’ (difference). Perunggu/emas, udara/air, koitus/kejahatan; semuanya tak lebih dari satu rangkaian dalam sistem pembedaan dalam bahasa, yang merupakan salah satu kunci dari filsafat bahasa strukturalisme yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure di dalam Course in General Linguistics.3
Melalui pelbagai bentuk parodi dan analogi tersebut, Bataille secara implisit, juga ingin mengatakan, bahwa dunia dengan segala aspek kebudayaannya — materi maupun non materi — dibentuk berdasarkan pada satu sistem, yang disebut dengan sistem ‘oposisi duaan’ (binari-opposition), yaitu sistem yang terbentuk dari dua unsur saling bertentangan, namun saling memberi keseimbangan, saling mengisi, bersifat tertutup, pasti dan tidak berubah, baik dalam sistem geofisika, genus, filsafat, maupun bahasa. Dunia eksis disebabkan adanya dua unsur yang saling bertolak belakang, saling memparodi: elektron/proton, kutub utara/selatan, pria/wanita, sebagaimana bahasa eksis disebabkan kata ‘siang’ artinya ‘bukan malam’, dan kata ‘malam’ artinya ‘bukan siang’. Dunia eksis disebabkan elektron memparodi proton, sebagaimana halnya kata api (matahari) memparodi air.
Melalui pernyataan ini, seolah-olah Bataille merupakan pendukung yang kental dari kecenderungan ‘logosentrisme’ dalam filsafat Barat, yaitu label filsafat — yang dikritik dan sekaligus dipopulerkan oleh Jacques Derrida — yang menyatakan, bahwa kebenaran di dunia ini semata merupakan hasil logis dari adanya dua unsur yang bersifat ‘oposisi biner’, yang merupakan ‘alibi’ dari yang lainnya, yang satu dianggap superior dari yang lainnya: jiwa itu bersifat transdental dan ‘benar’, buktinya ada badan yang mempunyai wujud kasat mata dan ‘menyesatkan’; pria itu ada dan memiliki kuasa (power), buktinya ada wanita yang bersifat ‘lemah’.
Namun, untunglah Bataille menambahkan, bahwa sesuatu tidak hanya merupakan parodi dari sesuatu lainnya, akan tetapi bisa juga merupakan parodi dari dirinya sendiri.4 Sesuatu itu bisa merupakan parodi dari dirinya sendiri tatkala ia mengubah dirinya menjadi bentuk-bentuk yang menyimpang dari identitasnya sendiri. Dalam hal ini, polisi parodi dari polisi, pendidikan parodi dari pendidikan, seni parodi dari seni.
Bataille, dalam hal ini melihat, bahwa ada berbagai kemungkinan interupsi yang dapat mengusik sistem keseimbangan geofisika, genus, filosofis, bahasa, maupun seni. Interupsi tersebut adalah dalam bentuk parodi atau pelanggaran hukum-hukum, yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan dalam suatu sistem. Penipisan lapisan ozon dapat mengganggu sistem keseimbangan planet bumi, sebagaimana halnya penggunaan obat bius dapat mengganggu sistem keseimbangan psikis. Penyimpangan seksual dapat mengganggu sistem keseimbangan genus, sebagaimana halnya pemutarbalikan susunan kata dapat mengganggu sistem konvensi bahasa. Interupsi ini, akan dapat membawa pada berbagai perubahan, yang tak terduga dan kadang-kadang bersifat radikal.
1 Lihat George Bataille, The Visions of Excess: Selected Writtings, 1927-1939, University of Minnesota Press, Minneapolis, USA, 1985, hal. 5.
2 Ibid.
3 Lihat Ferdinan de Saussure, Course in General Linguistics, Duckworth, London, 1990, hal. 113. Saussure di dalam bukunya lebih jauh menjelaskan, bahwa bahasa tidak lebih dari sebuah sistem (dan struktur) di mana semua unsur-unsur yang membentuknya bersesuaian satu sama lain, dan nilai satu unsur sangat ditentukan oleh kehadiran unsur-unsur lain secara simultan (serentak).
4 Bataille, Visions of Excess, op.cit.