Prisma

Teori | Dua Paradigma Pembangunan*

Perspektif Islam

Paradigma pembangunan sekularistik telah berhasil mengangkat martabat fisik material manusia. Paradigma yang bertengger di atas peradaban moderen telah menumbuhkan egoisme dan arogansi manusia. Dimana letak agama dalam sitauasi tersebut? Apakah agama memiliki ajaran atau doktrin tentang pembangunan? Tulisan ini ingin menguraikan beberapa kerangka teori di sekitar pembangunan.

Apakah agama memiliki ajaran atau doktrin tentang pembangunan? Jika ada, di mana terdapat bukti empirisnya? Inilah pertanyaan mendasar yang selalu muncul dalam setiap kali “memperhadapkan” agama dengan pembangunan. Dalam hubungan ini, salah satu tulisan terakhir yang menganalisis hubungan tersebut ditemukan dalam karya Rajeev Dehejia dan Vivek Dehejia. Mereka berusaha membuktikan hubungan antara pemikiran keagamaan dan kegiatan ekonomi di India. Pemikiran mereka didasarkan atas pandangan filsafat agama Hindu tentang kehidupan, bahwa realitas tertinggi tidak sekedar bersifat transenden dan impersonal, tetapi juga immanent (intrinsik) dan personal. Tujuan hidup bukan hanya “moksa” atau kebebasan spiritual, tetapi yang juga sama pentingnya adalah “artha” atau kepuasan material. Karena itu, dalam tradisi bangsa India agama tidak terpisahkan dari urusan sekular masyarakat seperti kegiatan ekonomi dan politik. Dengan cara pandang ini maka pemikiran keagamaan meliputi pemikiran sosial dan politik, juga urusan agama dalam arti sempit.1

Demikianlah salah satu perspektif optimistik dalam melihat agama di tengah kehidupan yang makin transformatif di penghujung abad XX. Pemikiran optimistik merupakan salah satu arus besar dalam upaya para ilmuwan menempatkan pranata budaya moderen dalam berpacu dengan berbagai kecenderungan yang merisaukan, sebagaimana yang menjadi keprihatinan dari mainstream lainnya yang bersikap pesimistik. Mendekati abad XXI para konseptor ramalan masa depan dan ahli-ahli teori pembangunan memang makin risau terhadap kelangsungan peradaban dan kemanusiaan di masa mendatang. Tidak sedikit di antara mereka yang makin pesimistik dalam mengantisipasi perkembangan masa depan tersebut. Di pihak lain, agama (khususnya Islam) sangat membenci manusia yang bersikap pesimistik, bahkan sebaliknya mengharuskan pemeluknya agar menghadapi kehidupan ini dengan optimisme dan percaya diri.

Inilah dua paradigma pembangunan dalam arti umum, jika agama dimasukkan sebagai salah satu unsur penentu bagi tegaknya peradaban manusia. Uraian berikut bertitik tolak pada asumsi dasar tersebut.

Ada dua pokok bahasan yang akan dipaparkan. Pertama, berusaha menelusuri bagaimana teori-teori pembangunan pada umumnya dikonseptualisasikan, yaitu mempertanyakan kembali landasan filosofis dari konsep pembangunan sekularistik tersebut.

Pada bagian kedua, adalah eksplorasi tentang pembangunan yang berwawasan keagamaan (Islam)–yang juga digali dari konsep dasarnya, mulai dari hakekat manusia menurut pandangan Islam. Akhirnya, keseluruhan kajian ini ditutup dengan mengajukan beberapa kesimpulan umum yang dapat membantu pembaca untuk melakukan refleksi-kontemplasi terhadap berbagai aspek yang telah dikemukakan.

“Paradigma Pembangunan Sekularistik”

Istilah “paradigma pembangunan sekularistik,” sebagai lawan dari paradigma yang bermuatan agama, digunakan untuk memudahkan pemahaman dalam melihat dua arus besar pemikiran makro yang mendominasi discourse ilmu-ilmu sosial, sejak 1960-an sampai sekarang. Akarnya dapat dilacak jauh ke belakang, ketika filsafat positivisme memegang kendali dalam pemikiran universal.

Dalam perspektif yang lebih konkret, dapat disaksikan bagaimana perbincangan di dalam ilmu-ilmu sosial yang ditandai oleh adanya dua aliran pemikiran yang paling berpengaruh, yaitu strukturalis dan fungsionalis atau biasa disebut dengan idealis dan pragmatis. Keduanya-duanya sangat dipengaruhi oleh pemikiran filsafat positivistik yang berkembang di Barat pada abad ke-XVIII dan XIX dan mencapai puncaknya pada abad XX. Karena itu teori ini juga bersifat sekularistik. Dari sinilah lahir dua ideologi besar yang menguasai dunia, yaitu sosialisme dan kapitalisme. Sosialisme kini sedang mengalami cobaan berat, di ambang “kehancuran,” bahkan ada yang mengganggapnya mengalami kehancuran total sebagaimana yang tercermin dalam “revolusi” di negara-negara sosialis-komunis sejak empat tahun yang lalu. Bah- kan menurut Powell, Rusia sebagai bekas kampiun sosialisme-komunisme kini dihadapkan dengan masalah sosial yang cukup berat, seperti meningkatnya kriminalitas, kenakalan yang bertumpuk dan melingkar, kesehatan masyarakat yang amat buruk, sistem pemeliharaan kesehatan yang lumpuh, penyalahgunaan obat, serta ketidakpuasan dan penyimpangan lainnya.2 Begitu pula kapitalisme telah dikritik dari berbagai aspeknya, walaupun sampai saat ini ia dianggap sebagai “pemenang” dalam persaingan dengan sosialisme. Kedua-duanya tidak menganggap agama sebagai faktor penting di dalam kehidupan manusia. Inilah yang dikenal dengan sekularisasi.3


* Artikel ini merupakan revisi dari naskah ceramah, yang semula berjudul: “Pembangunan yang berwawasan kemanusiaan: Perspektif Islam” dan disampaikan di depan Kelompok Diskusi Kejang di Bilik Juma’ah Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, 17 Oktober 1993. Untuk itu saya ucapkan terimakasih atas komentar para peserta, sehingga memungkinkan saya untuk menyempurnakan uraian ini dalam bentuk seperti yang tampak saat ini.

1 Rajeev H. Dehejia dan Vivek H. Dehejia, “Religion and Economic Activity in India: An Historical Perspective” dalam American Journal of Economics and Sociology, vol.52, No.2, April 1993, hlm. 145-53.

2 David E. Powell, “Social Problems in Russia,” dalam Current History, vol.92, No.567, October 1993, hlm. 325-30.

3 Di Indonesia masalah sekularisasi sangat gencar diperdebatkan ketika Nurcholish Madjid melemparkan gagasan ini pada awal 1970-an, yang kemudian ditanggapi secara serius oleh Prof. H.M. Rasjidi. Untuk memahami konsep dasar sekularisasi lihat Harvey Cox, The Secular City, New York: MacMillan Co., Inc., 1978; juga bukunya, Religion in the Secular City, New York: Simon and Schuster, 1984.

Anda dapat membaca versi lengkap Artikel edisi ini di LP3ES-Prisma Digital format cetak maupun e-magazine.

Untuk melakukan pemesanan dapat melalui link berikut: LP3ES-Prisma Digital

Bagikan